28 Jul 2013

Mahogany Hills by Tia Widiana

Judul Buku: Mahogany Hills
Penulis: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: 344 hlm
ISBN-13: 9789792295849
Harga: Rp. 58.000,-
Rating: 4,5/5


Kisah ini dibuka dengan adegan Jagad Arya dan Paras Ayunda yang sedang bermobil menuju Mahogany Hills, sebuah rumah putih berlantai dua yang terletak di wilayah Sukabumi. Rumah itu sangat indah, dikelilingi pemandangan asri yang tak tersentuh polusi. Sebuah tempat yang cocok untuk dihuni pasangan yang baru menikah itu. Lagipula, Jagad memang sedang membangun resor tak jauh dari Mahogany Hills, jadi akan lebih mudah mengawasi proses pembangunannya.

Pernikahan Jagad dan Arya adalah sebuah perjodohan, bukan dilandaskan pada cinta. Sebenarnya, Jagad menikahi Paras karena kalah berdebat dengan ibunya. Ia sama sekali tak mencintai Paras. Bahkan, bisa dibilang ia sama sekali tak mengenal Paras. Mereka bertemu pertama kali pada saat pertunangan. Sementara Paras sendiri sebenarnya sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, namun ia kembali demi perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Bagi Paras, menikah karena perjodohan bukanlah masalah. Ia telah melihat banyak pasangan yang menikah karena perjodohan namun tetap langgeng.

Yang tak diketahui Paras, bahwa tujuan Jagad menikahi dirinya adalah untuk menceraikannya. Jagad sebenarnya mencintai wanita lain. Maka Jagad berusaha sebisa mungkin membuat Paras merasa tidak bahagia selama berada di Mahogany Hills. Sayang sekali usaha Jagad tak membuahkan hasil, sebab di laur dugaan, Paras adalah wanita yang tegar. Meski Jagad terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pernikahan mereka dan bahkan menolak Paras saat malam pertama mereka di Mahogany Hills, Paras tetap bersikap sebagaimana istri yang baik; melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan tetap melayani suaminya dengan sabar, kecuali bagian berhubungan intim. Paras berharap, sikapnya dapat melunakkan hati sang suami dan pelan-pelan mulai mencintai dirinya.

Lagi-lagi ketagaran Paras perlu diuji. Seolah belum puas menunjukkan penolakan terhadap Paras, Jagad membawa wanita lain ke Mahogany Hills. Secara terang-terangan, Jagad menunjukkan kemesraanya dengan Nadia, dan berkata bahwa wanita itulah yang seharusnya menjadi istrinya. Hal tersebut membuat Paras mempertanyakan sikapnya sendiri. Keraguan menghinggapi dirinya. Apakah ia benar-benar yakin Jagad akan luluh terhadap kesabaran dan kecintaan yang ditunjukkannya?

Kemunculan Adrian, lelaki dari masa lalu Paras, akhirnya memicu peristiwa yang membuat Paras dan Jagad sama-sama terguncang. Pada akhirnya Paras dan Jagad harus menetapkan pilihan, antara mempertahankan pernikahan atau mengakhirinya. Satu hal akhirnya disadari Jagad, bahwa jauh dalam lubuk hatinya, pria itu sebenarnya mencintai istrinya.

***

Mahogany Hills adalah novel Amore pertama yang saya baca. Kebetulan juga, novel ini adalah juara pertama Lomba Penulisan Novel Amore 2012 yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Harus saya akui, saya sangat menyukai novel ini. Memang tema yang diangkat tidaklah baru. Novel tentang pernikahan yang diawali dengan perjodohan yang saya baca sebelum ini adalah Dimi Is Married karya Retni SB. Tapi jika harus membandingkan kedua novel tersebut, saya dengan senang hati akan memilih Mahogany Hills sebagai yang terfavorit.

Saya terpukau pada gaya bercerita sang penulis. Novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku, namun penulis mampu menuliskannya dengan luwes sehingga saya dapat menikmati novel ini tanpa kendala sama sekali. Alur ceritanya mengalir dengan baik. Saya salut dengan kepiawaian penulis dalam memilih diksi. Setiap kata dipilih dengan cermat, membuat novel ini nikmat untuk dibaca, juga rapi. Penulis juga pintar membuat pembaca bertanya-tanya, sampai-sampai saya nyaris tak bisa melepas buku ini karena penasaran.

Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan setting dalam novel bersampul manis ini juga merupakan salah satu poin plus yang tak boleh diabaikan. Selama membaca novel ini, saya dapat merasakan seolah saya benar-benar berada di Mahogany Hills. Seolah rumah itu adalah rumah saya sendiri dan saya sudah sering mengamati pemandangan alam sekitar melalui salah satu jendela rumah itu.

Tak hanya setting, karakter-karakter yang diciptakan oleh penulis juga begitu kuat. Proses perkembangan karakter dalam novel ini terasa begitu nyata dan wajar. Saya dapat memahami perasaan Paras yang berusaha menjadi istri yang baik. Saya juga bisa memahami isi hati Jagad dan keputusan bodoh yang dibuatnya. Yeah, awalnya saya memang membenci tokoh ini. Koreksi, sampai akhir novel ini saya masih membencinya. Saya memang bisa memahaminya, tapi tidak pernah setuju pada keputusannya.

Konflik dalam novel cukup menarik. Akan tetapi, saya merasa penulis sebenarnya masih bisa mengeksplorasi lagi novel ini. Karakter Nadia dan Adrian sebenarnya bisa lebih digali lagi. Nadia, misalnya, mengingat karakternya yang keras dan desperate pasca gagal menikah, harusnya tak akan melepaskan Jagad begitu saja. Sama halnya dengan Adrian. Saya bahkan masih khawatir Adrian akan kembali lagi kelak. Bukahkan laki-laki itu amat posesif? Dan soal amnesia. Tadinya saya pikir unsur amnesia akan membuat saya menjadi antipati terhadap novel ini. Tapi kenyataannya, saya ternyata dapat memaklumi adegan yang sebenarnya sudah basi itu. Bisa jadi karena bagian tersebut berperan sangat penting dalam cerita, sehingga tidak terkesan sekadar mendramatisir cerita. Meski demikian, saya berharap adegan amnesia ini tak dipakai lagi dalam karya-karyanya kelak.

Terlepas dari beberapa hal yang kurang dikembangkan oleh penulis, saya harus mengacungi jempol terhadap novel ini. Saya bersyukur karena novel Amore pertama yang saya baca ini tidak mengecewakan, setidaknya bagi saya yang memang hampir tidak pernah membaca novel dari lini Amore, Harlequin, maupun Historical Romance. Ah, saya jadi ingin membaca novel Amore yang lain (yang jelas sih, bukan novel Amore yang sampulnya biru-biru itu, hehe).

Saya mengucapkan terima kasih kepada Tia Widiana atas pengalaman menyenangkan selama membaca novel ini. Saya jatuh cinta pada keputusannya menggunakan bahasa Indonesia baku. Saya jatuh cinta pada gaya berceritanya yang santun. Sudah pasti, saya sangat menantikan karya-karyanya yang lain.


1 komentar:

  1. Akhirnya kelar dibaca juga. XD Bagus khan ya... *ketips* Suka sama buku ini. :D Baca juga pemenang dua dan tiganya, Vahn. Sejauh yang kubaca, buku ketiganya oke juga. Oke dengan caranya sendiri yang beda dengan buku ini. ;)

    BalasHapus

Back to top