1 Apr 2015

Enter The Magical Realm: High Fantasy (+Giveaway)

http://www.kandangbaca.com/2015/04/enter-magical-realm-high-fantasy.html

High Fantasy (atau dikenal juga dengan sebutan Epic Fantasy), merupakan salah satu subgenre fantasy yang belakangan ini marak dibicarakan. Adalah novel A Game of Thrones karya George R.R. Martin, yang disebut-sebut turut andil dalam mempopulerkan istilah high fantasy di kalangan pembaca, walau sebenarnya ada banyak judul buku high fantasy yang sudah terkenal jauh sebelum GOT, dan saya yakin beberapa di antaranya sudah kamu baca. Sebut saja The Lord of The Rings, The Hobbit, dan The Chronicles of Narnia.


Apa itu high fantasy? Apa yang membedakannya dengan jenis fantasy yang lain? Nah, setelah googling di sana-sini, saya menemukan bahwa ternyata masih sering terjadi perdebatan di kalangan pembaca mengenai syarat-syarat apa saja yang membuat sebuah fiksi fantasy layak dikategorikan sebagai high fantasy. Jadi, ceritanya ini saya lagi nyari teman buat diajak bingung berjamaah. *kedip-kedip* #dirajam

Menurut Om Wiki, “high fantasy is a subgenre of fantasy fiction, defined either by its setting in an imaginary world or by the epic stature of its characters, themes and plot.”

Kurang lebih, high fantasy dapat diidentifikasi melalui setting ceritanya yang berupa dunia imajiner/khayal, serta karakter-karakter di dalamnya yang kompleks.

Ada yang menyebut bahwa suatu bacaan fantasy dapat dikategorikan sebagai high fantasy apabila bersetting di dunia imajiner yang sama sekali nggak pernah dikenal di dunia nyata (contohnya Middle Earth di The Lord of The Rings). Atau, bersetting di dunia paralel yang mana untuk ke sana kita harus melewati semacam portal dari dunia nyata kita. (Hmm, mungkin kayak lemari baju yang menuju ke Narnia kali ya?).

Secara umum, novel-novel high fantasy memiliki ciri-ciri berikut:
  1. Bersetting di dunia khayalan (kebanyakan sih murni dunia khayalan, tapi bisa juga berupa dunia paralel yang tadi disebutkan di atas).
  2. Memiliki tema pertempuran antara kebaikan melawan kejahatan, dan dengan konsekuensi, apabila si hero gagal, dampaknya buruk banget bagi dunia tempat cerita tersebut berlangsung.
  3. Memiliki plot cerita yang berat/kompleks serta banyak sekali tokoh di dalamnya, dalam artian, cerita tidak melulu terfokus pada satu tokoh sentral saja.
  4. Melibatkan sihir.
  5. Adanya ras non-manusia kayak elf dan kurcaci, serta melibatkan mahkluk-mahkluk ajaib seperti naga, unicorn, atau monster-monster semacam orc dan troll.
  6. Bernuansa medieval atau abad pertengahan.

Meski demikian, sebuah novel fantasy yang telah memenuhi beberapa unsur di atas ternyata tak langsung dapat dicap sebagai high fantasy.

Ambil contoh nih, novel Stolen Songbird karya Danielle L. Jensen. Menurut penulisnya, novel karyanya itu adalah high fantasy. Tapi beberapa pembaca kurang setuju bila Stolen Songbird disebut sebagai high fantasy. Sebab meski bersetting di Kota Troll yang nota bene adalah dunia khayal dan bernuansa medieval, namun deskripsi settingnya masih terasa nanggung, ditambah plot ceritanya belum dapat dikategorikan sebagai cerita yang kompleks.

