31 Jul 2013

Wishful Wednesday #12

Tiba-tiba pengen baca novel historical romance. Wait, ada yang bilang historical romance itu bacaan khusus cewek? Uhm. Abaikan saja deh ya.

Setelah bertanya kepada teman-teman yang menggemari genre ini, banyak yang menyarankan untuk membaca seri Bridgertons karya Julia Quinn. Buku pertamanya sendiri pertama kali terbit di Indonesia tahun 2010. Yah, nggak telat-telat banget lah, pikir saya. Katanya emang bagus kok. Banyak unsur humornya. Dan saya selalu suka novel yang ada humornya. Seenggaknya dalam satu novel, seserius apapun, harus ada bagian yang bikin saya tertawa, minimal senyum. Saya sendiri sudah terpikat pada hisrom yang berjudul Believe karya Victoria Alexander. Padahal menurut mereka yang sudah banyak 'bergaul' dengan novel-novel hisrom, novel itu jelek. Entah bagian mananya yang jelek, saya tidak tahu. Sebab saya sendiri asik-asik saja saat membacanya. Banyak ngakaknya malah. Nah, perkara adegan hawt, menurut saya itu bonus saja sih. *kalem*

Jadi, buku yang menjadi WW saya kali ini adalah Bridgertons Series karya Julia Quinn. Seri ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan jumlah serinya nggak tanggung-tanggung, pemirsah: DELAPAN BUKU SAJA. Aih, ngebayangin ngumpulin semua serinya langsung encok. Apalagi harga rata-rata per buku di atas 50-an ribu. Dikali delapan biji maka totalnya adalah NGAJAK BANGKRUT. Ehem. Kalo ada yang mau jual koleksinya hubungi saya, oke? Harga boleh nego kan, gan? :D

Ngarep hibahan? Huahahahahahahahahahahahahaha...

Iya.

Banget.

*kemudian hening*


Bridgertons Series
by Julia Quinn
(klik judul untuk link Goodreads)

Jadi, apa Wishful Wednesday-mu hari ini? :)

Mau ikutan Wishful Wednesday? Caranya gampang:
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu.
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu. :)

29 Jul 2013

Giveaway #6

CLOSED!


Giveaway time! GA kali ini random banget (serandom yang punya blog). Tadinya nggak dalam rangka apa-apa sih, kepingin aja bikin GA. Lagipula sebelumnya saya sudah janji untuk bikin GA. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu blog ini ternyata sudah mencapai 30.000+ pageviews. Yeeey! Jadi anggap aja GA ini sebagai ungkapan terima kasih saya buat teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog ini.

28 Jul 2013

Mahogany Hills by Tia Widiana

Judul Buku: Mahogany Hills
Penulis: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: 344 hlm
ISBN-13: 9789792295849
Harga: Rp. 58.000,-
Rating: 4,5/5


Kisah ini dibuka dengan adegan Jagad Arya dan Paras Ayunda yang sedang bermobil menuju Mahogany Hills, sebuah rumah putih berlantai dua yang terletak di wilayah Sukabumi. Rumah itu sangat indah, dikelilingi pemandangan asri yang tak tersentuh polusi. Sebuah tempat yang cocok untuk dihuni pasangan yang baru menikah itu. Lagipula, Jagad memang sedang membangun resor tak jauh dari Mahogany Hills, jadi akan lebih mudah mengawasi proses pembangunannya.

Pernikahan Jagad dan Arya adalah sebuah perjodohan, bukan dilandaskan pada cinta. Sebenarnya, Jagad menikahi Paras karena kalah berdebat dengan ibunya. Ia sama sekali tak mencintai Paras. Bahkan, bisa dibilang ia sama sekali tak mengenal Paras. Mereka bertemu pertama kali pada saat pertunangan. Sementara Paras sendiri sebenarnya sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, namun ia kembali demi perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Bagi Paras, menikah karena perjodohan bukanlah masalah. Ia telah melihat banyak pasangan yang menikah karena perjodohan namun tetap langgeng.

