12 Apr 2015

The Maze Runner (The Maze Runer #1) - James Dashner

Judul: The Maze Runer
Seri: The Maze Runner #1
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 532 hlm
ISBN13: 9789794336557

Sinopsis:
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong Maze yang berkelok-kelok di luar dinding Glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam glade. Ya, pada saat itulah Griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran di dalam Maze.

Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan Maze selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.

Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi turun menutup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati Maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari lari keluar dengan nyawa sebagai taruhannnya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mukjizat datang tiba-tiba?

Thomas, 16 tahun, panik saat mendapati dirinya berada di tempat yang sama sekali asing. Ingatannya telah dihapus, satu-satunya yang diingatnya hanyalah namanya sendiri. Tempat asing itu disebut Glade dan para penghuni di dalamnya menyebut diri mereka Glader. Glade dihuni oleh sekitar 60-an anak laki-laki seusia Thomas. Sama seperti Thomas, ingatan mereka juga telah dihapus oleh siapapun di luar sana yang mengirim mereka ke tempat itu. Para Glader tidak tahu siapa yang melakukan ini terhadap mereka atau apa tujuannya. Yang mereka tahu, ialah bahwa mereka harus bertahan hidup.

Glade berbentuk segi empat, luasnya melebihi lapangan sepak bola. Di sekelilingnya berdiri tembok beton tinggi yang mustahil untuk dipanjat. Di luar Glade membentang rangkaian maze yang besar dan lintasannya sering berubah-ubah. Pada setiap sisi tembok Glade terdapat pintu menuju maze yang selalu menutup menjelang matahari terbenam. Saat malam tiba, makhluk-makhluk menyeramkan yang disebut Griever berkeliaran untuk memangsa siapapun yang terkurung di luar Glade. Para Kreator—sebutan para Glader bagi siapapun di luar sana yang menempatkan mereka di Glade—sepertinya sengaja mejembloskan anak-anak ke penjara raksasa tersebut untuk menjalankan semacam tes, tapi tak ada yang benar-benar yakin soal itu.

Glade memiliki pemimpin bernama Alby, anak laki-laki berperangai keras yang sudah berada di Glade selama dua tahun dan yang paling senior dibanding Glader lain. Penghuni Glade membentuk sebuah Dewan yang mengatur kehidupan di Glade. Untuk bertahan hidup, para Glader memiliki macam-macam profesi. Ada yang bertani, beternak, yang bertugas untuk memasak, bersih-bersih, dan lain-lain. Namun ada satu profesi yang sangat menarik bagi Thomas, yaitu Pelari. Para Pelari bertugas berlari menyusuri maze, memetakan pola maze untuk mencari kemungkinan adanya jalan keluar dari maze. Para Pelari harus kembali sebelum matahari terbenam agar tidak berurusan dengan monster-monster Griever. Pernah ada kejadian di mana salah satu pelari disengat oleh Griever dan mengalami kesakitan yang amat parah. Hal tersebut cukup ampuh untuk memotivasi para Pelari agar tiba di Glade tepat waktu. Terlepas dari ingatannya yang telah dihapus, anehnya Thomas merasa familiar dengan Glade. Karena itulah ia berkeinginan untuk menjadi Pelari, untuk mencari jalan keluar dari neraka terkutuk itu, serta untuk menemukan jawaban.

Berbagai peristiwa aneh terjadi di Glade tak lama sesudah Thomas dikirim ke Glade. Mulai dari Gally, salah satu mantan Pelari yang pernah disengat Griever, yang menuduh Thomas sebagai mata-mata para Kreator. Peristiwa aneh lain adalah ketika sesosok anak perempuan bernama Teresa dikirim ke Glade dengan membawa sebuah pesan misterius yang berhubungan dengan Thomas. Keadaaan semakin memburuk saat pintu tembok Glade tidak menutup setelah matahari terbenam, sehingga para Griever dapat dengan bebas menerobok masuk ke Glade dan mulai mengambil anak-anak satu per satu.

Siapa sebenarnya Thomas? Mengapa para Kreator mengirim anak-anak ke Glade? Siapakah Teresa? Benarkah Thomas bertanggung jawab atas apa yang berlangsung di Glade?

Temukan jawabannya dalam The Maze Runner karya James Dashner.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang Thomas yang terbatas. Sama seperti Thomas, pembaca dibuat penasaran terhadap apa sebenarnya yang berlangsung di Glade. Membaca buku ini memang harus bersabar dan menahan diri untuk tidak buru-buru mengintip halaman terakhir demi menemukan jawaban atas begitu banyak pertanyaan yang muncul. Saya harus mengakui bahwa penulis telah sukses membuat saya penasaran dan ingin mengetahui keseluruhan cerita novel ini.

Walau bergenre dystopia, namun saya belum memangkap suasana dystopia-nya sama sekali. Buku ini memang tidak menjelaskan dunia dystopia macam apa yang tengah berlangsung, atau bahkan di negara mana persisnya Glade berada. Hampir keseluruhan isi buku ini hanya bersetting di Glade dan sesekali di dalam maze, namun bukan berarti buku ini menjadi sebuah buku dystopia yang buruk. Justru itulah yang membuat The Maze Runner berbeda dengan genre dystopia yang lain. Unsur thriller-nya lebih terasa, terutama ketika Thomas dan Minho (ketua Pelari) harus berhadapan dengan para Griever.

Jangan berharap ada unsur romance di buku ini, sebab isi ceritanya cowok banget. Mulai dari interaksi para penghuninya yang cenderung ‘kasar’ dengan lelucon khas cowok, ditambah adegan-adegan aksi yang menegangkan, membuat novel ini sangat cocok dibaca oleh pembaca laki-laki, atau siapapun yang memang ingin membaca novel science fiction tanpa mengharapkan adanya romance. Memang ada Teresa di buku ini yang memiliki ‘ikatan’ khusus dengan Thomas. Namun meski Thomas sepertinya naksir Teresa, hal tersebut tidak terlalu ditojolkan oleh penulis.


Saya membaca novel ini dalam rangka baca dan posting bareng BBI bulan Maret kemarin, yaitu buku-buku yang diadaptasi menjadi film dan sebaliknya. Saya memilih The Maze Runner sebab saya telah menonton filmnya terlebih dahulu. Terdapat cukup banyak perbedaan antara buku dan film, namun versi film sama sekali tidak mengubah konsep cerita dalam buku. Adegan-adegan versi film memang tidak selengkap buku (bahkan Thomas dan Teresa tidak diceritakan memiliki kemampuan telepatik satu sama lain), namun berbagai improvisasi yang dilakukan para kreatof film patut diacungi jempol. Saya merasa versi film sama bagusnya dengan buku. Malah, adegan aksinya dibuat lebih menarik saat diadaptasi ke layar lebar. Keren!

Secara keseluruhan, The Maze Runner adalah bacaan yang sangat menghibur. Konsep Glade dan maze-nya sangat menarik. Dan meski saya penyuka romance, tapi saya sama sekali tidak mempersoalkan absennya unsur romance dalam buku ini. Ending novel ini cukup membuat penasaran sehingga saya tak sabar untuk segera membaca buku keduanya.

Baca Bareng Maret: Adaptasi
Read Big Challenge 2015

3 komentar:

Back to top