24 Jun 2013

Fade In Fade Out by Wiwien Wintarto

Judul: Fade In Fade Out
Penulis: Wiwien Wintarto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 328 halaman
ISBN-13: 9789792293746
Harga: Rp. 49.000,-

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah kamu adalah penggemar sinetron? Atau malah pembenci sinetron dan suka mengkritik tayangan tersebut? Suka tidak suka, faktanya sinetron amat digandrungi oleh banyak orang. Meski sinetron acap kali dikritik karena dinilai tidak mendidik, mombodohi, menjual mimpi, hingga tidak humanis, tapi toh pihak Production House (PH) dan stasiun-stasiun TV tak pernah berhenti memproduksi dan menayangkan sinetron dengan cerita yang (katanya) begitu-begitu saja: amnesia, anak/sudara yang ketuker, tokoh baik yang selalu merana versus tokoh jahat yang kejamnya ngalah-ngalahin Lucifer.

Adalah Seto, tokoh utama dalam novel ini, yang sering mengkritik tayangan sinetron lewat resensi pada tabloid Abege, tempatnya bekerja sebagai editor bagian fiksi. Kritikannya yang tajam soal sinetron sering ia sampaikan tak hanya lewat tabloid tapi juga lewat media blog. Ia dan rekan-rekan sejawatnya selalu menyempatkan diri untuk menonton sinetron yang tayang pada jam-jam prime time dengan teliti dan penuh perhatian. Tujuannya tak lain adalah untuk mencela sinetron tersebut.

Lalu, kesempatan besar datang menghampiri Seto. Naskah-nahkah cerita yang ditulisnya dilirik oleh dua Production House di Jakarta. PH pertama, adalah PH baru yang meski tidak besar, namun memiliki idealisme dan harapan yang sama dengan Seto, yaitu ingin membuat sinetron yang tak sekadar menjual mimpi dan kehidupan hedonisme demi sebuah rating, melainkan ingin membuat sinetron yang lebih berbobot dan humanis. PH kedua, adalah salah satu PH besar milik salah salah satu keluarga India yang mengusai jagad persinetronan Indonesia. Honor yang ditawarkan PH tersebut tak bisa dibilang kecil. Akan tetapi, mereka justru merombak total naskah cerita buatan Seto, sehingga ceritanya malah menjadi tak berbeda dengan sinetron-sinetron yang sering dikritik oleh Seto. Seto pun mengalami dilema, antara ingin mempertahankan idealismenya, atau menepisnya demi jumlah rupiah yang menggiurkan, bahkan bagi orang yang paling idealis sekalipun.

Di tengah kegundahannya, Seto masih harus dihadapkan pada masalah asmara. Mengingat usia Seto yang dipandang lebih dari sekadar layak untuk menikah, sang ibu ingin menjodohkan Seto dengan anak gadis dari teman baiknya. Sayang, pada pertemuan pertama saja, Seto sudah merasa tidak cocok dengan Dana. Banyak hal yang membuat seto merasa tak nyaman ketika sedang bersama gadis itu. Di lain pihak, ada perempuan lain yang mampu menarik perhatian Seto. Farah, gadis manis yang menjadi owner sebuah klub sepak bola di Magelang, masih muda namun sangat sukses, anak dari orang yang cukup terpandang dalam dunia politik dan pemerintahan Indonesia. Di luar semuanya itu, kepribadian Farahlah yang membuat dirinya mudah intuk disukai siapapun, tak terkecuali Seto. Bagi Seto, Farah lebih menarik dibanding Dana. Namun gadis yang disukainya itu tampaknya terlalu jauh untuk diraih...

Bagaimana Seto menyikapi persoalan idealisme dan asmaranya? Baca kisah lengkapnya dalam Fade In Fade Out karya Wiwien Wintarto.

***

Fade In Fade Out adalah salah satu dari sedikit novel metropop yang menampilkan laki-laki sebagai tokoh utama, di mana hal inilah yang menjadi salah satu pemicu rasa penasaran saya untuk membaca novel ini. Apalagi penulisnya juga adalah laki-laki, sehingga saya berharap bisa relate dengan tokoh utamanya.

Novel ini memberi banyak informasi menarik seputar proses produksi sinetron. Background penulis yang memiliki pengalaman dalam proses produksi sinetron adalah amunisi yang ampuh, sehingga hal-hal teknis yang dibagi kepada pembaca melalui berbagai adegan yang dialami sang tokoh utama, terasa meyakinkan. Sebagai pembaca buku yang jarang menonton televisi, saya merasa sangat beruntung membaca novel ini, sebab saya jadi tahu banyak hal tentang sinetron, tepatnya, hal-hal yang terjadi saat proses produksi sebuah sinetron. Misalnya: mengapa Production House sangat menjungjung tinggi rating, mengapa mereka lebih memilih membuat sinetron kejar tayang daripada membuat sinetron yang tayang mingguan, mengapa adegan-adegan tertentu sering diulang-ulang (atau dipanjang-panjangin), bagaimana seru-sekaligus-ribet-nya syuting sinetron kejar tayang, bagaimana sutradara memutar otak bila terjadi hal di luar dugaan (misalnya ketika tokoh utama mendadak sakit), atau bagaimana menyikapi artis yang mulai bersikap annoying, dan hal-hal lainnya. Oh ya, kalian yang suka menulis, mungkin bisa mempertimbangkan untuk menjadi penulis skenario. Honornya itu lho... "Lumayan juga. Sejauh yang saya tahu sebagai orang media, honornya antara tujuh setengah sampai sepuluh juta per episode, padahal tayang tiap hari. Jadi ya memang lumayan besar. " (hlm 24-25)

