31 Agu 2013

August Book Haul | 2013

image source: here. edited by me.
Selamat hari kemerdekaan! *lirik banner di atas* Iya, tahu, udah lewat. :P

Bulan Agustus ini ternyata saya cuma bikin dua review. *sigh* Tapi meski cuma bikin dua review, jumlah buku yang dibaca bulan ini lumayan lah, empat biji (lhaaa dikit banget, Pan?). Meski cuma empat buku, semuanya bagus dan berkesan loh. Buku-buku tersebut adalah: Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, The Guy Next Door, dan Lady Of Skye. Saya baru tahu kalau Patricia Cabot (yang nulis Lady Of Skye) ternyata adalah Meg Cabot. :D

Nah, demi menambah postingan bulan ini sekaligus pamer (ijah, jujur sekali), saya akan memposting book haul bulan Agustus. Senang banget bulan ini saya dapet hibahan buku dari si Kucing. Nggak tanggung-tanggung, dese ngasih tiga biji lho: Pulang by Leila S. Chudori, Dear Friend With Love by Nurilla Iryani, dan Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi. Untuk buku yang terakhir itu, si Kucing nggak selesai bacanya. Jadi penasaran, seseram apa bukunya? Jadi nggak sabar untuk segera membacanya.

Berikut hasil tangkapan bulan Agustus:








1. Silver Linings Playbook by Matthew Quick
2. Will Grayson, Will Grayson by John Green & David Levithan
3. Bossypants by Tina Fey
4. Marvel's Civil War by Stuart Moore
5. Sweet Misfortune  by Kevin Alan Milne
6. The Look by Sophia Bennett
7. Before Us by Robin Wijaya
8. Explicit Love Story by Lee Sae In
9. Lukisan Keempat by Rina Suryakusuma
10. To Shir Phillip, With Love by Julia Quinn
11. The Secret Diary of Miss Miranda Cheever by Julia Quinn
12. Dil3ma by Mia Arsjad
13. Pink Project by Retni SB
14. Malam Terakhir (Kumpulan Cerpen) by Leila S. Chudori
15. The Woman He Loved Befor by Dorothy Koomson
16. The Last Empress by Anchee Min
17. Anak Rembulan by Djokolelono

Hibahan dari si Kucing Imut *big hug*
18. Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi
19. Pulang by Leila S. Chudori
20. Dear Friend With Love by Nurilla Iryani

Semoga bulan depan bisa baca lebih dari empat buku, mengingat timbunan yang semakin tinggi. Cemunguuuud! *cambukin diri sendiri*

28 Agu 2013

The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah) by Meg Cabot

Judul Buku: The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah), juga dikenal dengan judul The Boy Next Door
Seri: Boy #1
Penulis: Meggin "Meg" Cabot
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2003 (Juli, Cetakan III)
Tebal: 560 halaman
ISBN-13: 9789792203288
Rating: 5/5


Melissa Fuller yang bekerja sebagai kolumnis gosip New York Journal belakangan ini sering datang terlambat. Itulah mengapa ia diberi email peringatan dari kantornya. Beberapa waktu yang lalu Mel mendapati Mrs. Friedlander, tetangga apartemennya, tak sadarkan diri. Ternyata wanita tua itu diserang oleh seseorang, dan kini ia terbaring koma di rumah sakit. Mrs. Friedlander memiliki seekor anjing Great Dane dan dua ekor kucing yang perlu diberi makan dan diajak jalan-jalan, dan sebagai tetangga yang baik, Mel merasa dirinya wajib menggantikan Mrs. Friedlander mengurus ketiga mahkluk itu untuk sementara. Itulah mengapa ia sering terlambat.

