25 Nov 2014

The Age of Miracles by Karen Thompson Walker

Judul: The Age of Miracles
Penulis: Karen Thompson Walker
Penerjemah: Cindy Kristanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013
Tebal: 337 hlm.
ISBN: 9789792294187

Sinopsis:
Tanpa ada yang tahu penyebabnya, rotasi Bumi mendadak mulai melambat. Siang dan malam semakin panjang, gravitasi berubah, lingkungan hidup jadi kacau balau.

Sambil berusaha menerima segala perubahan alam di sekililingnya, Julia juga harus menghadapi berbagai masalah lain—pernikahan orang tuanya yang retak, teman-teman lama yang meninggalkannya, kerumitan cinta pertama. Dan sementara Julia menyesuaikan diri, perlambatan rotasi Bumi terus berlanjut.

Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak memberi rating yang cukup bagus untuk buku yang hampir di setiap halamannya dihiasi rangkaian kalimat indah ini. Mungkin saat sedang membaca mood saya lagi nggak bagus. Atau, mungkin juga penyajian cerita dalam novel ini bukan cangkir teh saya. *nyengir*

Oke. Pond’s Age Miracle The Age of Miracles adalah semacam buku Young Adult yang mengandung unsur sci-fi, berkisah tentang rotasi bumi yang—perlahan namun pasti—mulai melambat. Akibatnya, hari-hari bertambah panjang, mulai dari hitungan menit hingga kemudian meningkat menjadi hitungan jam. Awalnya tak ada yang menyadarinya. Namun akhirnya orang-orang mulai sadar bahwa ada yang tidak beres dengan rotasi bumi. Para ahli bermunculan di televisi dan memberikan pendapat saintifik mereka. Perlambatan menyebabkan banyak efek yang tidak baik, bahkan membahayakan bagi makhluk bumi—di antaranya adalah gravitasi bumi yang semakin kuat (pilot pesawat terbang harus belajar lagi untuk menyesuaikan diri dengan gravitasi yang baru), terganggunya medan magnet bumi, hingga bahaya radiasi sinar ultraviolet. Jam tubuh manusia juga terganggu lantaran waktu siang dan malam menjadi panjang. Hewan-hewan mulai mati, tumbuhan mengering, stok pangan semakin berkurang.

Adalah Julia, gadis yang berusia hampir 12 tahun, yang menjadi tokoh utama cerita ini. Kisah tentang bumi yang sekarat ini dinarasikan melalui sudut pandangnya. Sebagaimana anak-anak lain seusianya, efek perlambatan sepertinya begitu membebani pikiran Julia, sangat berbeda dengan reaksi orang-orang dewasa. Yang Julia tahu adalah perlambatan ini menyebabkan kehidupan sehari-harinya menjadi kacau. Perlambatan membuat ikatan dalam keluarganya mulai goyah, persahabatannya dengan Hanna retak, namun tidak menghilangkan perasaan sukanya terhadap Seth Moreno, cowok yang diam-diam ia taksir sejak lama. Ya, The Age of Miracle adalah buku tentang gadis pra-remaja California yang merjuang menjalani hari-harinya senormal yang ia bisa, terlepas dari kondisi bumi yang semakin sekarat.

Ada unsur distopia dalam cerita ini, yaitu ketika pemerintah mulai mengatur jam sesuai dengan yang kita jalan selama ini: 1 hari = 24 jam. Ada saat di mana penduduk diharuskan untuk tidur di malam yang terang oleh sinar matahari, ada juga saat di mana murid-murid harus bersekolah di siang yang bertabur bintang. Sementara itu, orang-orang yang menganut “jam sebenarnya”, yang mengganggap siang adalah di saat matahari bersinar, dan malam adalah waktu untuk tidur panjang, mendapat perlakuan tidak adil dari sebagian besar masyarakat. Orang-orang ini terpaksa mengungsi dan membetuk sebuah koloni. Namun unsur distopia dalam buku ini oleh penulis tidak diolah menjadi sesuatu yang penuh adegan aksi. Tidak ada adegan pemberontakan atau perang ala novel-novel distopia pada umumnya. Selain dari fakta bahwa bumi melambat, cerita juga berjalan dengan lambat di mana fokus utama ceritanya tetap pada Julia dan usahanya melewati setiap hari yang berkutat pada drama keluarga, persahabatan, dan cinta pertama.

Jujur saja saya dihinggapi perasaan bosan sepanjang membaca buku ini. Padahal ekspektasi saya sudah terlampau tinggi, terutama melihat rating buku ini sangat bagus di Goodreads, sampai-sampai saya menjadikan buku ini sebagai wishlist ulang tahun saya tahun lalu (buset, tahun lalu...). Tapi apa daya, ternyata isi buku ini tak sesuai harapan saya. Ide ceritanya sangat brilian sebetulnya. Namun alur ceritanya sangat lambat. Dan sama sekali tidak terdapat adegan aksi. Well, adegan aksi mungkin tidak perlu, tapi saya berharap setidaknya ada sedikit suasana ngeri dan mencekam lantaran perlambatan rotasi bumi. Tapi berhubung cerita dikisahkan dari sudut pandang Julia yang karakternya agak-agak lempeng, saya pun jadi kurang bersimpati dengan kondisi bumi yang sebenarnya sudah sangat parah tersebut. Meski demikian, saya menyukai interaksi anatara Hanna dan Seth. Hubungan mereka cukup manis untuk diikuti. Saya sempat tertawa pada bagian ketika Julia dan Seth pergi melihat paus-paus yang terdapar di tepi pantai. Adegan tersebut sebenarnya bikin nyesek, tapi saya nggak bisa menahan tawa. Tawa miris sih sebenarnya. #teruskenapa

Secara keseluruhan, saya kurang menikmati buku ini. Tadinya mau ngasih bintang 2. Tapi berhubung kalimat-kalimatnya diterjemahkan dengan indah, ditambah ide ceritanya yang keren, saya naikin setengah lagi deh. *nanggung amat ya*

Rating:

7 komentar:

  1. yah, aku kira bagus, udah pinjem dari kang Dion nih, jadi males bacanya --

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dicoba dulu aja, Lis. Soalnya sebagian besar orang suka buku ini. Kali aja ibu peri bakal suka. Aku nggak tahan aja sama alurnya yang lambat. Juga karena ekspektasi awal udah keliru. :)

      Hapus
  2. Padahal premisnya bagus ya. Kalo ceritanya lambat ya bosen juga..

    BalasHapus

Back to top