Yang tak diketahui Paras, bahwa tujuan Jagad menikahi dirinya adalah untuk menceraikannya. Jagad sebenarnya mencintai wanita lain. Maka Jagad berusaha sebisa mungkin membuat Paras merasa tidak bahagia selama berada di Mahogany Hills. Sayang sekali usaha Jagad tak membuahkan hasil, sebab di laur dugaan, Paras adalah wanita yang tegar. Meski Jagad terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pernikahan mereka dan bahkan menolak Paras saat malam pertama mereka di Mahogany Hills, Paras tetap bersikap sebagaimana istri yang baik; melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan tetap melayani suaminya dengan sabar, kecuali bagian berhubungan intim. Paras berharap, sikapnya dapat melunakkan hati sang suami dan pelan-pelan mulai mencintai dirinya.

Lagi-lagi ketagaran Paras perlu diuji. Seolah belum puas menunjukkan penolakan terhadap Paras, Jagad membawa wanita lain ke Mahogany Hills. Secara terang-terangan, Jagad menunjukkan kemesraanya dengan Nadia, dan berkata bahwa wanita itulah yang seharusnya menjadi istrinya. Hal tersebut membuat Paras mempertanyakan sikapnya sendiri. Keraguan menghinggapi dirinya. Apakah ia benar-benar yakin Jagad akan luluh terhadap kesabaran dan kecintaan yang ditunjukkannya?

Kemunculan Adrian, lelaki dari masa lalu Paras, akhirnya memicu peristiwa yang membuat Paras dan Jagad sama-sama terguncang. Pada akhirnya Paras dan Jagad harus menetapkan pilihan, antara mempertahankan pernikahan atau mengakhirinya. Satu hal akhirnya disadari Jagad, bahwa jauh dalam lubuk hatinya, pria itu sebenarnya mencintai istrinya.

***

Mahogany Hills adalah novel Amore pertama yang saya baca. Kebetulan juga, novel ini adalah juara pertama Lomba Penulisan Novel Amore 2012 yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Harus saya akui, saya sangat menyukai novel ini. Memang tema yang diangkat tidaklah baru. Novel tentang pernikahan yang diawali dengan perjodohan yang saya baca sebelum ini adalah Dimi Is Married karya Retni SB. Tapi jika harus membandingkan kedua novel tersebut, saya dengan senang hati akan memilih Mahogany Hills sebagai yang terfavorit.

Saya terpukau pada gaya bercerita sang penulis. Novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku, namun penulis mampu menuliskannya dengan luwes sehingga saya dapat menikmati novel ini tanpa kendala sama sekali. Alur ceritanya mengalir dengan baik. Saya salut dengan kepiawaian penulis dalam memilih diksi. Setiap kata dipilih dengan cermat, membuat novel ini nikmat untuk dibaca, juga rapi. Penulis juga pintar membuat pembaca bertanya-tanya, sampai-sampai saya nyaris tak bisa melepas buku ini karena penasaran.

Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan setting dalam novel bersampul manis ini juga merupakan salah satu poin plus yang tak boleh diabaikan. Selama membaca novel ini, saya dapat merasakan seolah saya benar-benar berada di Mahogany Hills. Seolah rumah itu adalah rumah saya sendiri dan saya sudah sering mengamati pemandangan alam sekitar melalui salah satu jendela rumah itu.

Tak hanya setting, karakter-karakter yang diciptakan oleh penulis juga begitu kuat. Proses perkembangan karakter dalam novel ini terasa begitu nyata dan wajar. Saya dapat memahami perasaan Paras yang berusaha menjadi istri yang baik. Saya juga bisa memahami isi hati Jagad dan keputusan bodoh yang dibuatnya. Yeah, awalnya saya memang membenci tokoh ini. Koreksi, sampai akhir novel ini saya masih membencinya. Saya memang bisa memahaminya, tapi tidak pernah setuju pada keputusannya.