Sebenarnya Mrs. Friendlander masih memiliki satu kerabat yang masih hidup, yaitu seorang keponakan laki-laki bernama Max Friedlander. Max adalah fotografer terkenal yang sayangnya tidak bisa diandalkan. Max adalah sosok yang egois dan juga playboy. Ia tengah berlibur di Florida bersama pacar modelnya, Vivica, sewaktu mendapatkan kabar tentang bibinya. Max beranggapan bahwa kewajiban menjenguk bibinya yang sedang koma serta merawat bintang peliharaan beliau hanya akan membuang waktunya yang berharga. Akan tetapi, Mrs. Friedlander sebenarnya memiliki tabungan yang lumayan besar. Dan Max-lah yang akan mendapatkan warisan tersebut bila sesuatu terjadi kepada bibinya. Karena malas memenuhi kewajibannya sebagai keponakan yang baik, tapi di satu sisi tak ingin namanya dicoret dari daftar ahli waris, Max meminta John Trent, sahabat baiknya yang berutang budi sangat besar kepadanya, untuk berpura-pura menjadi dirinya. Tugas John sederhana saja: Mengaku sebagai Max, sesekali menjenguk Mrs. Friedlander di rumah sakut, dan tentu saja, merawat binatang peliharaan Mrs. Friedlander.

Melissa Fuller yang sudah mendengar reputasi buruk Max agak terkejut mendapati bahwa Max ternyata tak seperti yang digunjingkan orang, terutama Dolly, rekan sejawatnya yang tampaknya punya daftar ‘dosa’ Max. Mel merasa orang-orang terlalu berlebihan dalam menilai Max, karena cowok yang kini menempati ruang apartemen Mrs. Friedlandar adalah sosok yang menyenangkan, asyik diajak mengobrol, dan yang paling penting, ia menyayangi binatang peliharaan Mrs. Friedlandter. Tentu Mel beranggapan demikian karena gadis itu tidak tahu bahwa pria tampan yang baru dikenalnya itu bukanlah Max Friedlander asli.

John Trent tadinya berpikir bahwa tak akan sulit berpura-pura menjadi Max. Kalau saja tidak untuk membalas budi Max, John tidak akan mau repot-repot menjalani perannya saat ini. Masalahnya, Max tak pernah bercerita pada John bahwa gadis tetangga bibinya sangat menarik. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka (John dan Mel) menjadi dekat. Diam-diam, John mulai menyukai Mel. Vice versa, Mel tampaknya menunjukkan perasaan yang sama terhadap dirinya. Kini John mengalami dilema. Apakah ia akan tetap berpura-pura menjadi Max demi bisa tetap dekat dengan Mel, ataukah ia harus mengungkapkan jati dirinya kepada Mel, dengan resiko akan dijauhi oleh Mel? Kekhawatiran John adalah, pertama, ia sudah membohongi Mel sejak awal. John yakin Mel tidak akan menyukai hal itu. Kedua, John sebenarnya berasal dari keluarga Trent yang kaya-raya tapi punya reputasi tak terlalu baik di mata masyarakat, tak terkecuali Mel. Dan ketiga, demi menghindari bayang-bayang keluarganya dan mengejar impiannya, John bekerja sebagai wartawan di surat kabar yang menjadi pesaing utama NY Journal (kantor tempat Mel bekerja), yang kebetulan juga sangat dibenci oleh Mel. Nah, sepertinya John tak punya pilihan selain tetap berpura-pura sebagai Max, bukan?

Tapi sampai kapan ia harus menyembunyikan identitasnya? Karena Max yang asli tampaknya tak mau ambil pusing terhadap apa yang harus dihadapi John. Dan yang paling penting, John semakin hari semakin mencintai Mel.

Baca kisah selengkapnya dalam The Guy Next Door karya Meggin “Meg” Cabot yang menggemaskan ini.

***

Nah, tampaknya saya sudah meringkas hampir separuh isi novel ini. Beginilah saya, terkadang tak mengerti bagian yang mana yang perlu diceritakan dan bagian mana yang seharusnya disimpan. Tapi menurut saya, apa yang saya ceritakan di atas sebenarnya tidak seluruhnya. Kisah sebenarnya jauh lebih kompleks.

