22 Feb 2013

All-American Girl (Pahlawan Amerika) by Meg Cabot

Judul Buku: All-American Girl (Pahlawan Amerika)
Seri: All-American Girl #1
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2004 (Cetakan I)
Tebal: 328 hlm
ISBN: 9792209824
My Rating: 5/5

~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Samantha Madison yang tinggal di Washington DC, bukanlah anak yang populer. Ia tidak seperti Lucy kakaknya, seorang anggota pemandu sorak yang beken di sekolah. Sam juga tidak sepintar adiknya, Rebecca, yang saking jeniusnya sampai bersekolah di sekolah khusus anak-anak berotak encer. Sam hanyalah si tengah yang suka sekali menggambar selebritis (satu-satunya keahliannya), memiliki rambut merah berantakan dan berwajah penuh bintik-bintik. Dan, teman makan siangnya adalah anak-anak yang tidak populer di sekolah. Tapi baginya semua itu bukan masalah. Satu-satunya hal yang membuatnya galau adalah ia cinta setengah mati pada Jack, pacar kakaknya, yang menurutnya adalah cinta sejatinya, hanya saja Jack belum menyadarinya.

Suatu hari Lucy mengadukan Sam yang memungut bayaran dari teman-temannya yang ingin digambarkan bersama seleb favorit mereka oleh Sam. Orang tua Sam menganggap nilai bahasa Jerman Sam yang cuma dapat C minus adalah akibat dari hobi menggambar Sam tersebut. Akibatnya mereka 'menghukumnya' dengan cara mendaftarkannya ke tempat les menggambar, dengan harapan agar Sam memiliki wadah yang tepat untuk menyalurkan ‘energi kreatifnya’. Sam jelas-jelas tidak senang dengan hal ini, karena menurutnya ikut les hanya akan mematikan kreatifitasnya. Benar saja, karena di hari pertamanya saja, ia sudah mendapat kritik pedas dari guru lesnya, padahal menurut Sam, lukisannyalah yang paling bagus di antara seluruh peserta les. Maka Sam bertekad, pada les selanjutnya ia akan membolos sebagai bentuk protes.

Saat membolos dan tengah nongkrong di luar gedung les itulah, mobil presiden Amrika Serikat dan rombongannya terlihat berhenti tak jauh dari tempat Sam. Di antara sekian banyak pengawal kepresidenan, tampaknya tak seorang pun menyadari gelagat aneh seorang lelaki yang berada tak jauh dari situ, namun Sam melihatnya! Orang itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang ternyata adalah pistol. Bagi Sam, itu sangat jelas: lelaki itu ingin membunuh presiden. Entah apa yang merasuki Sam, karena tanpa pikir panjang ia segera menerjang punggung si lelaki misterius, membuat tembakannya meleset dan tubuhnya jatuh menindih Sam. Hasilnya adalah: pertama, Presiden Amerika Serikat lolos dari maut. Kedua, tangan kanan Sam patah di dua titik, gara-gara tertimpa tubuh si pelaku penembakan. Dan yang ketiga adalah: meski harus dirawat di rumah sakit dengan pengawasan ketat oleh tiga puluh pria berjas hitam (para bodyguard kepresidenan), mendadak Sam jadi populer di seantero Amerika Serikat. Akibat tindakan beraninya (padahal menurut Sam itu tindakan tanpa pikir panjang), kini ia dianggap pahlawan oleh warga Amerika.

Hidupnya berubah drastis. Kini Sam adalah anak yang populer. Para wartawan memburunya dan semua murid di sekolahnya sepertinya ingin menjadi temannya. Namun Sam sama sekali tidak menikmati kepopulerannya. Ia hanya ingin hidupnya kembali normal, karena baginya semua itu cuma bikin bingung  saja. Dan dari semua itu kehebohan itu, yang paling membuatnya bingung berat adalah: sepertinya putra presiden naksir kepadanya!