Konflik dalam novel cukup menarik. Akan tetapi, saya merasa penulis sebenarnya masih bisa mengeksplorasi lagi novel ini. Karakter Nadia dan Adrian sebenarnya bisa lebih digali lagi. Nadia, misalnya, mengingat karakternya yang keras dan desperate pasca gagal menikah, harusnya tak akan melepaskan Jagad begitu saja. Sama halnya dengan Adrian. Saya bahkan masih khawatir Adrian akan kembali lagi kelak. Bukahkan laki-laki itu amat posesif? Dan soal amnesia. Tadinya saya pikir unsur amnesia akan membuat saya menjadi antipati terhadap novel ini. Tapi kenyataannya, saya ternyata dapat memaklumi adegan yang sebenarnya sudah basi itu. Bisa jadi karena bagian tersebut berperan sangat penting dalam cerita, sehingga tidak terkesan sekadar mendramatisir cerita. Meski demikian, saya berharap adegan amnesia ini tak dipakai lagi dalam karya-karyanya kelak.

Terlepas dari beberapa hal yang kurang dikembangkan oleh penulis, saya harus mengacungi jempol terhadap novel ini. Saya bersyukur karena novel Amore pertama yang saya baca ini tidak mengecewakan, setidaknya bagi saya yang memang hampir tidak pernah membaca novel dari lini Amore, Harlequin, maupun Historical Romance. Ah, saya jadi ingin membaca novel Amore yang lain (yang jelas sih, bukan novel Amore yang sampulnya biru-biru itu, hehe).

Saya mengucapkan terima kasih kepada Tia Widiana atas pengalaman menyenangkan selama membaca novel ini. Saya jatuh cinta pada keputusannya menggunakan bahasa Indonesia baku. Saya jatuh cinta pada gaya berceritanya yang santun. Sudah pasti, saya sangat menantikan karya-karyanya yang lain.


26 Jul 2013

Daisyflo by Yennie Hardiwidjaja

Judul: Daisyflo
Penulis: Yennie Hardiwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Februari 2012
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9789792280241

Sinopsis:
Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Novel ini dibuka dengan adegan yang tak biasa. Tara, tokoh utama novel ini, sedang menunggu seseorang. Tepatnya, menunggu seseorang yang akan ia bunuh, dan orang itu adalah Tora. Berbagai pertanyaan pun muncul. Siapa Tora? Mengapa Tara ingin membunuhnya? Jarang sekali ditemui sebuah novel metropop dimulai dengan adegan menegangkan seperti ini. Kemudian adegan beralih ke Alexander yang sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang. Laki-laki itu rupanya sudah mengetahui rencana Tara. Ia bisa menebaknya dari perubahan sikap Tara akhir-akhir ini. Tara sering berlatih untuk membentuk fisiknya, yang membuat tubuh gadis itu lebih atletis. Juga, Tara pernah mengutarakan niatnya untuk ikut latihan bela diri. Kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar Tara benar-benar akan melaksanakan niat yang dulu pernah ia utarakan kepada Alex, yaitu membunuh Tora. Demi cintanya pada Tara, Alex harus mencegah kekasihnya itu berbuat lebih jauh.

Berhasilkah Alex mencegah Tara? Apa gerangan yang membuat Tara penuh dengan dendam, hingga berani mengambil keputusan nekat tersebut?

Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah gadis bernama Tara. Ia berpacaran dengan Tora. Tara dan Tora. Nama yang cocok, bukan? Sayangnya, hubungan mereka tidak sehat. Tora adalah pria pencemburu dan sangat posesif. Juga, ia laki-laki yang amat-sangat-tidak-modal-sekali. Masak selama berhubungan dengan Tara, hampir setiap saat selalu Tara yang keluar duit? Bahkan, mobil yang dibeli orang tua Tara justru lebih sering dipakai Tora. Tara sepertinya cinta mati pada Tora, sehingga ia kerap mengalah dan meyakini diri sendiri bahwa cinta memang butuh pengorbanan. Belakangan, sikap posesif Tora semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia melakukan hal yang paling menjijikkan yang pernah dilakukan pria terhadap wanita. Tara hanya bisa pasrah dan memilih tetap bertahan di samping Tora.