Oh ya, sebelum membahas lebih jauh tentang buku ini, saya ingin memberi tahu tentang format novel ini. Novel ini unik, karena seluruh isinya ditulis dalam bentuk email. Ya, anda tidak salah dengar (atau baca, hehe). Pembaca akan disuguhkan begitu banyak email dalam novel setebal 560 halaman ini. Mulai dari email peringatan bagian HRD tempat Mel bekerja karena seringnya ia terlambat, email sahabat dekat Mel, email rekan-rekan sekerja Mel, email dari mantan pacar Mel, email antara John dan Max, John dan kakak laki-lakinya, John dan kakak iparnya, John dan neneknya, John dan Mel (ehem), Mel dan orang tuanya, Mel dan kakak ipar John... oke, saya rasa saya harus berhenti sekarang juga.

Meski dalam bentuk kumpulan email, novel ini sama sekali tidak membosankan. Bahkan saya selalu tak sabar untuk membaca halaman selanjutnya. Awalnya memang butuh penyesuaian. Tapi setelah beberapa halaman, segalanya mengalir dengan lancar. Saya sempat merasa seperti stalker yang secara kurang ajar membaca email orang lain tanpa izin. Tapi itulah serunya. Rasanya asyik sekali mengintip email dari berbagai tokoh dalam novel ini, mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan, saya dapat merasakan emosi dalam novel ini meski ditulis dalam bentuk email. Lagi-lagi saya mengakui kehebatan Meg Cabot dalam bercerita. Ia pandai berperan menjadi beberapa tokoh sekaligus. Pembaca akan dapat menemukan kekhasan masing-masing tokoh dalam setiap tulisan email mereka. Terkadang, tanpa perlu membaca alamat email si pengirim, pembaca dapat menebak siapa yang menulis email tersebut.

Saya sangat mengagumi ide brilian Meg Cabot untuk menulis novel dalam format email. Saya pikir ini tidak mudah. Apalagi karena novel tidak memiliki dialog atau percakapan langsung antar tokoh, tapi tetap saja, penulis mampu memberi ‘nyawa’ dalam setiap email yang ditulis para tokoh. Perkembangan hubungan Mel dan John (alias Max gadungan) terasa mengalir. Istilahnya chemistry-nya dapetlah #eaah. Tokoh-tokoh dalam novel ini semuanya menarik dan tak ada yang membosankan, sekalipun sifat tokoh tersebut menyebalkan atau bodoh. Vivica, misalnya. Meg Cabot jelas sekali menggambarkan sosok Vivica yang cantik namun kurang cerdas dari gaya menulis emailnya. Tapi saya tak menyangka bahwa saya malah jatuh hati pada tokoh Vivica. Haha.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada novel Twivortiare karya Ika Natassa yang tak kalah unik, sebab ditulis dalam format twitter. Berbeda dengan kebanyakan buku yang berisi kutipan-kutipan dari twitter, Twivortiare justru merangkum tweet-tweet dari para tokoh menjadi sebuah cerita yang utuh. Sama halnya dengan The Guy Next Door. Yang membedakan adalah media yang digunakan, yaitu email.

Sebagai penutup, saya puas membaca novel ini. Novel ini ditulis dengan cerdas, penuh humor, serta berisi kisah cinta yang manis dan menghangatkan hati. Belum lagi twist-nya yang cukup mengejutkan, serta karakter-karakternya yang lovable. Rasanya tidak berlebihan bila saya memberi 5 bintang untuk novel yang menggemaskan ini.