Mengenai gaya tulisan, saya cukup nyaman dengan gaya bercerita Mas Wiwien. Memang novel ini bukanlah novel pertamanya yang saya baca, jadi saya tak bisa membandingkan novel ini dengan novel-novelnya yang lain, akan tetapi alur cerita dalam novel ini mengalir dengan cukup baik. Yang membuat kening berkerut adalah banyaknya nama yang muncul. Saya tak menghitungnya, tapi sumpah, banyak banget! Setiap dua-tiga lembar, muncul nama baru. Sampai-sampai saya jadi bingung apakah nama tersebut pantas diingat atau tidak. Apakah nantinya tokoh yang disebutkan namanya akan menjadi bagian penting dari cerita atau tidak. Saya pikir, jangan-jangan nama-nama itu adalah milik teman-teman penulis, yang meminta nama mereka dimasukkan ke dalam novel. Hehehe.

Sebagian besar konflik dalam novel ini berpusat pada pertentangan batin Seto. Tentang bagaimana ia ingin tetap mempertahankan idealismenya. Begitupun dengan konflik asmaranya. Saya sebenarnya berharap lebih banyak drama dalam novel ini, terutama bagaian kisah asmara Seto-Dian-Farah. Tapi yang saya dapati hanyalah pertentangan bantin Seto, tentang bagaimana ia harus mengekang perasaan sukanya terdapat Farah, juga tentang seberapa tak suka dirinya terhadap Dana. Secara keseluruhan, konflik dalam novel ini cenderung datar-datar saja. Seharusnya penulis bisa mengeksplorasi lebih dalam konflik antar-tokoh dalam novel ini, jadi tak hanya konflik batin saja. 

Masih terkait konflik, yang cukup menganggu, ialah penulis malah membuat konflik bagi tokoh pembantu/pendamping, demi kepentingan tokoh utama. Kasus #1: Kaburnya Nane (pacar Bayu, sepupunya Seto), hanya untuk membuat Seto dan Farah menjadi lebih dekat. Kasus #2: Kecelakaan yang menimpa ayah Nane (yang bukan siapa-siapa, apalagi tokoh utama) hanya untuk mempertemukan Seto dan Farah dalam keadaan yang (niatnya) dramatis. Dear author, kenapa harus memberi musibah bagi orang lain demi kepentingan tokoh utama? Kenapa musibahnya nggak dikasih ke tokoh utamanya saja? Mungkinkah penulis menganggap tokoh Seto adalah representasi dirinya, sehingga beliau amat menyayangi tokoh ini sampai-sampai tak ingin memberikan masalah lebih berat kepada Seto? Bisa jadi, sebab di bagian profil pengarang memang disebutkan bahwa kisah ini adalah kisah sungguhan yang dialami penulis. Padahal, menurut saya tak apa-apa menambahkan lebih banyak drama ke dalam novel, meski berangkat dari kisah nyata.

Terlepas dari konfliknya yang kurang menggigit, saya dapat menerima cara penulis mengakhiri novel ini. Memang kesannya agak terlalu mudah bagi Seto, mamun pilihan tersebut sepertinya satu-satunya cara yang aman untuk ditempuh siapapun yang berada pada posisi Seto. Kesimpulan yang bisa saya ambil setelah membaca novel ini adalah: Sekeras apapun usaha mengkritik sinetron yang (katanya) membodohi, semuanya sia-sia bila ternyata lebih banyak orang justru mau dibodohi dengan menonton sinetron tersebut.

11 komentar:

  1. dari 1-5 berapa bang nilainya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, iya belum naroh rating. 3 dari 5 deh. romensnya kurang sih. *penyuka romens* (diteriakin: kalo gitu baca aja harlequin!) :P

      Hapus
  2. Makasih reviewnya, udah punya bukunya blom dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, terima kasih sudah mampir. ayo dibaca bukunya. lumayan buat nambah2 pengetahuan ttg sinetron.

      Hapus
    2. kok belum dibaca ki piye? tak sommasi ke soto mbangkong lho ntar...!

      Hapus
  3. tengkiu udah mbaca dan mereviu. cuman akan jelasin 1 hal: semua tokoh minor itu (terutama kru tabloid Abege) selalu bermunculan di novel2ku lain. kadang ada yg jadi tokoh utama. Wira (yg ngomongin Farah di acara training jurnalistik) adalah tokoh utama di The Sweetest Kickoff (2005). Bimo (yang diobrolin Seto & Farah di KFC) adalah tokoh utama di teenlit The Unfunniest Comedy (2011). Seto juga nongol sekilas di The Unfunniest Comedy pas Bimo nganter anak2 Ora Obah di lomba lawak di TBRS.
    mbaca teenlit juga gak? reviu TUC juga dong, hihi... atau www.gombel.com (2011) terbitan Elex. :D

    BalasHapus
  4. eh, ralat. bukan The Sweetest Kickoff, tapi The Rain Within (2005), hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaah. begitu rupanya. maafkan saya yang belum pernah membaca karya-karyamu sebelumnya, mas. :p

      Hapus
  5. Aku familiar nama Wiwien Wintarto dimana yaa.. kayaknya pernah jadi editor salah satu buku yg aku baca dan review deh. Tapi lupa judulnya hehe..
    Sebenernya aku lumayan tertarik baca ini, tapi kok ternyata kurang romance ya. Ya wes, ga jadi *ditendang sama wiwien*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh baru inget! Wiwien Wintarto penulis buku The Supper Club yg pengen ku review tapi ga jadi2 itu! Wkwkwk..

      Hapus
    2. Hahaha. Aku awam soal buku2nya Mas Wiwien. The Supper Club bagus?

      Hapus

Back to top