25 Jul 2013

Miss Collector by Omadi Pamouz

Judul Buku: Miss Collector
Penulis: Omadi Pamouz
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 312 hlm
ISBN-13: 9789792275414
Harga: Rp. 45.000,-
Rating: 3,5/5


Devina mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah bank besar di Medan. Tergiur dengan tawaran tersebut, ia buru-buru menerimanya, tanpa terlebih dahulu menanyakan posisinya di bank itu. Devina kaget saat mengetahui bahwa dirinya ditempatkan di bagian collection, yang artinya, ia akan bekerja sebagai debt collector. Sial. Padahal Devina tadinya berharap ia akan ditempatkan di posisi yang tugasnya berhadapan langsung dengan nasabah (misalnya sebagai teller) karena menurutnya secara fisik ia memenuhi syarat untuk posisi tersebut. Ia cantik, ber-body yahud (ehem!), dan punya rasa percaya diri tinggi. Devina benar-benar tak menyangka akan menjadi tukang tagih nasabah yang menunggak pembayaran kartu kredit. Karena sudah terlanjur resign dari pekerjaan lamanya, mau tidak mau Devina terpaksa menjalani pekerjaan barunya, dan berniat akan kelaur dari bank itu setelah masa training berakhir.

Devina dibuat pusing oleh pekerjaan barunya. Menghadapi berbagai tipe nasabah yang mangkir dari kewajiban membayar hutang ternyata sangat ribet, tapi juga membuatnya merasa tertantang. Tanpa disadari, wanita itu mulai menyukai pekerjaan barunya, apalagi setelah tahu ada reward besar bagi karyawan yang berhasil mencapai target. Di saat ia mulai menikmati pekerjaannya, berbagai masalah pun datang pun menghampirnya. Mulai dari sang pacar yang selingkuh, nasabah yang menyatakan cinta, sahabat yang memaksa-maksa Devina untuk memasukkannya juga ke bank tempat Devina bekerja, menghadapi nasabah yang datang komplain ke kantor, hingga rekan kerja yang tega menikam dari belakang. Akankah Devina tetap bertahan sebagai debt collector, ataukah ia memutuskan untuk mundur dari pekerjaan yang, di luar dugaan, ternyata dapat membahayakan keselamatannya itu?

Baca kisah selengkapnya dalam novel metropop berjudul Miss Collector karya Omadi Pamouz.

***

Novel ini cukup menarik buat saya, soalnya saya adalah pengguna kartu kredit (syukurlah saya selalu membayar tepat waktu, sehingga tidak pernah ditelepon oleh debt collector). Membaca novel ini dapat menambah pengetahuan kita tentang dua perbankan, khususnya di bidang collection (yang tentunya dihuni oleh para debt collector). Saya jadi ikutan gemas terhadap nasabah yang mangkir dari kewajiban mereka untuk membayar, padahal mereka sudah menikmati fasilitas dari kartu kredit. Para debt collector diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Sebagian besar proses penangihan dilakukan via telepon, di mana hal tersebut benar-benar merepotkan. Mereka harus pintar-pintar mencari cara untuk dapat berkomunikasi dengan nasabah yang menjadi target penagihan. Saya yang tadinya tidak tahu-menahu proses penagihan tersebut, kini mendapatkan pencerahan sehingga dapat berempati kepada mereka yang bekerja sebagai debt collector.  Rasanya sulit menjadi mereka, karena kemampuan berkomunikasi yang baik saja ternyata tidak cukup. Amunisi lain yang harus dipersiapkan adalah: 1) muka tebal, 2) kuping anti peluru, dan 3) hati sekuat baja.

Bagaimana dengan plot novel ini? Sebenarnya plotnya simpel, tentang perempuan muda yang berusaha untuk survive di bidang pekerjaan yang penuh dengan tekanan. Sangat menarik mengikuti proses perkembangan Devina di tempat kerjanya. Sebagai pembaca, saya bisa memetik hikmah dari setiap proses yang harus dijalani Devina. Nah, itu cerita intinya. Agar tidak bosan, menulis memasukkan unsur romance di dalamnya, yaitu Zaki, salah satu nasabah yang harus ditagih oleh Devina. Devina yang baru saja putus dengan pacarnya tak lantas langsung klepek-klepek terdahap pesona Zaki. Apalagi proses pertemuan mereka bisa dibilang tidak menyenangkan. Lagipula, meski pria itu kaya, kok bisa sih menunggak tagihan kartu kredit? Kenapa?