25 Agu 2013

Believe (Ksatria Dari Masa Lalu) by Victoria Alexander

Judul Buku: Believe (Ksatria Dari Masa Lalu)
Penulis: Victoria Alexander
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012 (November, Cetakan I)
Tebal: 456 halaman
ISBN-13: 9789792289664
Harga: Rp. 55.000,-
Rating: 4/5


Tessa St. James adalah dosen sejarah yang tak menyukai segala hal yang berhubungan dengan abad pertengahan. Baginya, abad pertengahan adalah masa yang suram dan menyusahkan. Ia bahkan menolak mempercayai kisah tentang Raja Arthur dan hanya menganggapnya dongeng pengantar tidur. Anehnya, ia malah menyukai segala hal yang berhubungan dengan dewa-dewa Yunani dan sangat berharap bertemu bisa dengan mereka. Saat sedang berada di kampus, Tessa mendapatkan paket dari ibunya, isinya adalah buku-buku. Buku yang menarik perhatiannya adalah buku yang ditulis oleh Merlin. Isi buku itu sendiri tak kalah menarik. Gambar-gambar dalam buku itu terlihat sangat nyata, beberapa di antaranya menampilkan sosok Galahad—putera Lancelot—yang tampan, juga terdapat gambar pertempuran melawan naga yang terlihat sangat hidup. Tessa bahkan dapat merasakan hangatnya embusan api dari sang naga. Keanehan lain yang dapat ditangkap Tessa, adalah judul buku tersebut sepertinya berubah. Bahkan beberapa gambar yang tadinya tak ada, kini muncul.

Kejadian selanjutnya tak pernah dibayangkan oleh Tessa. Saat sedang memperhatikan sosok Galahad yang sedang berlutut di depan altar dengan bertopang pada pedangnya, Tessa merasa gambar itu mulai hidup. Tiba-tiba, Tessa merasa dirinya tersedot ke dalam buku. Sosok Galahad yang tadinya hanya ada di lembaran buku, kini berada persis di depannya. Tak lama kemudian Merlin muncul dan mengatakan kepada Tessa bahwa gadis itu sedang berada di masa lalu, tepatnya di abad pertengahan. Ya, Merlin telah menyeretnya melintasi waktu dan mundur ke masa yang paling dibenci oleh Tessa. Tessa berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa yang ia alami hanyalah mimpi. Ia yakin bahwa ia sedang mengalami koma. Mungkin dia mengalami kecelakaan saat berada di kampus, dan kini benaknya sedang mempermainkannya.

Tessa keliru. Ia sama sekali tidak bermimpi. Merlin adalah sosok yang nyata dengan kekutan sihir sungguhan. Penyihir itu memilih Tessa untuk dibawa ke masa lalu karena ketidaksukaannya terhadap abad pertengahan, dan ketidakpercayaannya terhadap kisah Raja Arthur. Merlin berjanji akan mengembalikan Tessa ke masanya yang sehungguhnya, dengan syarat Tessa harus menemani Sir Galahad dalam misinya menemukan Cawan Suci. Tessa pernah mendengar kisah pencarian Cawan Suci yang dilakukan putera Sir Lancelot, namun kisahnya berakhir menyedihkan. Merlin berkata bahwa sejarah tidak dapat diubah. Meski hasil akhirnya sudah jelas, penyihir kharismatik itu meyakinkan Tessa bahwa kehadirannya di samping Galahad tak akan mengubah apa pun, namun ia tetap ingin agar Tessa ikut mengalami petualangan bersama sosok yang selama ini diyakini Tessa hanyalah sebuah dongeng. Tapi, sebenarnya Merlin punya tujuan lain yang tak dikatakannya pada Tessa…

***

Saya sangat menyukai cerita ini! Believe adalah novel historical romance pertama saya. Awalnya saya memilih novel ini karena novel ini tidak berseri. Namun saya tidak menyangka saya akan menyukainya. Pertama, novel ini mengandung unsure fantasi. Ada sihir, naga, dan terlebih lagi, setting novel ini adalah abad pertengahan. Saya menyukai tokoh Tessa yang cerdas namun keras kepala, meski pada bagian-bagian tertentu saya merasa kesal terhadap sikap kepala Tessa. Tokoh Sir Galahad juga menarik perhatian. Banyak kejadian lucu yang terjadi antara Tessa dan Galahad, yang disebabkan oleh perbedaan bahasa dan budaya (Tessa berasal dari Amerika di masa depan, sedangkan Galahad berasal dari Inggris di masa lalu). Penerjemahaan yang baik dalam novel ini membuat saya dapat memahami kelucuan dalam dialog antara Tessa dan Galahad.

