15 Agt 2015

Marry Now, Sorry Later - Christian Simamora

Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, 2015
Tebal: x + 438 hlm.
ISBN: 9786027036222

Sinopsis:
"BERSEDIAKAH SAUDARA MENGASIHI DAN MENGHORMATI ISTRI SAUDARA SEPANJANG HIDUP?"

Sejak awal Jao Lee sudah tahu, Reina tak mencintainya. Namun, menikah dengan putri satu-satunya direktur Hardiansyah Electronics itu memberi ilusi cukup bahwa Jao memilikinya. Salah besar. Reina justru melakukan sesuatu yang tak pernah Jao duga selama ini: kabur sebelum acara resepsi dimulai.

"ADAKAH SAUDARI MERESMIKAN PERKAWINAN INI SUNGGUH DENGAN IKHLAS HATI?"

Setelah enam bulan bersembunyi, akhirnya Jao berhasil menemukan Reina. Seperti dugaannya, suaminya itu memaksanya pulang bersama ke Jakarta. Memangnya apa yang dia harapkan? Semacam membuka lembaran baru dan hidup bersama sebagai suami-istri sungguhan?

"SAYA BERJANJI SETIA KEPADANYA DALAM UNTUNG DAN MALANG, DAN SAYA MAU MENCINTAI DAN MENGHORMATINYA SEUMUR HIDUP."

Ini cerita cinta tentang dua orang yang tak saling cinta, tapi bertahan untuk tetap bersama. Sampai kapan mereka akan terus berusaha? Perlukah mereka jatuh cinta dulu supaya bisa bahagia?


Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA

Setelah sekian lama menjadi pembaca setia novel-novel Christian Simamora, saya cukup excited ketika mendengar kabar kalau novelnya terbarunya ini bakal bercerita tentang pasangan yang telah menikah. Ini adalah sesuatu yang baru bagi penulis sehingga saya pun dibuat penasaran. Gimana sih, cerita romance pernikahan ala Christian Simamora?

Marry Now, Sorry Later adalah cerita tentang pasangan suami istri yang menikah tanpa landasan cinta. Reina Hardiansyah tak menyangka bahwa setelah ayahnya meninggal, ia tak hanya mewarisi perusahaan sang ayah tapi juga hutang-hutangnya. Dan hutang kepada perusahaan Jao Lee adalah yang paling besar dan tak mampu untuk ia lunasi. Jao tak menggubris permohonan penundaan pelunasan hutang yang diajukan Reina sebab ia merasa Reina tak memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Jao pun meminta Reina untuk menikah dengannya (tepatnya nikah kontrak) selama satu tahun sebagai syarat pelunasan hutang-hutang milik perusahaan mendiang ayah Reina. Merasa tak punya lagi harapan dan orang lain untuk dimintai tolong, Reina menyetujui syarat tersebut. Namun pada resepsi pernikahan, Reina yang panik memutuskan untuk kabur, meninggalkan Jao sendirian dengan segudang rasa malu.

Selama enam bulan Reina bersembunyi di Ubud, Bali, berkerja sebagai tenaga sukarela di sebuah panti asuhan. Tapi toh Jao akhirnya menemukannya juga, dan langsung memboyong Reina saat itu juga tanpa perlawanan berarti dari sang istri. Bagimanapun, status mereka memang masih suami istri, seperti yang diingatkan Jao kepada Reina. Reina mau kembali tinggal bersama Jao dengan syarat tak ada hubungan seksual sama sekali di antara mereka.

Yang tidak Reina tahu, sebenarnya Jao Lee diam-diam mencintai perempuan tersebut. Hanya saja, Jao tak pernah menemukan cara yang tepat mengungkapkan perasaannya. Trauma masa kecil Jao saat menyaksikan kehancuran rumah tangga orang tuanya lantaran keegoisan sang ibu, membuat dirinya tak mudah percaya pada wanita. Namun tidak dengan Reina. Kini, Jao hanya punya waktu enam bulan sebelum pernikahannya berakhir untuk membuktikan kepada Reina bahwa ia benar-benar mencintai istrinya itu. Mampukah Jao melakukannya? Bagaimana caranya?

Menurut penulis, Marry Now, Sorry Later terinspirasi dari dongeng klasik Disney berjudul Beauty and The Beast. Saya tak pernah menonton film animasi tersebut, namun saya menduga kemiripan di antara keduanya adalah tentang bagaimana sosok yang dianggap monster berusaha untuk membuktikan ketulusan cintanya. Jao adalah ‘monster’ dalam novel ini sebagaimana yang diyakini Reina sejak awal pertemuan mereka. Jao yang dingin. Jao yang tak berperasaan. Jao yang memaksa Reina menikahinya sebagai syarat melunasi hutang.