Sayang sekali unsur romance dalam novel ini tak mampu membuat saya 'menggelepar bahagia'. Rasanya biasa-biasa saja. Nilai lebihnya, berbagai konflik tambahan dalam novel ini sedikit mengalihkan perhatian saya pada unsur romance yang dirasa kurang tersebut. Misalnya konflik antara Devina dan Maya, sahabatnya. Bagaimanapun, jujur itu lebih baik, ketimbang berdusta. Hal lain yang cukup menghibur adalah menyaksikan Devina mendatangi nasabah. Perlu dicatat: debt collector pun memiliki job description masing-masing. Tugas utama Devina sebenarnya menagih lewat telepon, bukan mendatangi nasabah langsung, sebab sudah ada orang lain yang ditugaskan untuk itu. Tapi demi mencapai target, Devina nekat mendatangi nasabah. Hasilnya, berbagai hal konyol pun dialami perempuan itu.

Oh ya, baru kali ini saya membaca novel metropop yang setting-nya di Medan. Tentunya dialog-dialog khas Medan akan banyak ditemui dalam novel ini. Seperti yang kita ketahui, percakapan orang Medan umumnya terkesan kasar, padahal sebenarnya hal itu wajar dan biasa-biasa saja menurut masyarakat di sana. Jadi, jangan kaget ya kalau selama membaca novel ini, kamu mungkin menemukan dialog yang berpotensi bikin elus-elus dada, atau ejekan yang nyangkut-nyangkut ke masalah fisik. Hehe.

Kalau ditanya tokoh siapa yang saya sukai dalam novel ini, masa saya tak ragu akan menjawab: Devina. Wanita ini memang cantik, bohay (aww), dan pedenya selangit (walau kadang overpedenya itu ngeselin). Dan Maya juga. Meski gendut, gadis ini kayaknya sudah kebal dengan berbagi ejekan yang ditujukan kepadanya. Meski kerap mengaku iri pada tubuh sempurna Devina, perempuan tambun ini justru memiliki kepercayaan diri yang mampu menyamai Devina. Misalnya: ia berani joget-joget di depan cowok ganteng, atau tanpa ragu berkenalan dengan cowok itu, meski sudah orang lain melarang. "Siapa tahu jodoh," ucapnya santai. Menyaksikan tingkah Maya, saya hanya bisa tersenyum penuh rasa kagum.

Terlepas dari unsur romance yang kurang menggigit (chemistry antara Devina dan Zaki sangat lemah), akan tetapi novel ini memberi informasi bagus yang menambah wawasan pembaca tentang seluk beluk kartu kredit dan profesi debt collector. Alur ceritanya pun terjaga dengan baik, sehingga saya tidak merasa bosan saat membaca. Unsur humor dalam novel ini begitu kental, walau belum mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak. Tapi, hei, ini kan bukan novel komedi.

Pertanyaan saya, "adakah di antara pembaca yang berniat menjadi debt collector?" Saya sih, no thank you deh. Haha.

21 Jul 2013

July Book Haul | 2013

image source here. edited by me.
Saatnya meng-update book haul. Bulan Juli ini saya memecahkan rekor pribadi dalam hal menimbun belanja buku. Salahkan Mizan yang ngadain book fair online. Gimana nggak ngiler coba, buku-buku yang harga normalnya mulai dari 30-an ribu hingga di atas 50rb didiskon mulai dari 50%! Meski bukan tergolong buku-buku baru, tapi banyak di antaranya yang belum saya baca. Alhasil, saya belanja sampai belasan buku terbitan Mizan/Bentang lewat toko online langganan saya, bukabuku.com. Saking beratnya, untuk biaya kirim ke Mataram saja mencapai 154rb sendiri. Tapi lumayan hemat kok. Dihitung-hitung saya menghemat sampai setengah j--*ilang sinyal*

