4 Agt 2015

Lima Sekawan #1: Di Pulau Harta - Enid Blyton

Judul: Lima Sekawan: Di Pulau Harta
Seri: Lima Sekawan #1
Penulis: Enid Blyton
Penerjemah: Agus Setiadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: XVII, Agustus 2007
Tebal: 240 hlm
ISBN13: 9789796055890

Sinopsis:
Petualangan PERTAMA mereka yang seru dan mengasyikkan!

Ada bangkai kapal tua yang muncul di Pulai Kirrin! Tapi di manakah gerangan harta karunnya? Lima Sekawan mengikuti semua petunjuk yang ada—tapi ternyata mereka tidak sendirian! Ada orang lain yang ikut memburu harta karun…

Lima Sekawan adalah Julian, Dick, George, Anne, dan—tentu saja—Timmy! Ke mana pun mereka pergi pasti ada petualangan yang seru dan mengasyikkan! Bagaimana mereka memecahkan misteri kali ini?

Biasanya ketiga kakak-beradik Julian Dick dan Anne selalu liburan bersama dengan kedua orang tua mereka. Tapi kali ini ibu dan ayah memutuskan untuk—uhuk—liburan berdua saja ke Skotlandia, sementara anak-anak akan berlibur ke tempat Paman Quentin di Pondok Kirrin. Singkat cerita, Julian, Dick, dan Anne pun dititipkan ke Pondok Kirrin. #poorJulianDickAnne

Pondok Kirrin ternyata adalah nama yang mengecoh, sebab tempat tersebut sebenarnya adalah sebuah rumah besar. Paman Quentin adalah pria pemarah yang menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar untuk bekerja, sementara Bibi Fanny adalah wanita yang sangat menyenangkan. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Georgina. Saat pertama kali bertemu dengan Georgina, Julian-Dick-Anne merasa bahwa sepupu mereka tersebut aneh. Georgina tidak ingin dianggap sebagai anak perempuan, ia ingin diperlakukan seperti anak laki-laki. Ia bahkan menolak dipanggil dengan nama aslinya, dan hanya menoleh apabila dipanggil George (uww, macho!). Awalnya George bersikap tidak bersahabat kepada para sepupunya, namun berkat kesabaran Julian, George akhirnya melunak dan bahkan akrab terhadap ketiganya. Kepada para sepupunya, George memberi tahu bahwa ia diam-diam memelihara seekor anjing yang ia namai Tim.

Tak jauh dari Pondok Kirrin terdapat sebuah pulau yang diklaim George sebagai miliknya. Dan sesungguhnya hal tersebut bukan bualan. Pulau Kirrin namanya. Di atas pulau Kirrin terdapat reruntuhan puri raksasa yang kemungkinan besar dulunya adalah milik leluhur George (mungkin dari pihak ibu?). Suatu ketika, badai datang dan mengangkat bangkai kapal tadinya tenggelam di dasar laut tak jauh dari Pulau Kirrin. Anak-anak memeriksa kapal tersebut dan menemukan sebuah kotak misterius. Ternyata kotak tersebut perisi peta Puri Kirrin dan kemungkinan besar adalah peta harta karun. Anak-anak sangat bersemangat ingin mencari emas yang tertimbun di reruntuhan puri. Masalahnya, ada orang lain yang juga mengincar emas tersebut. Julian, Dick, George, Anne, dan Tim pun terancam bahaya! Bagaimana nasib kelima sekawan? Baca kisah lengkapnya dalam buku pertama pertualangan mereka karya Enid Blyton ini.

Sejujurnya buku ini sudah lama tertimbun gara-gara keseringan berpikir, “Ah, bisa dibaca nanti saja.” Pada akhirnya nggak dibaca-baca juga. Kebetulan, baca bareng BBI bulan Juli kemarin adalah buku (tentang kenakalan) anak-anak, maka saya pun memilih buku ini sebagai bahan posting bareng. Agak maksa memang, sebab belum tentu juga kelima sekawan ini isinya anak-anak nakal. Eh ternyata ada satu karakter yang misunderstood dan dianggap nakal. Cucok deh.

Kesan saya terhadap buku ini? Hmm. Sebenarnya ceritanya sangat sederhana, bahkan kelewat sederhana menurut saya. Selain itu, masalah-masalah yang muncul terkesan terlalu mudah diselesaikan. Apa boleh buat, buku anak-anak ini. Tapi harus saya akui ada beberapa bagian yang menegangkan, terutama ketika lima sekawan berhadapan dengan orang-orang jahat yang ingin merebut emas di Pulau Kirrin.

Hal yang paling menarik perhatian saya dari buku ini justru pada para tokohnya. Enid Blyton menciptakan karakter-karakter yang tidak biasa. Saya bertanya-tanya, mengapa beliau membuat tokoh Paman Quentin begitu pemarah? Agak geli juga ketika membaca buku ini, sebab saya merasa Paman Quentin sangat mirip dengan ayah saya. Lalu Tim, anjing yang dipelihara diam-diam oleh George. Penulis sendiri menggambarkan kalau Tim dilihat dari mana pun bukanlah anjing yang memiliki tampang menarik. Sepengetahuan saya (yang terbatas ini) umumnya penulis menciptkan tokoh hewan peliharaan yang semenarik dan selucu mungkin. Tapi dengan Tim, penulis membuat sesuatu yang berbeda. Meski secara fisik Tim bukanlah anjing yang menarik, namun penulis menggambarkan tingkah laku Tim dengan sangat menarik dan begitu hidup, sehingga mau tidak mau pembaca akan jatuh hati pada tokoh hewan peliharaan tersebut, setidaknya saya merasa demikian.

Kemudian ada tokoh George yang sangat tomboy dan ‘lakik banget’. Awalnya saya bertanya-tanya apa maksud dan tujuan penulis menciptakan tokoh George. Saya menduga George adalah semacam tokoh yang mewakili dukungan penulis terhadap kesetaraan gender di masa itu. Tapi ya nggak harus dibuat seekstrim itu juga kan? Maksud saya, cewek kan nggak melulu harus bertingkah seperti cowok untuk mendapatkan pengakuan. Apalagi di mata orang-orang dewasa, George/Georgina dianggap nakal. Padahal, ia hanya ingin mendapat pengakuan. Mungkin juga karena dirinya adalah anak tunggal dan tidak punya banyak teman, sehingga kemampuan bersosialisasinya agak kurang. Dan TERNYATA… sejak awal penulis rupanya sudah merencakaan hal menarik tentang tokoh George ini. Georgina yang ingin dipanggil George ternyata tak hanya untuk lucu-lucuan semata, sebab hal tersebut ternyata memainkan peranan penting saat cerita berkembang lebih lanjut. Keren juga idenya. :D

Secara keseluruhan, buku pertama serial Lima Sekawan ini cukup menjanjikan. Kesannya jadul, memang. Saya sedikit ragu apakah anak-anak di masa sekarang akan tertarik membaca buku ini. Tapi bagi generasi ‘tua’ (muahahahaha) yang ingin bernostalgia, buku ini boleh banget dijadikan pilihan.

Baca Bareng Juli: Buku tentang kenalakan anak-anak

4 komentar:

Back to top