Plot dalam novel ini bergerak maju, diawali dengan adegan penjemputan paksa terhadap Reina yang dilakukan oleh Jao di Bali, dengan diselingi kisah kilas balik bagaimana mereka sampai memutuskan untuk menikah. Gaya berkisah seperti ini membuat jalan cerita menjadi dinamis dan tidak membosankan—walau menurut saya gaya menulis Christian Simamora tak pernah membosankan sih. Dibandingkan dengan novel-novelnya terdahulu, gaya bercerita dalam novel ini terasa rapih, tidak lagi ditulis dengan gaya ‘semau gue’. Barangkali hal tersebut sengaja dilakukan berhubung tema novelnya kali ini lebih dewasa. Saya tentu menyukai gaya menulis Christian dalam novel ini, walau gaya ‘semau gue’-nya itu tetap ngangenin. Hehe.

Tema pernikahan memang baru bagi penulis, namun bila diamati lebih lanjut, sesungguhnya tak ada yang baru dalam novel ini. Kisah tentang pasangan yang awalnya saling membenci kemudian saling mencintai bisa dikatakan sudah menjadi sesuatu yang klasik dalam novel-novel romance. Tinggal bagaimana penulis mengolah plot-lah yang membuat ceritanya tidak membosankan. Dan plot dalam novel ini sangat menyenangkan untuk diikuti. Lagi-lagi, gaya bercerita penulislah yang menjadi kekuatan novel ini. Dialog yang cerdas yang diselingi kalimat-kalimat sarkastis, deskripsi yang tak membosankan, serta selipan humor segar di dalamnya membuat saya betah berlama-lama membaca novel ini. Di satu sisi saya ingin segera menyelesaikan membaca novel ini, namun di sisi lain berat rasanya untuk mengakhiri ceritanya, sebab itu berarti saya harus berpisah dengan para karakter di dalamnya.

Bicara soal karakter, yang menjadi favorit saya dalam novel ini adalah Jao Lee. Meski awalnya saya jengkel terhadapnya, namun seiring perkembangan cerita, saya dibuat terharu oleh semua yang ia lakukan demi memenangkan hati Reina—walau beberapa di antaranya justru membuat Reina naik pitam.

Berikut beberapa bagian yang menjadi favorit saya di novel ini (perhatian: mungkin mengandung spoiler):
1.  Ketika Jao diam-diam ngelola perusahaan Reina, membuat perusahaannya menjadi lebih baik, plus membuat sebuah produk yang didedikasikan untuk Reina.
2. Ketika Jao hujan-hujanan menunggu Reina.
3. Ketika Jao meminta 10 fun fact tentang Reina, setiap hari (cute!).
4. Semua hal yang dilakukan Jao menjelang hari-hari berakhirnya pernikahannya dengan Reina.

Tak hanya tokoh Jao dan Reina yang menghiasi plot novel ini. Kehadiran para sahabat Reina—Char dan Sari—membuat cerita dalam novel ini menjadi lebih berwarna, terutama Char, yang memegang peranan cukup penting menjelang akhir cerita. Oh, ada side story tentang Char dalam novel ini yang menurut saya cukup menarik.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai novel ini dan tak ragu memberinya 5 bintang. Yep, ini novel pertama Christian Simamora yang mendapat rating penuh dari saya. Tema pernikahan yang diangkat oleh penulis cukup menyegarkan, gaya berceritanya cocok dengan selera saya, ditambah tokoh Jao Lee yang bisa membuat jatuh hati. Apakah Jao sekarang adalah #JBoyfriend favorit saya, menggantikan posisi Joshua di Pillow Talk?

Tampaknya demikian. Ups, sorry, Jo. :)


PS: Novel dewasa, banyak adegan kipasnya.

3 komentar:

  1. aku penasaran pengen bacaaaaaaa..... :D

    btw, itu adegan kipasnya cukup pake kipas angin atau harus pake AC buat ngedinginkannya, Kang? #eh

    BalasHapus
  2. aku suka bangetttttt sama buku ini, bagian yang jadi favorit sama nih kayak aku, hihihi

    BalasHapus
  3. Novel lokal yang perfect banget itu yah novel ini. Kebetulan aku juga baru kali ini baca novel karya Christian. Soalnya pengen tahu gimana romance ala-ala Christian yang kata orang manis banget hehe.

    cuma satu yang tidak aku suka. Karakter Reina ... Aku paling kesal ketika ia menerima tawaran tidur sama Joe demi pelunasan hutang. Kesanya cewek murahan banget, *eh spoiler gak sih? hehe semoga enggak ....

    BalasHapus

Back to top