27 Mei 2013

Runaway (Kabur) by Meg Cabot

Judul Buku: Runaway (Kabur)
Seri: Airhead #3
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Tanti Susilawati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012 (Mei, Cetakan I)
Tebal: 328 halaman
ISBN: 9789792284454
Harga: Rp. 45.000,-
Rate: 4/5

My reviews for Airhead Trilogy by Meg Cabot:
1. Airhead (Otak Udang)
2. Being Nikki (Menjadi Nikki)
3. Runaway (Kabur)
~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Terperangkap dalam tubuh supermodel sukses dan terkenal bisa jadi adalah impian banyak gadis. Dengan profesi bergengsi seperti itu, ditambah gaji besar plus tinggal di apartemen mewah serta berbagai fasilitas ‘wah’ lainnya, siapa sih yang nggak kepingin? Tapi seandainya bisa memilih, Em ingin kembali ke tubuh lamanya dan hidup sebagaimana Em yang dulu: yang suka bermain video game bersama sahabat kesayangannya, Christopher. Habis, selama menjadi Nikki Howard, ada saja hal-hal tak mengenakkan yang menimpanya. Baru-baru ini saja ia harus mengadakan pemotretan di batu karang sampai jari-jarinya lecet—dan hampir jadi santapan ikan hiu!

Kini, Em ‘diculik’ oleh Brandon Stark, yang sudah tahu kebenaran tentang transplantasi otak antara Em dan Nikki, dan memaksa Em untuk ikut ‘liburan’ bersamanya, bila tidak ingin nyawa Nikki dan keluarganya dalam bahaya. Tujuan utama Brandon yaitu mengorek informasi dari Nikki tentang rahasia Robert Stark, yang tidak lain ialah ayah Brandon sendiri, dan akan digunakannya untuk merebut kepemilikan Stark Enterprise dari tangan ayahnya. Rahasia apa yang diketahui Nikki sampai-sampai Robert Stark harus membunuh supermodel itu? Pada akhirnya, Em harus berhadapan langsung dengan Robert Stark. Karena kalau tidak, maka gadis itu akan terus melarikan diri, entah sampai kapan.

Saya menyukai kisah unik Em dalam Runaway, tapi tidak dengan cover versi terjemahannya. Soal cover, sebenarnya oke, tapi entah kenapa nggak matching dengan dua buku sebelumnya. Ceritanya sih seru. Tapi karakter Em, duh, kenapa di buku ini ia jadi agak menjengkelkan? Ia jelas-jelas cinta mati pada Christopher, tapi kelakuannyalah yang menjadi penyebab mereka terus-terusan bertengkar. Bahkan saat Em dibuntuti seseorang (dugaan kuat: orangnya Robert Stark), niatnya untuk menghubungi Christopher untuk meminta bantuan malah ia urungkan dan justru menelepon Lulu. Untunglah Lulu—yang walau sepintas terlihat seperti umumnya selebriti remaja yang doyan pesta dan hura-hura, tapi ia sebenarnya cerdas dan memang jago banget untuk urusan cowok—memberikan nasihat yang bagus untuk Em. Nikki Howard yang asli pun mengalami perubahan yang luar biasa berkat Lulu. Mantan model tersebut (yang tubuhnya sudah menjadi milik Em) telah berubah menjadi lebih baik mulai dari penampilan hingga sikap, sampai-sampai Gabriel Luna pun naksir dia. Saya jelas lebih suka Lulu dibanding Em.

Konfrontasi Em dengan Robert Stark cukup menegangkan, sampai-sampai saya jadi khawatir mengenai nasib Em. Robert Stark bahkan mengancam akan membunuh Frida, adik Em. Hanya saja, saya merasa konfliknya terlalu singkat dan kurang seru. Saya ingin lebih! Hellow, Robert Stark lho ini. Dari penggambaran Robert Stark yang begitu berkuasa dan berbahaya, Meg Cabot harusnya membuat pemecahan masalah dalam buku penutup trilogi Airhead ini menjadi sedikit lebih sulit bagi Em.

Tapi selain beberapa hal yang saya keluhkan di tas, buku ini cukup menghibur, terutama bagi pembaca yang sudah mengikuti kisahnya sejak buku pertama. Untuk dapat menikmati buku ini, saya sarankan kepada para pembaca untuk membaca dua buku sebelumnya, sebab jika tidak tentu akan membingungkan. Gaya bercerita Meg Cabot sendiri selalu oke. Ditambah lagi, buku ini diterjemahkan dengan baik. Saya sangat berterima kasih kepada para penerjemah karya-karya Meg Cabot, sebab sejauh ini, saya sangat menikmati membaca karya-karyanya yang diterjemahkan oleh Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to top