Seperti umumnya kisah tentang love-hate relationship dalam novel-novel romance, hubungan antara Tessa dan Galahad juga awalnya tidak terlalu mulus. Mereka sering meributkan hal-hal yang berhubungan dengan gender. Tessa adalah wanita modern yang cukup mandiri, sementara Galahad adalah pria yang menganggap wanita seharusnya tidak boleh ikut berpetualangan bersama laki-laki karena mereka tak dapat diandalkan saat menghadapi marabahaya. Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka kerap adu mulut. Namun, setelah lewati beberapa peristiwa peristiwa menegangkan bersama—salah satunya adalah melawan naga—perlahan-lahan mulai tumbuh rasa saling bergantung di antara mereka, dan tentu saja perasaan ini mengarah ke arah yang lebih ‘dalam’. Sayangnya Sir Galahad tampaknya masih mencintai istri yang telah lama meninggal. Sementara Tessa, andaikan ia benar-benar mulai mencintai Galahad, mampukah ia bertahan hidup di abad pertengahan yang jauh dari hal-hal modern? Hmm. Pilihan yang tidak mudah.

Jujur saja, saya tak benar-benar mengetahui kisah Raja Arthur (saya bahkan belum menonton film King Arthur [2004] yang diperankan oleh Clive Owen dan Keira Knightley), sehingga saya sedikit banyak berharap Raja Arthur, Guinevere, dan Lancelot akan lebih banyak ditampilkan dalam novel ini. Sayangnya mereka hanya tampil sedikit. Wajar saja, karena fokus cerita ini adalah Galahad dan Tessa. Setting ceritanya pun jauh sesudah Raja Arthur sukses dalam petualangannya untuk menyatukan Britania Raya. Oh ya, Merlin bisa dibilang adalah sutradara dalam kisah ini, sehingga ia cukup sering muncul. Kehadiran Vivienne, tokoh penyihir jahat dalam kisah asli Raja Arthur juga menambah warna dalam kisah ini. Saya tidak menyangka bahwa Vivienne sebenarnya adalah… oke, no spoiler.

Terlepas dari hal-hal yang tak saya ketahui tentang kisah Raja Arthur dan pencarian Cawan Suci yang dilakukan oleh Sir Galahad, saya tidak mengalami kesulitan dalam menikmati kisah Believe karya Victoria Alexander ini. Saya sangat menikmati unsur humor dalam novel ini. Saya benar-benar tertawa ngakak di beberapa bagian. Sangat jelas bahwa pengalaman pertama saya dalam membaca novel historical romance tidaklah mengecewakan. Saya tak menyangka membaca novel historical romance ternyata sangat fun. Dan tentu saja saya unsur romance dalam novel ini sesuai dengan harapan saya. Terjemahannya pun amat baik. Saya acungi jempol untuk penerjemah mampu membuat pembaca memahami humor dalam novel ini.

Tadinya saya memberi novel ini 5 bintang, tapi kemudian saya menguranginya menjadi 4 bintang karena terdapat (sedikit) hal yang mengganggu, yang sayangnya tak bisa saya tuliskan di sini karena mengandung spoiler. Buku ini saya rekomendasikan bagi penyuka genre romance dan fantasi.

31 Jul 2013

Wishful Wednesday #12

Tiba-tiba pengen baca novel historical romance. Wait, ada yang bilang historical romance itu bacaan khusus cewek? Uhm. Abaikan saja deh ya.

