16 Jul 2013

Dimi Is Married by Retni S.B.

Judul: Dimi Is Married
Penulis: Retni S.B.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Oktober 2010
Tebal: 384 hlm
ISBN-13: 9789792262773
Harga: Rp. 52.000,-
Rating: 4/5

-------------------------------------------------------oOo-------------------------------------------------------

Sebuah tema, sesering apapun diangkat ke dalam kisah fiksi, tak akan terasa membosankan bila sang penulis mampu menuliskannya dengan baik. Dimi Is Married adalah salah satu contoh novel yang sukses mengangkat tema klasik mengenai perjodohan, menjadi suatu kisah yang tak bosan untuk disimak.

Garda, pria tampan yang sukses, anak dari direktur salah satu perusahaan pulp and paper besar di Indonesia. Dikarenakan sikapnya yang playboy dan tak pernah serius membina hubungan dengan wanita, sang ayah memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak gadis dari teman sang ayah. Garda sebenarnya tak menyukai ide tentang perjodohan ini, namun ia memilih untuk menurut, sebab ia mengincar posisi sebagai penerus perusahaan. Garda tak ingin sikap membangkangnya membuat sang ayah membatalkan niat untuk menjadikan Garda sebagai penerus perusahaan, dan justru menyerahkannya kepada Rio, adik Garda.

Dimi, gadis mungil yang lincah dan penuh semangat, sosok perempuan yang mencintai alam. Saat mendapati dirinya akan dijodohkan dengan pria tampan, mapan, dan santun, gadis itu memutuskan untuk patuh. Tapi alasan sebenarnya adalah, gadis itu rupanya telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Garda. Maka pernikahan keduanya pun dilangsungkan, meski kesannya terburu-buru dan dirayakan dengan sederhana, serta hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat dari kedua belah pihak.

Akan tetapi, Dimi merasakan bahwa ada yang tak beres dengan pernikahannya. Dimi bisa merasakan bahwa suaminya tidak benar-benar mencintainya. Kenyataannya memang demikian. Bagi Garda, Dimi bukanlah sosok wanita ideal yang pantas menjadi istrinya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang selama ini Garda kencani, penampilan Dimi menurutnya berada jauh dibawah standar. Selama menikah, Garda tak pernah memperkenalkan Dimi kepada teman-temannya, atau membiarkan gadis itu mengenal kehidupan sosialnya, seakan-akan Garda malu mengakui Dimi sebagai istri. 

Impian Dimi pun hancur. Pria yang ia cintai sejak pertama kali bertemu, dan kini telah menjadi suaminya, ternyata tak memiliki perasaan apa-apa kepadanya. Selama ini Dimi berusaha untuk tegar demi kedua orang tuanya. Namun kehadiran mantan pacar Garda yang bernama Donna, langsung memporak-porandakan kehidupan rumah tangga Dimi dan Garda. Merasa tak sanggup lagi menanggung siksaan batin, Dimi memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Garda. Di lain pihak, ketiadaan Dimi justru menyadarkan Garda akan perasaannya terhadap Dimi.

Bagaimana kelanjutan kisah pernikahan Dimi dan Garda? Apa yang akan dilakukan Rio setelah mengetahui kebenaran tentang pernikahan kakaknya? Terlebih lagi, Rio sepertinya punya perasaan khusus terhadap Dimi. Baca kisah selengkapnya dalam Dimi Is Married karya Retni S.B.

***

Novel ini adalah karya pertama Retni S.B. yang saya baca, dan saya amat menikmatinya. Gaya bertutur sang penulis mampu mencuri seluruh perhatian saya. Novel ini ditulis dengan lincah dan mengalir, sehingga sulit rasanya untuk meletakkan novel ini sebelum selesai membacanya. Biasanya novel-novel bertema perjodohan sering menitikberatkan pada konflik perlawanan sang anak terhadap kehendak orang tua (menentang perjodohan), namun novel ini berbeda. Anak-anak justru menerima perjodohan meski dengan alasan yang berbeda-beda, dan berusaha untuk mempertahankan pernikahan mereka meski sebenarnya mereka tak bahagia saat menjalaninya.
Kami berdua sepertinya sama-sama mentok pada urusan "menjaga perasaan orang tua". Ck ck, sangat berbakti sekali, bukan? Padahal bisa dipastikan, para orang tua itu akan lebih suka memilih menelan kekecewaan daripada membiarkan anak-anaknya memiliki kebahagiaan palsu. (Dimi, hlm 170-171)
Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Dimi dan Garda, sehingga pembaca akan dapat dengan mudah menyelami perasaan kedua tokoh sentral dalam nove ini. Penulis sangat lincah memainkan perannya baik sebagai Garda, maupun sebagai Dimi. Pembaca pun dimudahkan oleh perbedaan jenis font yang digunakan untuk membedakan sudut pandang Dimi maupun Garda. Akan tetapi, meski dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, saya merasa sulit untuk bersimpati kepada Garda, sehingga saya sulit menerima keputusan yang dibuatnya. Sementara Dimi, karakternya begitu lovable. Tak sulit untuk menyukai gadis ini sejak cerita dimulai hingga cerita berakhir.

Plotnya sendiri mengalir dengan baik. Proses perkembangan hubungan Dimi dan Garda terasa wajar dan tidak terkesan dipaksakan. Saya menyukai proses perkembangan karakter Dimi; mulai dari gadis yang ceria dan terkesan kekanak-kanakan, menjadi gadis dewasa yang tegar namun tetap tak kehilangan cahaya hidupnya meski berada dalam tekanan batin. Oh ya, karakter lain yang mencuri perhatian adalah Rio. Penulis menggambarkannya sebagai laki-laki yang cuek. Hubungannya yang unik dengan kakaknya juga menambah warna dalam novel ini.

Hal lain yang menjadi poin plus dari novel ini adalah isu lingkungan hidup yang diangkat oleh penulis. Tentang bagaimana sebuah perusahaan mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya namun mengorbankan lingkungan hidup (dalam hal ini pembabatan hutan secara liar demi meningkatkan produksi kertas). Saya mengacungi jempol pada kepiawaian penulis dalam memadukan hal tersebut ke dalam novel metropop ini. Secara halus, penulis mencoba mengajak pembaca untuk lebih sadar lingkungan.

Meski begitu, terdapat beberapa hal yang agak mengganggu bagi saya. Perkembangan cerita yang tak terduga membuat novel ini menjadi semacam novel thriller/petualangan, terutama saat menjelang akhir cerita. Tak buruk sebenarnya, hanya saja saya merasa penulis seharusnya bisa menulisnya dengan plot yang berbeda, tanpa perlu adanya kasus penculikan dan sebagainya, apalagi melibatkan tokoh-tokoh tambahan (misalnya Edgar) yang pada akhirnya hanya menjadi tempelan belaka. Juga, ending-nya menurut saya agak terburu-buru. Happy ending sih, tapi tetap saja saya tak bisa menahan diri untuk berkomentar, "Eh? Udahan nih? Segitu doang?"

Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik. Saya suka gaya menulisnya, suka ide ceritanya, juga suka karakter utama perempuannya. 4 dari 5 bintang saya berikan untuk novel ini. Tentu saja, saya jadi ingin membaca karya-karya Retni S.B. yang lain.


Postingan ini untuk dan reading challenge What's in a Name Reading Challenge 2013

2 komentar:

  1. pengen buku ini pesennya dimana yh yg masih ada?

    BalasHapus
  2. Penasaran bgt, pngen baca. Pesan buku ini di toko buku daerahku ada ga ya?:')

    BalasHapus

Back to top