Jujur, awalnya saya excited banget waktu milih-milih buku di toko online itu, bahkan waktu bayarnya pun saya hepi-hepi aja. Tapi... pas bukunya datang, saya tertegun. Dalam hati mikir, yaoloh, timbunan nambah lagi *sambil ngelap jidat*. Rasanya kayak Rebecca Bloomwood yang habis belanja baju gila-gilaan, pas nyampe rumah, malah menatap belanjaannya dengan hampa. Saya sempat berjanji untuk nyetop beli buku setelah belanja gila-gilaan itu. Sayangnya, setelah dikomporin temen yang baru kelar baca Mahogany Hills, saya pun #terKompor dan akhirnya beli juga. Ini bukunya lagi dibaca. :)

Di kantor, temen-temen selalu menanyakan pertanyaan yang juga sering saya ajukan pada diri sendiri, "Itu buku-buku yang dibeli bakal kebaca semua nggak?" Jawabannya: yaealaaaaah kakaaaak. Nah, perkara KAPAN selesainya, itu yang masih menjadi mister ilahi. #sedep #apacoba. Lagian saya nggak nyesel kok. Itung-itung investasi (alasan klasik).

Udah ah, ngebacotnya. Langsung saja, ini dia my book haul bulan Juli:


// From Online Bookstore (Mizan Book Fair) //






1. How to Train Your Dragon (How to Train Your Dragon #1) by Cressida Cowell
2. How to Be a Pirate (How to Train Your Dragon #2) by Cressida Cowell
3. How to Speak Dragonese (How to Train Your Dragon #3) by Cressida Cowell
4. How to Cheat a Dragon's Curse (How to Train Your Dragon #4) by Cressida Cowell
5. How to Twist a Dragon's Tale (How to Train Your Dragon #5) by Cressida Cowell
6. Eye of the Crow (The Boy Sherlock Holmes, #1) by Shane Peacock
7. Death in the Air (The Boy Sherlock Holmes, #2) by Shane Peacock
8. Vanishing Girl (The Boy Sherlock Holmes, #3) by Shane Peacock
9. Secrets of the Dragon Sanctuary (Fablehaven #4) by Brandon Mull
10. Empress Orchid by Anchee Min
11. Beastly by Alex Flinn
12. Cinta Untuk Cee Cee by Beth Hoffman
13. Clara's Medal by Febi Indirani
14. Maya: Misteri Dunia dan Cinta by Jostein Gaarder
15. Being Beautiful by Dr. Michael Roizen & Dr. Mehmet Oz (bukan buku ttg oplas yah! XD)
16. Wolf Totem by Jiang Rong
17. Happiness Inside by Gobind Washdev

// From Local Bookstore //



   
18. Drunken Monster by Pidi Baiq
19. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati by Wahyu Aditya
20. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! by Ajahn Brahm
21. The Geography of Bliss by Eric Weiner
22. All You Can Eat by Christian Simamora
23. The Fabulous Udin by Rons Imawan
24. Believe by Victoria Alexander
25. Blue Romance by Sheva Thalia
26. Mahogany Hills by Tia Widiana
D-dua puluh enam buku dalam s-sebulan? Mudah-mudahan ini yang terakhir. Soalnya kalo kayak gini terus, tiap akhir bulan bakalan cuma minum aer putih. :|

Winner Announcement: Generasi 90an by Marcella FP

Selamat hari Minggu. Hari ini, seperti yang sudah saya janjikan, adalah pengumuman pemenang giveaway buku Generasi 90an karya Marcella FP yang saya adakan di sini. Terima kasih bagi sudah berbagi kenangan era 90an. Serius, I read every single of your comments, guys. Tapi maaf kalau beberapa komen terakhir belum sempat saya balas. Nggak bisa dipungkiri, masa 90an benar-benar meninggalkan banyak kenangan indah. Setuju?