Setelah bertanya kepada teman-teman yang menggemari genre ini, banyak yang menyarankan untuk membaca seri Bridgertons karya Julia Quinn. Buku pertamanya sendiri pertama kali terbit di Indonesia tahun 2010. Yah, nggak telat-telat banget lah, pikir saya. Katanya emang bagus kok. Banyak unsur humornya. Dan saya selalu suka novel yang ada humornya. Seenggaknya dalam satu novel, seserius apapun, harus ada bagian yang bikin saya tertawa, minimal senyum. Saya sendiri sudah terpikat pada hisrom yang berjudul Believe karya Victoria Alexander. Padahal menurut mereka yang sudah banyak 'bergaul' dengan novel-novel hisrom, novel itu jelek. Entah bagian mananya yang jelek, saya tidak tahu. Sebab saya sendiri asik-asik saja saat membacanya. Banyak ngakaknya malah. Nah, perkara adegan hawt, menurut saya itu bonus saja sih. *kalem*

Jadi, buku yang menjadi WW saya kali ini adalah Bridgertons Series karya Julia Quinn. Seri ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan jumlah serinya nggak tanggung-tanggung, pemirsah: DELAPAN BUKU SAJA. Aih, ngebayangin ngumpulin semua serinya langsung encok. Apalagi harga rata-rata per buku di atas 50-an ribu. Dikali delapan biji maka totalnya adalah NGAJAK BANGKRUT. Ehem. Kalo ada yang mau jual koleksinya hubungi saya, oke? Harga boleh nego kan, gan? :D

Ngarep hibahan? Huahahahahahahahahahahahahaha...

Iya.

Banget.

*kemudian hening*


Bridgertons Series
by Julia Quinn
(klik judul untuk link Goodreads)

Jadi, apa Wishful Wednesday-mu hari ini? :)

Mau ikutan Wishful Wednesday? Caranya gampang:
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu.
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu. :)

29 Jul 2013

Giveaway #6

CLOSED!


Giveaway time! GA kali ini random banget (serandom yang punya blog). Tadinya nggak dalam rangka apa-apa sih, kepingin aja bikin GA. Lagipula sebelumnya saya sudah janji untuk bikin GA. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu blog ini ternyata sudah mencapai 30.000+ pageviews. Yeeey! Jadi anggap aja GA ini sebagai ungkapan terima kasih saya buat teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog ini.

28 Jul 2013

Mahogany Hills by Tia Widiana

Judul Buku: Mahogany Hills
Penulis: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: 344 hlm
ISBN-13: 9789792295849
Harga: Rp. 58.000,-
Rating: 4,5/5


Kisah ini dibuka dengan adegan Jagad Arya dan Paras Ayunda yang sedang bermobil menuju Mahogany Hills, sebuah rumah putih berlantai dua yang terletak di wilayah Sukabumi. Rumah itu sangat indah, dikelilingi pemandangan asri yang tak tersentuh polusi. Sebuah tempat yang cocok untuk dihuni pasangan yang baru menikah itu. Lagipula, Jagad memang sedang membangun resor tak jauh dari Mahogany Hills, jadi akan lebih mudah mengawasi proses pembangunannya.

Pernikahan Jagad dan Arya adalah sebuah perjodohan, bukan dilandaskan pada cinta. Sebenarnya, Jagad menikahi Paras karena kalah berdebat dengan ibunya. Ia sama sekali tak mencintai Paras. Bahkan, bisa dibilang ia sama sekali tak mengenal Paras. Mereka bertemu pertama kali pada saat pertunangan. Sementara Paras sendiri sebenarnya sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, namun ia kembali demi perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Bagi Paras, menikah karena perjodohan bukanlah masalah. Ia telah melihat banyak pasangan yang menikah karena perjodohan namun tetap langgeng.