Baca selengkapnya dalam All-American Girl (Pahlawan America) by Meg Cabot.

Awalnya saya tidak tahu-menahu tentang buku ini. Namun saya punya buku karya Meg Cabot yang lain berjudul Ready or Not (Siap atau Tidak) yang saya beli karena diskon. Ternyata buku itu adalah lanjutan dari buku All-American Girl. Karena merasa tidak afdol jika langsung membaca buku kedua, maka dimulailah pencarian saya terhadap buku ini. Susah lho cari novel ini, secara novel teenlit lama (terbitan 2004). Untunglah ketemu, dan ternyata usaha saya tidak sia-sia (halah). Saya sangat menikmati membaca buku ini.
Sepuluh alasan kenapa saya suka novel ini:

10. Penulisnya adalah Meg Cabot.
9. Saya suka sekali ‘daftar sepuluh besar’ versi Sam yang kerap muncul dalam buku ini. (Misalnya: ‘sepuluh alasan utama mengapa aku sangat sebal pada kakakku Lucy’ atau ‘sepuluh alasan utama mengapa aku lebih pantas menjadi cewek Jack ketimbang kakakku Lucy’ dst.)
8. Gaya bercerita dalam novel ini menarik, agak mirip dengan gaya J.D. Salinger dalam The Catcher in the Rye. Bedanya, kalau tokoh Holden dalam The Cather in the Rye kerjaannya mengumpat dan marah-marah melulu, si Sam dalam buku ini curhatnya terkesan lebih ceria (namun bukan berarti The Catcher in the Rye jelek lho, buku itu kan masuk daftar 1001 buku wajib baca).
7. Memang sih adegan ketika Sam menyerang si pelaku penembakan presiden kesannya agak kurang masuk akal. Tapi percaya deh, bagian yang itu seru sekali.
6. Saya suka karakter Sam, tapi dia nomor dua. Nomor satu malah Lucy. Kok begitu? Bukannya si Lucy ini menyebalkan? Hoho, cari tahu sendiri di bukunya ya. Intinya sih, Lucy ini sebenarnya kakak yang baik dan saya selalu cinta pada tokoh kakak yang baik. Karena saya sendiri adalah kakak yang baik. *mengindari lemparan kursi dari segala arah*
5. Berkat membaca buku ini, saya jadi punya gambaran seperti apa bagian dalam Gedung Putih.
4. Keluarga Madison (keluarga Sam) mengingatkan saya pada keluarga Dunphy dalam serial komedi favorit saya, Modern Family. Lucy mirip dengan Haley, Rebecca mirip dengan Alex, dan Sam mirip dengan Luke.
3. Banyak pesan moral bagi para remaja dalam buku ini. Bukan, bukan tentang keberanian atau semacamnya (meski buku ini berkisah tentang remaja yang menyelamatkan presiden), tapi ada banyak isu sosial yang coba diangkat oleh penulis. Betul-betul novel teenlit yang berbobot.
2. Terjemahan buku ini sangat baik. *peluk-peluk mbak penerjemah*

Dan, alasan paling utama mengapa saya sangat suka novel ini adalah:

1. Meski ini bukan novel humor, namun banyak adegan dalam buku ini yang sukses bikin saya ngakak. Pada jam makan siang di kantor, misalnya, ketika saya makan sambil membaca buku ini, saya sampai harus berhenti mengunyah gara-gara kepingin ngakak, sementara teman-teman saya cuma bisa bengong. Oke, yang ini jangan ditiru ya. Makan sambil ngakak, maksud saya (kalau makan sambil membaca sih, monggo, suka-suka kalian). Hehe.
Overall, it's a very good book. Very recommended buat yang ingin baca novel-ringan-yang-nggak-ringan-ringan-amat. :)


Book Review: All-American Girl (Pahlawan Amerika) - Meg Cabot
by vaan

5 komentar:

Back to top