17 Des 2013

J'ADORE - Jakarta Paris Via French Kiss by Syahmedi Dean

Judul Buku: J'ADORE - Jakarta Paris Via French Kiss
Judul Asli: J.P.V.F.K. - Jakarta Paris Via French Kiss
Seri: Tetralogi Fashion #2
Penulis: Syahmedi Dean
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 360 hlm
ISBN: 9789792297744
Rating: 3/5
Sinopsis Goodreads:

Petualangan empat wartawan lifestyle selalu tak terduga, berlari di jalur-jalur underground Metro di Paris, terhanyut dalam dilema kesetiaan di lantai dua bus merah di London, terpelintir antara memori dan kenyataan di gedung-gedung tua di Milan, teraduk gelombang fashion dunia di Show Christian Dior, Channel, Fendi, Max Mara, Prada, dan Paul Smith. Padahal kami mereka terikat di Jakarta. Mereka adalah:

Alif
Siapa saya ini? Seorang tamak cinta yang mendambakan freedom, dua sisi yang bertolak belakang. Yang pertama butuh komitmen dan perasaan, yang kedua butuh keberanian dan ketidakpedulian. God. Bagaimana harus menggabungkan keduanya? Saya tak mau hanya salah satu.

Raisa:
Elu bikin gue sangat kecanduan, pingin terus-terusan ketemu. Gue pikir, friends becomes lovers? Why not? I'm good enough for him, he's always nice to me, what more? I will move first... ladies first.

Didi:
Gue juga maunya hanya french kiss, dia juga gitu."Hari begene kok sesama laki-laki pacaran, too old fashioned," katanya begitu. Lagi pula kalau dipikir-pikir, sesama laki-laki pacaran, life goal-nya apa?

Nisa:
Sandwich? Hah. Sandwich selain roti adalah semacam istilah untuk satu sex activity yang melibatkan tiga orang, dua sebagai roti, satu sebagai daging atau selada untuk vegetarian. Pasti ada yang tidak benar dari kode gerak bibir Gavin ke Oliver. Pasti mereka punya hidden agenda.
Peringatan: Reviu ini mengandung spoiler buku pertama. Bila kamu ingin membaca tetralogi fashion, mending abaikan reviu ini deh.

J’Adore - Jakarta Paris Via French Kiss adalah buku kedua dari tertralogi fashion yang berkisah tentang empat wartawan lifestyle, di mana fokus utama cerita adalah Alif, seorang fashion editor di sebuah majalah fashion/lifestyle terkenal di Jakarta. Di buku pertama, Alif terlibat kisah cinta ‘diam-diam’ dengan bawahannya yang bernama Edna. Sayang sekali, kisah cinta mereka amat singkat, sesingkat usia Edna. Namun, kisah yang singkat tersebut tak lantas membuat Edna terhapus begitu saja dari kehidupan Alif. Saat berada di Milan,  Alif bertemu dengan seorang pria dari masa lalu Edna, seorang laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan Edna, dan ternyata bersama laki-laki tersebut Edna dikaruniai seorang putri kecil yang cantik. Fransesco, nama pria itu, kemudian meminta Alif untuk mempertemukan dirinya dan putrinya dengan orang tua Edna di Indonesia. Bagaimana perasaan Alif saat mengetahui fakta bahwa Edna ternyata tidak seinnocent yang dia kira? Akankah Alif meluluskan permintaan Fransesco?

