11 Agt 2015

Heart Block - Okke Sepatumerah

Judul: Heart Block
Penulis: Okke Sepatumerah
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: III, 2010
Tebal: 316 hlm.
ISBN: 9789797803858

Sinopsis:
Cara terbaik untuk jatuh cinta adalah mencintai seolah-olah kau belum pernah terluka sebelumnya.

Senja adalah penulis sukses yang sedang berada di puncak karier. Publisitas dan ketenaran sudah di tangan, namun bahagia tak kunjung ia rasakan. Senja merasa dunia di sekitarnya menuntut terlalu banyak, menilainya dan mengomentari kekurangan serta kealpaan, seolah-olah kebahagiaan mereka terletak di kejatuhan Senja.

Tak hanya itu, dia juga menemui ketakutan terbesar: kreativitas buntu. Deadline yang kiat dekat semakin memperparah situasi. Senja pun mengambil jalan pintas yang paling gampang saat ini: menyepi dan berusaha menyelesaikan naskah. Hanya itu yang terpikir di dalam benak Senja... sampai dia bertemu seorang pelukis bernama Genta.

Genta.
Sosok yang tak pernah Senja sadari ternyata bentuk dari sesungguhnya cinta yang selama ini dia cari.

Sejak mendapat pengharagaan sebagai penulis muda berbakat di Tanah Air, nama Senja Hadiningrat melejit. Ia pun diberi kesempatan untuk memperdalam kemampuan menulisnya bersama beberapa penulis muda lain melalui program kegiatan pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh sebuah penerbit besar. Namun novel yang ditulis Senja dinilai tak cukup layak untuk diterbitkan. Novel barunya itu dianggap jelek bila dibandingkan dengan Omnibus, karya yang mengantarnya menuju panggung penghargaan.

Oleh Tasya, kakak beda ayah-beda ibunya, Senja disarankan untuk menerima tawaran dari penerbit lain yang bekerja sama dengan sebuah merk fashion sepatu perempuan. Singkatnya, Senja harus menulis novel urban yang mengandung unsur promosi produk sepatu tersebut. Karya Senja itu pun meledak di pasaran. Banyak kaum muda khususnya perempuan yang menyukai novel tersebut. Seiring dengan melejitnya karir Senja sebagai penulis, kesibukannya pun bertambah. Ia wajib mengikuti kegiatan ini-itu yang berhubungan dengan promosi, mulai dari kegiatan book signing, talk show, hingga road show di berbagai kota, yang ternyata cukup melelahkan. Dengan kesibukan yang begitu padat, waktu untuk menulis pun berkurang. Selain itu, Tasya yang kini bertindak sebagai manajer dengan seenaknya menerima berbagai macam tawaran job untuk Senja, misalnya menulis artikel untuk majalah atau menulis novel adaptasi dari film. Semua itu membuat Senja lelah dan ujung-ujungnya mengalami hal yang paling ditakutkan oleh semua penulis: writer’s block.

Belum pulih dari writer’s block, Senja didaulat untuk menjadi pionir 40 Days Project oleh chief penerbit besar yang dulu pernah mengadakan kegiatan pelatihan menulis bagi Senja. Sesuai namanya, 40 Days Project adalah proyek menulis novel selama 40 hari. Senja diminta menjadi icon untuk proyek ini dan diharapkan mampu menggugah semangat para calon penulis muda di luar sana untuk berkarya. Senja menerima proyek tersebut.

Ketegangan yang terjadi di antara Senja dan Tasya membuat Senja mengambil langkah ekstrim dengan kabur ke Ubud, Bali, disertai harapan semoga ketenangan Pulau Dewata mampu mengeluarkannya dari kungkungan ‘penyakit’ yang bernama writer’s block. Di Ubud, Senja bertemu seorang pemuda, Genta namanya. Tapi siapa sebenarnya Genta? Mengapa Senja begitu mudah akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya itu? Apakah Genta dapat membantu Senja mengatasi kebuntuan ide menulis, atau justru membuat gadis itu terdistraksi oleh kehadiran dirinya?

Sebenarnya nama Okke Sepatumerah sudah sangat familiar di telinga saya, namun faktanya saya belum pernah membaca karya tunggalnya sama sekali. Sebelumnya pernah membaca tulisan beliau dalam buku kumpulan cerita perjalanan The Journeys. Menurut saya gaya menulis Mbak Okke enak dinikmati, sehingga saya cukup penasaran untuk membaca novelnya. Akhirnya saya memilih Heart Block sebagai permulaan sebab temanya sangat menarik, yaitu tentang dunia kepenulisan.

Dalam novel ini penulis membagi pengetahuannya tentang seluk-beluk dunia tulis-menulis dan penerbitan, khususnya hal-hal non-teknis di dalamnya. Bagian ini menurut saya sangat menarik karena penulis mengemasnya melalui sebuah cerita fiksi. Akan tetapi, cerita dalam Heart Block sendiri tak terlalu membuat saya terkesan. Entah mengapa saya tak merasa berempati pada persoalan yang dihadapi Senja. Saya berusaha untuk menyukai tokoh Senja namun tak bisa. Saya juga tak menemukan chemistry di antara Senja dan Genta, sebab penulis sepertinya membuat hubungan mereka terlalu instan. Hasilnya, saya menutup novel ini dengan perasaan hambar. Saya tak peduli sama sekali pada perasaan Senja di akhir cerita. Bahkan saya nggak tau apa hubungan judul Heart Block dengan cerita. Kalimat di sinposis yang berbunyi, ‘Cara terbaik untuk jatuh cinta adalah mencintai seolah-olah kau belum pernah terluka sebelumnya,’ pun terasa nggak nyambung dengan isi ceritanya.

Namun demikian, terlepas dari jalan cerita yang kurang saya sukai, saya memperoleh banyak informasi bagus sehubungan dengan dunia tulis-menulis, dan saya sangat merekomendasikan buku ini kepada penulis pemula yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai dunia yang ingin digelutinya, beserta suka-dukanya. Menjadi penulis memang tak mudah dan akan terasa berat bila tidak benar-benar punya passion di bidang tersebut. Saat sudah menjadi penulis tenar pun banyak hal yang wajib dilakukan, misalnya yang paling umum seperti promosi melalui talkshow dan book signing. Kegiatan menulis pun menjadi terkendala oleh kurangnya waktu lantaran kesibukan. Belum lagi jika karya penulis mendapat review yang bernada negatif dari para pembaca. Tak sedikit loh penulis yang muarrah atau malah down setelah membaca review negatif. Kalau sudah begini sih, tinggal bagaimana cara penulis menyikapi semuanya dengan bijak. Ada pesan bagus dari Mbak Okke mengenai hal tersebut:

“Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang. Penikmat karya kita punya latar belakang yang berbeda-beda, pendidikan, minat, umur, gender, sosial, ekonomi, cara hidup, geografi, budaya, dan seterusnya. Hal itu membentuk pola pikir mereka dan juga memengaruhi selera mereka terhadap sesuatu.” (hlm. 209)


PS: Saat membaca novel ini saya kok jadi kepikiran sama Ilana Tan ya? Bisa gitu ya, penulis merahasiakan dirinya dan nggak peduli pada fans yang pengen banget ketemu, minta tanda tangan atau foto bareng? Enak banget jadi beliau. Kerjanya cuma menulis saja tanpa perlu repot-repot promosi, book signing, talk show dan segala macam.

2 komentar:

Back to top