16 Mei 2012

Dimsum Terakhir by Clara Ng

Judul: Dimsum Terakhir
Penulis: Clara Ng
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal: 361 hlm.
ISBN: 9792220690
Rating: 3/5

Sinopsis:
Empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus-menerus berdetik.

Siska Yuanita, Indah Pratidina, Rosi Liliani, dan Novera Kresnawati terpaksa harus pulang untuk mendampingi ayah yang diprediksi tidak punya harapan hidup lagi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa kesempatan berkumpul kembali ternyata mengubah segalanya. Pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan bermunculan, termasuk ketakutan, kecemasan, dan keangkuhan mengakui bahwa kehidupan dan kematian hanyalah sekadar garis tipis.

Dimsum Terakhir adalah drama penuh harum memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh novelis bestseller Indonesia, Clara Ng. Kisah ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang (selalu) ada di setiap hati kita semua.

The (Un)Reality Show adalah novel pertama Clara Ng yang saya baca. Sayangnya novel tersebut membuat saya kecewa, bahkan menyesal telah membelinya (plus, cuma dapat 2/5 bintang dari saya). Sejak saat itu saya berjanji nggak akan pernah lagi membaca novel-novel Clara Ng. Stupid me? Yeah, I admit it.

Tapi… saya akhirnya melanggar janji itu. Saya pikir, rasanya nggak adil menilai Clara Ng segitu buruknya. Secara penulis best seller gitu lho. Harusnya beliau punya karya-karya yang lain yang lebih oke. Maka saya pun beranggapan bahwa saya hanya sial saja karena membaca karyanya yang kebetulan tidak cocok dengan selera saya. Setelah cari info sana-sini, banyak yang merekomendasikan Dimsum Terakhir, yang katanya salah satu novel terbaik Clara Ng.

Saya pun memutuskan mencari novelnya. Untungnya ketemu di… tempat penyewaan! Hahaha. Saya belum mau mengambil resiko membeli novel Clara Ng sebab masih trauma dengan The (Un)Reality Show (duileee sampe segitunyaaa).

Let’s see… sebagus apa sih, Dimsum Terakhir ini?

Dimsum Terakhir mengajak kita menyelami kehidupan empat tokoh utama yang kebetulan keturunan Tionghoa, yang kebetulan (lagi) keempatnya adalah saudari kembar. Kebayang nggak sih, susahnya sang ibu ketika melahirkan mereka? Lanjuuut. Meski keempatnya adalah kembar identik alias punya wajah yang sangat mirip satu sama lain, ternyata tak diiringi dengan kesamaan kepribadian. Masing-masing punya sifat yang sangat bertolak belakang. 

Mulai dari sang kakak, Tan Mei Xia a.k.a Siska, seorang business woman yang tegas, cuek, dan suka bicara terus terang. Ia bekerja pada sebuah perusahaan di Singapura. Kedua adalah Tan Mei Yi a.k.a Indah, seorang wartawan dan novelis yang karya perdananya meledak di pasaran. Saat merasa merasa cemas, penyakit gagap-nya suka muncul. Saudara ketiga Tan Mei Xi a.k.a Rosi, cantik, tapi juga maskulin, seorang petani bunga mawar (persis dengan namanya). Yang terakhir, si bungsu, bernama Tan Mei Mei a.k.a Novera, guru TK berhati lembut, memiliki rasa percaya diri yang rendah sebagai perempuan karena rahimnya diangkat akibat kanker rahim yang pernah dideritanya.

Keempat perempuan cantik yang sebelumnya menjalani kehidupannya sendiri-sendiri ini terpaksa berkumpul kembali sebab sang ayah yang sakit-sakitan sudah divonis tak akan hidup lebih lama lagi oleh dokter. Sang ayah punya satu permintaan terakhir: Ia ingin anak-anak gadisnya segera menikah sebelum dirinya wafat. Konflik yang sebenarnya pun dimulai, karena masing-masing memiliki alasan sendiri mengapa hingga saat ini mereka belum menikah.
  • Siska yang trauma dengan hubungan cinta masa lalunya memutuskan untuk hidup single. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa perempuan bisa hidup bahagia dan mandiri tanpa didampingi laki-laki.
  • Rosi, ternyata bukanlah Rosi yang seperti selama ini dikenal saudari-saudarinya. Ia sebenarnya adalah lelaki yang hidup dalam tubuh perempuan. Fisiknya memang perempuan, tapi jiwanya seratus persen laki-laki. Dan, yeah, ia punya pacar perempuan bernama Dharma.
  • Indah beda lagi. Ia terlibat cinta terlarang dengan seorang pastor, bahkan kini tengah mengandung anak dari sang pastor. Sayangnya sang pastor menolak menikahinya dengan berbagai macam alasan sok rohani dan sebagainya. (Saya pribadi rasanya pengen mengajak berantem lelaki sok suci ini. Dasar b*ngkeee!) *maap emosi, Sodara-Sodara* *minum aer putih*
  • Terakhir, Novera, seperti sudah disebutkan sebelumnya, ia merasa luar biasa tak percaya diri dengan kondisinya yang tidak memiliki rahim sehingga takut menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Ia takut kelak kekasihnya akan kecewa sebab dirinya tak mampu memberikan keturunan.
Lengkap sudah problem keempat saudari tersebut. Sejujurnya, mereka tak ingin membuat sang ayah kecewa, apalagi dalam keluarga Tionghoa, orang tua dan para leluhur amat sangat dihormati. Adalah pantangan jika tidak memenuhi kehendak orang tua. Apakah yang akan dilakukan Siska, Indah, Rosi, dan Novera? Apakah mereka sanggup memenuhi permintaan terakhir sang ayah dalam waktu yang sedemikian sempit?

