27 Mei 2012

The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta by Windy Ariestanty, dkk

Judul Buku: The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta
Penulis: Alanda Kariza, Rahne Putri, Richard Miles, Riyanni Djangkaru, Ve Handojo, Travel Junkie Indonesia, Windy Ariestanty, Trinzi Mulamawitri, Fajar Nugros, Farid Gaban, JFlow, Matatita
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 264 Halaman
ISBN: 9799797805500
Harga: Rp. 48.500,-
Rating: 3/5



The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta. Sesuai tagline-nya buku kedua ini berisi cerita-cerita dari para penulis yang melakukan perjalanan atau travelling, khusus di wilayah Indonesia. Sama seperti buku pertama, buku kedua ini juga berisi 12 cerita dari 12 penulis berbeda. Dua penulis buku pertama turut ambil bagian di buku ini, mereka adalah Ve Handojo dan Windy Ariestanty.

Kisah pertama, yang sangat saya sukai, berjudul "Berburu Gajah, Garuda, dan Naga ke Trusmin". Judul yang unik, bukan? Ternyata yang dimaksud Gajah, Garuda, dan Naga di sini adalah motif batik. Yep, Ve Handojo berkisah tentang kunjungannya ke Kampung Trusmin, Cirebon untuk berburu batik. Dari kisah yang singkat ini, kita bisa memperoleh banyak informasi menarik soal batik yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Dan saya baru tahu (hiks, telat banget) bahwa batik ternyata bukan punya Indonesia saja. Karena secara harafiah "batik" adalah teknik menghias permukaan kain dengan menggunakan metode menahan pewarna (dye resist). Yang membedakan batik Indonesia dengan batik-batik dari negara di Eropa, Cina, bahkan Malaysia, adalah penggunaan canting. Jadi, kita jangan keburu emosi dulu sewaktu Malaysia berkata bahwa mereka juga punya batik. Bisa jadi mereka memang benar-benar punya. Nah, kalau metode penggunaan canting yang mereka claim, barulah kita boleh marah, karena canting memangs asli milik kita, milik Indonesia. Sebetulnya tak perlu marah juga sih, soalnya dunia sudah mengakuinya kok. :)

Cerita-cerita selanjut juga tak kalah menarik. Misalnya, cerita dari Matatita tentang pengalaman menegangkan saat naik pesawat Twin Otter dari Timika menuju Ewer (Asmat); Cerita dari Riyanni Djangkaru saat melihat ikan Mola-Mola dari jarak sangat dekat sewaktu melakukan diving di Sanur, Bali; Cerita dari Alanda Kariza dan Tinzi Mulamawitri yang sama-sama membagi pengalaman mereka ketika mengunjungi Lombok (kamu pasti bakal kepingin menunjungi Lombok setelah membaca kisah mereka *promosi.com*); Cerita dari JFlow saat pulang kampung ke Ambon; Cerita dari Richard Miles Si Bule Ngehe, saat menjalani praktik mengajar di Salatiga; Cerita dari Fajar Nugros saat mengunjungi raja Ampat dan menyempatkan diri bermain bola dengan anak-anak di sana; dan cerita-cerita lainnya.



Saya pribadi lebih menyukai buku ini dibanding buku pertama. Mungkin karena tempat yang diceritakan masih di wilayah negara kita sendiri, sehingga kemungkinannya lebih besar bagi saya untuk mengunjunginya, hehehe. Meski begitu, harapan untuk melakukan travelling ke luar negeri masih besar juga sih. Ingat Lucerne yang diceritakan Mbak Windy di buku pertama? Ya, saya masih menyimpan angan untuk mengunjunginya suatu saat nanti. *pray*

Seperti buku pertama, adaaaa saja cerita yang kurang begitu menarik (menurut saya). Mungkin lebih karena gaya bahasanya. Misalnya cerita Farid Gaban berjudul "Berziarah ke Digul, Penjara Tak Bertepi" yang menurut saya agak membosankan karena saya jadi seperti membaca buku sejarah. Hehe, penilaian saya ini memang sangat subjektif

Soal typo, justru di buku kedua ini malah lebih banyak typo ketimbang buku pertama. Sayang sekali, menurut saya. Kalau nanti ada The Journeys 3, saya sangat berharap tidak ada typo lagi. Amin.

1 komentar:

Back to top