Bandingkan dengan A Game of Thrones. GOT, tidak melulu berkisah tentang kebaikan melawan kejahatan. Sementara elemen sihir, naga, dan monster (White Walkers) yang hadir di dalamnya, menurut si penulis sendiri, bukanlah hal yang menjadi menjadi konsern cerita. GOT dikategorikan sebagai high fantasy justru karena jalinan ceritanya yang kompleks dengan berbagai intrik perebutan tahta dan kekuasaan, serta melibatkan banyak sekali tokoh di dalamnya.

Sementara itu, The Lord of The Rings, tak diragukan lagi, memiliki semua unsur yang membuat pembaca manapun akan mantap berujar: “Ini nih, yang namanya high fantasy.”

Saya pribadi berpendapat bahwa sebuah novel high fantasy, selain harus memenuhi berbagai elemen fantasy dasar, juga wajib memiliki jalinan plot yang kompleks (dan tidak dipaksakan menjadi kompleks), disertai world building imajiner yang meyakinkan. Dengan begitu, pembaca tidak akan ragu untuk menganggapnya sebagai high fantasy.

Bicara high fantasy, mau tak mau muncul pertanyaan: bagaimana dengan low fantasy? Apa perbedaan antara high fantasy dan low fantasy?

Perlu diingat bahwa menyandang status sebagai high fantasy tidak berarti dirinya lebih tinggi dibanding genre bacaan fantasy yang lain, terutama bila disandingkan dengan low fantasy. Begitu pun sebaliknya, meski menyandang kata 'low', nggak berarti kastanya lebih rendah.

Salah satu perbedaan mencolok antara high fantasy dan low fantasy adalah setting tempatnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, high fantasy bersetting di dunia lain (mendadak horor), sedangkan low fantasy bersetting di 'dunia nyata', tanpa melihat apakah waktunya di masa lalu, masa kini, atau masa depan. Contoh ekstrimnya: high fantasy adalah The Lord of The Rings, low fantasy adalah Harry Potter. See? Menyandang status 'low' tak lantas membuat Harry Potter kalah pamor kan?

Semoga contoh di atas bisa memberikan gambaran mengenai subgenre high fantasy, juga tentang mengapa masih sering terjadi pertentangan di kalangan pembaca mengenai pemberian status “high fantasy” terhadap suatu bacaan fantasy.

Punya pendapat mengenai  “high fantasy”? Feel free untuk share di kolom komentar. ;)


Sekarang, yuk ikutan giveaway!

Hadiahnya? Kamu pilih sendiri, dengan syarat: bukunya harus bergenre fantasy atau science-fiction. Bukan crime, mystery, romance, atau yang lain. Pokoknya kudu, wajib, fantasy atau science-fiction. #saklek

Caranya yaitu dengan mengisi google form di bawah.

Giveaway berlaku mulai hari ini sampai dengan tanggal 13 April 2015.
Pengumuman pemenang tanggal 15 April 2015. Pemenang akan dipilih secara random dan keputusan pemenang tidak bisa diganggu gugat.

Selamat mengisi form. Semoga kamu pemenangnya. ;) 

Kunjungi juga blog-blog berikut ini untuk mengikuti giveaway yang lain:
1.   Raafi di Ough, My Books!
2    Sasti di Legitur
3.   Sabrina di Notes of The Dreamer
4.   Ren di Ren's Little Corner
5.   Alvina di Mari Ngomongin Buku
6.   Wardah di Melukis Bianglala
7.   Ira di Ira Book Lover
8.   Lina di Let Me Tell You a Story
9.   Steven Blog Buku Haremi
10. Dion di Baca Biar Beken
11. Andrea Kayla on Books
12. Cindy di Let's Read Between The Pages
13. Arkian di Bukubuku
14. Priska di Lego, Ergo Cogito, Ergo Sum
15. Threez di Threez's Stacks

31 komentar:

  1. eh, Harry Potter itu low fantasy?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ziyy. Karena settingnya. Dunia sihir di Harry Potter masih di 'dunia kita' juga. Padahal ceritanya kurang epic apa coba? Sihir, naga, dll.