Yang tak diketahui Paras, bahwa tujuan Jagad menikahi dirinya adalah untuk menceraikannya. Jagad sebenarnya mencintai wanita lain. Maka Jagad berusaha sebisa mungkin membuat Paras merasa tidak bahagia selama berada di Mahogany Hills. Sayang sekali usaha Jagad tak membuahkan hasil, sebab di laur dugaan, Paras adalah wanita yang tegar. Meski Jagad terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pernikahan mereka dan bahkan menolak Paras saat malam pertama mereka di Mahogany Hills, Paras tetap bersikap sebagaimana istri yang baik; melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan tetap melayani suaminya dengan sabar, kecuali bagian berhubungan intim. Paras berharap, sikapnya dapat melunakkan hati sang suami dan pelan-pelan mulai mencintai dirinya.

Lagi-lagi ketagaran Paras perlu diuji. Seolah belum puas menunjukkan penolakan terhadap Paras, Jagad membawa wanita lain ke Mahogany Hills. Secara terang-terangan, Jagad menunjukkan kemesraanya dengan Nadia, dan berkata bahwa wanita itulah yang seharusnya menjadi istrinya. Hal tersebut membuat Paras mempertanyakan sikapnya sendiri. Keraguan menghinggapi dirinya. Apakah ia benar-benar yakin Jagad akan luluh terhadap kesabaran dan kecintaan yang ditunjukkannya?

Kemunculan Adrian, lelaki dari masa lalu Paras, akhirnya memicu peristiwa yang membuat Paras dan Jagad sama-sama terguncang. Pada akhirnya Paras dan Jagad harus menetapkan pilihan, antara mempertahankan pernikahan atau mengakhirinya. Satu hal akhirnya disadari Jagad, bahwa jauh dalam lubuk hatinya, pria itu sebenarnya mencintai istrinya.

***

Mahogany Hills adalah novel Amore pertama yang saya baca. Kebetulan juga, novel ini adalah juara pertama Lomba Penulisan Novel Amore 2012 yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Harus saya akui, saya sangat menyukai novel ini. Memang tema yang diangkat tidaklah baru. Novel tentang pernikahan yang diawali dengan perjodohan yang saya baca sebelum ini adalah Dimi Is Married karya Retni SB. Tapi jika harus membandingkan kedua novel tersebut, saya dengan senang hati akan memilih Mahogany Hills sebagai yang terfavorit.

Saya terpukau pada gaya bercerita sang penulis. Novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku, namun penulis mampu menuliskannya dengan luwes sehingga saya dapat menikmati novel ini tanpa kendala sama sekali. Alur ceritanya mengalir dengan baik. Saya salut dengan kepiawaian penulis dalam memilih diksi. Setiap kata dipilih dengan cermat, membuat novel ini nikmat untuk dibaca, juga rapi. Penulis juga pintar membuat pembaca bertanya-tanya, sampai-sampai saya nyaris tak bisa melepas buku ini karena penasaran.

Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan setting dalam novel bersampul manis ini juga merupakan salah satu poin plus yang tak boleh diabaikan. Selama membaca novel ini, saya dapat merasakan seolah saya benar-benar berada di Mahogany Hills. Seolah rumah itu adalah rumah saya sendiri dan saya sudah sering mengamati pemandangan alam sekitar melalui salah satu jendela rumah itu.

Tak hanya setting, karakter-karakter yang diciptakan oleh penulis juga begitu kuat. Proses perkembangan karakter dalam novel ini terasa begitu nyata dan wajar. Saya dapat memahami perasaan Paras yang berusaha menjadi istri yang baik. Saya juga bisa memahami isi hati Jagad dan keputusan bodoh yang dibuatnya. Yeah, awalnya saya memang membenci tokoh ini. Koreksi, sampai akhir novel ini saya masih membencinya. Saya memang bisa memahaminya, tapi tidak pernah setuju pada keputusannya.