Baca kisah lengkapnya dalam Dimsum Terakhir.

Pendapat saya tentang buku ini? Hmmm. Okelah. Buku ini memang lebih bagus dari The (Un)Reality Show yang sempat membuat saya menghindari karya Clara Ng yang lain. Dalam buku ini saya memperoleh gambaran kehidupan keluarga Tionghoa di Indonesia, tentang perayaan-perayaannya, juga tentang tradisi-tradisinya. Saya kagum pada sifat umum warga keturunan Tionghoa yang terkenal ulet, pekerja keras, dan memiliki rasa kebersamaan sangat tinggi untuk keluarga maupun kerabat.

Mengenai hubungan erat dalam keluarga, contoh nyata yang cukup sering saya temui adalah ketika berbelanja di supermarket. Tak jarang saya melihat lelaki Tionghoa seumuran saya (20-an) bersama saudaranya yang lebih tua (juga lelaki) berbelanja dengan mesranya bersama sang ayah. Jarang sekali saya temui pria non-Tionghoa berbelanja dengan ayah, mesra pula. Biasanya kalau nggak bersama pacar, ya bersama istri. Pernah juga saya melihat rombongan keluarga besar keturunan Tionghoa (deeeh, lama-lama capek juga ngetik ‘Tionghoa’, padahal apa salahnya ya, ngetik ‘Cina’?) yang terdiri dari pasangan kakek-nenek, pasangan suami-istri, serta kurang lebih 4 anak kecil umur 5-8 tahunan, mereka menyusuri setiap rak untuk mencari barang yang ingin dibeli dalam suasana riuh yang menyenangkan. Ah, jadi ingat Bapak-Ibu-adik di kampung. :’)

Kembali ke novel Dimsum Terakhir. Tokoh yang unik di sini adalah Rosi. Atau Roni. Clara Ng menggambarkan tokoh Roni berikut permasalahannya dengan jujur dan apa adanya. Clara Ng mencoba mengingatkan kita bahwa orang-orang seperti Roni memang ada di sekitar kita. Alih-alih bersikap tidak bersahabat (melipat dada dan mengerutkan kening, bahkan mencemooh), mengapa kita tak bersikap lebih ramah saja? Mereka sudah cukup tertekan mengadapi diri sendiri, tak perlulah kita tambah-tambahi dengan sikap sok suci kita. (Bah, gue ngemeng apa yak, barusan? Maaf, kalau nggak berkenan silakan diabaikan.)

Cover Baru Dimsum Terakhir
Oh ya, dalam buku ini Clara Ng sedikit menyentil beberapa perlakuan tak menyenangkan yang umum dialami warga keturunan Tionghoa dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Hanya sekadar sentilan sih. Jadi tak perlulah khawatir buku ini akan menyinggung perasaan. Yeah, kecuali bagi mereka yang memang rasis dan menganggap keturuan Tionghoa bukan orang Indonesia, bisa jadi akan merasa tertampar.

Selain poin-poin yang saya sebutkan di atas, novel ini masih memiliki kekurangan, setidaknya bagi saya. Terkadang, dialog dalam novel ini agak kurang cocok dengan karakter para tokohnya.  Kemudian ada ucapan para tokoh yang saya rasa agak lebay alias berlebihan, sehingga jadi sedikit out of character. Beberapa adegan tak penting menurut saya bisa dihilangkan, karena toh adegan tersebut tak memberi kontribusi berarti dalam plot. Kalau maksudnya untuk menegaskan karakter para tokoh, rasanya di awal-awal novel ini Clara Ng sudah cukup memperkenalkan tokohnya dengan baik.

Bagi yang ingin mendapatkan sedikit gambaran mengenai kehidupan warga keturunan Tionghoa di Indonesia, juga bagi mereka yang suka kisah tentang keluarga, novel ini bisa dijadikan pilihan. Tapi bagi penggemar kisah-kisah romance (seperti saya, hehe), jangan berharap banyak dari novel metropop ini. Sekadar info, novel ini sudah dicetak ulang dengan cover baru yang lebih cantik. >.<

Oh ya, saya nggak kapok lagi kok. Bisa dipastikan saya akan membaca karya Clara Ng yang lain. :)

***

6 komentar:

  1. huahaha... pengalamannya sama kayak pas saya baca novelnya V. Lestari. Novel pertamanya yang saya baca kurang nendang, cuma setelah baca novel selanjutnya langsung mikir, emang gak boleh ngejudge satu penulis hanya dari 1 karya yah.. :D

    BalasHapus
  2. Bener banget, Bro! Wah, pemain Igo rupanya. Jadi ingat manga Hikaru No Go. :)

    BalasHapus
  3. haha, iya. saya main igo :D wah, pernah baca HnG ternyata XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantaaap. Aku nggak ngerti Igo, tapi jelas banget kalo itu permainan yang super-duper rumit. >.<

      Hapus
  4. kalo yang (un)reality show juga gw mangap.. kaga ngarti.. wkakakakakaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue sih ngarti darl. pernah nonton film Identity? kurang lebih seperti itulah. cuma, alih-alih surprise (in a good way), gue malah syoknya kayak, "eh? kok begini?"

      Hapus

Back to top