26 Jul 2013

Daisyflo by Yennie Hardiwidjaja

Judul: Daisyflo
Penulis: Yennie Hardiwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Februari 2012
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9789792280241

Sinopsis:
Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Novel ini dibuka dengan adegan yang tak biasa. Tara, tokoh utama novel ini, sedang menunggu seseorang. Tepatnya, menunggu seseorang yang akan ia bunuh, dan orang itu adalah Tora. Berbagai pertanyaan pun muncul. Siapa Tora? Mengapa Tara ingin membunuhnya? Jarang sekali ditemui sebuah novel metropop dimulai dengan adegan menegangkan seperti ini. Kemudian adegan beralih ke Alexander yang sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang. Laki-laki itu rupanya sudah mengetahui rencana Tara. Ia bisa menebaknya dari perubahan sikap Tara akhir-akhir ini. Tara sering berlatih untuk membentuk fisiknya, yang membuat tubuh gadis itu lebih atletis. Juga, Tara pernah mengutarakan niatnya untuk ikut latihan bela diri. Kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar Tara benar-benar akan melaksanakan niat yang dulu pernah ia utarakan kepada Alex, yaitu membunuh Tora. Demi cintanya pada Tara, Alex harus mencegah kekasihnya itu berbuat lebih jauh.

Berhasilkah Alex mencegah Tara? Apa gerangan yang membuat Tara penuh dengan dendam, hingga berani mengambil keputusan nekat tersebut?

Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah gadis bernama Tara. Ia berpacaran dengan Tora. Tara dan Tora. Nama yang cocok, bukan? Sayangnya, hubungan mereka tidak sehat. Tora adalah pria pencemburu dan sangat posesif. Juga, ia laki-laki yang amat-sangat-tidak-modal-sekali. Masak selama berhubungan dengan Tara, hampir setiap saat selalu Tara yang keluar duit? Bahkan, mobil yang dibeli orang tua Tara justru lebih sering dipakai Tora. Tara sepertinya cinta mati pada Tora, sehingga ia kerap mengalah dan meyakini diri sendiri bahwa cinta memang butuh pengorbanan. Belakangan, sikap posesif Tora semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia melakukan hal yang paling menjijikkan yang pernah dilakukan pria terhadap wanita. Tara hanya bisa pasrah dan memilih tetap bertahan di samping Tora.

Tara menjadi gadis pemurung. Semangat hidupnya seolah sirna. Namun kehadiran Junot perlahan-lahan mengembalikan keceriannya. Diam-diam, Tara mulai membiarkan dirinya didekati Junot. Lagi pula, sudah lama Tara menyukai Junot. Akan tetapi, hubungan diam-diam mereka, entah bagaimana, berhasil diendus oleh Tora.  Kemudian insiden itu pun terjadi. Sebuah insiden yang berujung pada keputusan Tara untuk menghabisi nyawa Tora.

***

Tadinya saya ragu untuk mengepost ringkasan cerita di atas. Saya takut akan ada unsur spoiler. Tapi setelah saya baca-baca lagi, sebenarnya yang kisah singkat yang saya tulis di atas hanyalah sebatas teaser/trailer (jika ingin disamakan dengan film). Pada kenyataannya, ceritanya jauh lebih kompleks.

Hal pertama yang ingin saya komentari dari novel ini adalah alurnya. Novel ini menggunakan alur maju-mundur. Saya sudah mengantisipasi hal ini karena sebelumnya telah membaca beberapa review tentang novel ini. Saya pikir, akan dibutuhkan kondisi 'otak prima' untuk bisa menikmati novel ini. Ternyata tidak juga. Penulis piawai sekali menggiring pembaca ke dalam setiap adegan, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti perpindahan waktu. Uhm, pembahasan saya berlebihan. Sebenarnya, perbedaan waktu antara masa lalu dan masa kini ditandai dengan perbedaan jenis font, sehingga pembaca tidak bingung. Sesederhana itu. *nyengir*

Ceritanya sendiri sanggup mengaduk-aduk emosi saya. Saya benar-benar dibuat jengkel oleh sikap Tora. Saking jengkelnya, saya ingin menonjoknya cowok itu berkali-kali. Tara juga membuat saya kesal. Saking cintanya pada Tora, ia sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih. Maksud saya, wanita normal mana sih yang bisa tahan pada perlakuan semena-mena Tora? Saya benar-benar sulit memahami jalan pikiran Tara. Memang cinta itu buta, tapi nggak gitu-gitu amat kayaknya. Yah, pada akhirnya Tara memang tidak tahan, dan kebencian yang menumpuk akhirnya merusak dirinya sendiri. Bila saja sejak awal ia bersikap lebih tegas, mungkin ia tidak perlu menderita dan memutuskan untuk menjadi pembunuh... Eh, tapi kalau tidak begitu, maka novel Daisyflo nggak bakal pernah ada dong? Hehe. *self-toyor*

Membaca novel ini, saya jadi berpikir, terkadang berbahaya bila kita selalu memendam perasaan kita, baik itu sayang, benci, atau cemburu. Bila sayang, mengapa tidak diungkapkan saja? Kalau benci, mengapa tidak coba dijelaskan? Saat cemburu, mengapa tidak ditunjukkan? Sebab keruwetan hubungan antartokoh dalam novel ini tidak akan terjadi bila tidak memendam perasaan masing-masing. Tara, Tora, Junot, Muli, Alexander, adalah lima tokoh penting terlibat dalam hubungan yang bisa diibaratkan layaknya benang kusut. Kepahitan, amarah, cemburu, cinta tak berbalas, menjadi bagian dari jalinan yang ruwet. Akankah benang itu terurai kembali?

Sebaiknya baca sendiri novel ini, karena kisahnya mampu mengaduk emosi. Dalam novel ini terdapat twist yang cukup mengejutkan. Memang sih terdapat pula unsur sinetron di dalamnya (oke, saya sebutkan saja: amnesia), termasuk beberapa dialog oh-so-sinetron-banget. Akan tetapi, secara keseluruhan, Daisyflo adalah novel metropop yang menarik. Sayang, saya tidak terlalu suka covernya.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to top