Konflik dalam novel cukup menarik. Akan tetapi, saya merasa penulis sebenarnya masih bisa mengeksplorasi lagi novel ini. Karakter Nadia dan Adrian sebenarnya bisa lebih digali lagi. Nadia, misalnya, mengingat karakternya yang keras dan desperate pasca gagal menikah, harusnya tak akan melepaskan Jagad begitu saja. Sama halnya dengan Adrian. Saya bahkan masih khawatir Adrian akan kembali lagi kelak. Bukahkan laki-laki itu amat posesif? Dan soal amnesia. Tadinya saya pikir unsur amnesia akan membuat saya menjadi antipati terhadap novel ini. Tapi kenyataannya, saya ternyata dapat memaklumi adegan yang sebenarnya sudah basi itu. Bisa jadi karena bagian tersebut berperan sangat penting dalam cerita, sehingga tidak terkesan sekadar mendramatisir cerita. Meski demikian, saya berharap adegan amnesia ini tak dipakai lagi dalam karya-karyanya kelak.

Terlepas dari beberapa hal yang kurang dikembangkan oleh penulis, saya harus mengacungi jempol terhadap novel ini. Saya bersyukur karena novel Amore pertama yang saya baca ini tidak mengecewakan, setidaknya bagi saya yang memang hampir tidak pernah membaca novel dari lini Amore, Harlequin, maupun Historical Romance. Ah, saya jadi ingin membaca novel Amore yang lain (yang jelas sih, bukan novel Amore yang sampulnya biru-biru itu, hehe).

Saya mengucapkan terima kasih kepada Tia Widiana atas pengalaman menyenangkan selama membaca novel ini. Saya jatuh cinta pada keputusannya menggunakan bahasa Indonesia baku. Saya jatuh cinta pada gaya berceritanya yang santun. Sudah pasti, saya sangat menantikan karya-karyanya yang lain.


26 Jul 2013

Daisyflo by Yennie Hardiwidjaja

Judul: Daisyflo
Penulis: Yennie Hardiwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Februari 2012
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9789792280241

Sinopsis:
Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Novel ini dibuka dengan adegan yang tak biasa. Tara, tokoh utama novel ini, sedang menunggu seseorang. Tepatnya, menunggu seseorang yang akan ia bunuh, dan orang itu adalah Tora. Berbagai pertanyaan pun muncul. Siapa Tora? Mengapa Tara ingin membunuhnya? Jarang sekali ditemui sebuah novel metropop dimulai dengan adegan menegangkan seperti ini. Kemudian adegan beralih ke Alexander yang sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang. Laki-laki itu rupanya sudah mengetahui rencana Tara. Ia bisa menebaknya dari perubahan sikap Tara akhir-akhir ini. Tara sering berlatih untuk membentuk fisiknya, yang membuat tubuh gadis itu lebih atletis. Juga, Tara pernah mengutarakan niatnya untuk ikut latihan bela diri. Kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar Tara benar-benar akan melaksanakan niat yang dulu pernah ia utarakan kepada Alex, yaitu membunuh Tora. Demi cintanya pada Tara, Alex harus mencegah kekasihnya itu berbuat lebih jauh.

Berhasilkah Alex mencegah Tara? Apa gerangan yang membuat Tara penuh dengan dendam, hingga berani mengambil keputusan nekat tersebut?

Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah gadis bernama Tara. Ia berpacaran dengan Tora. Tara dan Tora. Nama yang cocok, bukan? Sayangnya, hubungan mereka tidak sehat. Tora adalah pria pencemburu dan sangat posesif. Juga, ia laki-laki yang amat-sangat-tidak-modal-sekali. Masak selama berhubungan dengan Tara, hampir setiap saat selalu Tara yang keluar duit? Bahkan, mobil yang dibeli orang tua Tara justru lebih sering dipakai Tora. Tara sepertinya cinta mati pada Tora, sehingga ia kerap mengalah dan meyakini diri sendiri bahwa cinta memang butuh pengorbanan. Belakangan, sikap posesif Tora semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia melakukan hal yang paling menjijikkan yang pernah dilakukan pria terhadap wanita. Tara hanya bisa pasrah dan memilih tetap bertahan di samping Tora.