      Hapus
  2. "High fantasy bersetting di dunia lain". Aku mikirnya kkayak didunia kuntilanak, genderowo, dll *salah fokus* .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha. Iya, aku sengaja ngetik 'dunia lain' biar berasa horor.
      Tapi pada ngerti maksud saya kan? *peace* ^^

      Hapus
  3. Stolen songbird mah lebih kerasa unsur romance nya.. Fantasynya berasa bumbu doank

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeah, I know, Lun. Model-model Tualait gitu lah. Tapi aku sukaaa. #guiltypleasure

      Hapus
  4. Penegnbanget baca The lord of the rings nya :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibeli atuh. Untuk ukuran novel klasik dengan ketebalan yang menyamai bantal, harga terjemahannya udah termasuk murah loh itu.

      Hapus
  5. Middle Earth & Narnia belum ada yg menyaingi ya (buat aku sih)

    BalasHapus
  6. aku masih gagal baca The Lord of The Ring #AnggotaFaksiSFFgagal T_T
    Tapi bertekad mau baca tahun ini atau tahun depan.

    High Fantasy yg bikin seru justru bukan magicnya tapi intrik dan politiknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tambahan, mungkin karena itu disebut high yah, kan politik dan intrik itu rumit jadi butuh pemikiran yang tinggi :D

      Hapus
  7. Seri Inheritance.nya Paolini termasuk High Fantasy juga kah? :D

    BalasHapus
  8. Harry Potter 'low'? wow, segitu nuansa fantasinya udah kental banget, dan lebih kerasa "fantasy" daripada Narnia, menurutku. tapi, ternyata dilihat dari setting juga karena Harry Potter masih di Inggris, pedalaman Inggris, masih di bumi, sedangkan Narnia udah di dunia lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uhuk. Narnia kurang fantasi di bagian mananya? Karena para tokoh utamanya hanya anak-anak biasa yang nggak punya kekuatan sihir macam Harry Potter? Padahal setting Narnia itu epic banget loh menurutku. Malah ada sejarahnya tercipta dunia Narnia. Tapi aku ngerti kok, perasaanmu. Agak-agak nggak rela sebenernya begitu tahu HarPot itu low fantasy. Iya, saya penyuka HarPot garis keras. Tapi begitulah kenyataannya. Narnia itu 'high', HarPot itu 'low'. Kalau ditanya saya lebih suka yang mana, saya akan menjawab Harry Potter. Always Harry Potter. *peluk Snape*

      Hapus
  9. High Fantasy termasuk salah satu genre fantasi yang paling aku suka. Keren banget lah pengarang bisa ngebangun dunia dengan segala ciri khas sejarah, budaya, politik, orang-orangnya dsb, selalu bikin aku kagum :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imajinasi mereka bikin iri.
      Tapi yang penting eksekusinya juga harus baik.

      Hapus
  10. baru tau Harpot masuk low fantasy, dan aku setuju sama Afifah. Padahal itu kurang fantasy apa coba bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. *puk puk Nina*. I know that feel, Sist.

      Hapus
  11. menurutku Stolensongbird kurang menarik. Agak ngebosenin sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata pada ngasih bintang 3 untuk buku ini. Standar emang. Tapi berhubung aku suka banget unsur 'romance'-nya, aku ngasih bintang agak tinggian. XD

      Hapus
  12. Entah low entah high, yang penting fantasy dan aku bisa "berkelana" di dalamnya :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada akhirnya subgenre hanyalah pengkategorian semata. Selama ceritanya bagus, pembaca sih oke-oke aja, biar kata genrenya high atau low. Asal jangan hi-low aja. Jatohnya jadi susu kotak. :))

      Hapus
  13. Yeay aku udah ikutan. And I want Stolen Songbird sooooo muuuuch! :D
    Berapa kali ikut kuisnya kecul mulu :( semoga kali ini beruntung hehe.

    BalasHapus

Back to top