Original Cover
Di buku kedua ini porsi sahabat-sahabat Alif yaitu Didi, Raisa, dan Nisa, ditampilkan lebih banyak. Didi yang ditugaskan ke Paris untuk meliput acara fashion show, menjadikan kesempatan tersebut untuk ‘berburu’ laki-laki. Didi memang penyuka sesama jenis. Sayangnya, karena terlalu asyik bersenang-senang, Didi malah jadi tidak fokus dengan pekerjaannya dan ujung-ujungnya malah merepotkan Alif. Lalu Raisa, yang diam-diam ternyata memiliki perasaan khusus terhadap Alif. Dengan segala cara, Raisa bela-belain menyusul Alif ke Paris dan berniat mengutarakan perasaannya terhadap sahabatnnya itu. Namun Alif tampaknya tak menyadari sinyal-sinyal yang dikirim oleh Raisa. Parahnya lagi, Raisa terancam akan kehilangan pekerjaannya terkait kepergiaannya secara ‘ilegal’ ke kota fashion tersebut. Terakhir adalah Nisa, yang ingin ke Paris demi bertemu seorang pria dari masa lalunya—pria Perancis yang jago dalam urusan french kiss. Nisa sama sekali tidak menduga bahwa kunjungannya ke Paris akan menempatkan dirinya dalam posisi yang mengancam keselamatan hidupnya.

Secara keseluruhan, novel ini menawarkan pernak-pernik cerita yang lebih berwarna dibanding buku pertama. Hanya saja alur ceritanya masih terasa datar. Awalnya memang cukup seru mengikuti petualangan Alif dalam meliput acara fashion show di berbagai negara di Eropa (yang berakhir di Paris). Saya jadi tahu bagaimana suasana pagelaran busana tingkat dunia dengan sangat detail melalui sudut pandang Alif. Hanya saja, menurut saya bagian ini terlalu banyak dan penyampaiannya pun terasa datar layaknya membaca sebuah laporan wartawan yang meliput berita. Saya jadi sedikit jenuh.

Kehadiran Didi, Raisa, dan Nisa pun di Paris pun terasa sedikit dipaksakan (menurut saya loh ya). Didi okelah, karena dia memang ditugaskan untuk meliput berita di sana, sayangnya konflik yang dialami Didi terasa konyol, meski sempat membuat saya tersenyum sekaligus bergumam, “Oh, ada tempat kayak gitu toh di sana. Baru tahu.” Hehe. Sementara Raisa, uhm, apakah ia memang harus ke Paris demi mengungkapkan perasaannya terhadap Alif, sampai-sampai rela terancam kehilangan pekerjaan? Kenapa tidak menunggu hingga Alif kembali ke Indonesia saja? Dan Nisa, alasannya ke Paris lebih konyol lagi. Memangnya untuk dapat merasakan french kiss yang sesungguhnya harus dari cowok Perancis ya? Nggak mesti kan? Kalau cuma french kiss kan, di McD juga banyak. (ITU FRENCH FRIES PAAAAN! *disambit berjamaah*).

Overall, buku ini tetap merupakan bacaan wajib bagi mereka yang mempunyai passion di bidang fashion. Info tentang fashion week di Eropa sana benar-benar detail. Hanya saja,  saya belum belum bisa move on dari fakta bahwa tetralogi fashion ini ternyata tidak menceritakan masing-masing karakter empat wartawan lifestyle secara detail, hanya fokus terhadap Alif saja, sehingga belum bisa memberi lebih dari tiga bintang terhadap buku ini (iya, alasannya subjektif sekali, terima kasih). Meski demikian, saya tentu saja akan tetap membaca buku ketiga dan keempat. :)

5 komentar:

  1. ngga begitu bagus yah? :( pdhl covernya menarik banget, ak udh hampir kepingin beli smua xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya covernya menarik banget. Tapi yah, begitulah. Ceritanya masih datar. Aku terlanjur beli box-setnya, jadi mau tidak mau harus dibaca. *ogahrugi* :D

      Hapus
  2. Dulu aku pernah kerja di majalah lifestyle, dan sejujurnya ga mungkin deh wartawan majalah bisa punya duit buat ke paris untuk mencari french kiss or whatever lah. kecuali emang dibayarin kantor ya. itupun biasanya yang ditugasin keluar negeri ngantri ganti2an, bukan dia lagi dia lagi...anyway. dulu pernah baca buku pertama seri ini, yg jaman cover jadul. tapi rada males ngelanjutin ke buku2 berikutnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Doakan hamba agar mampu menyelesaikan buku ketiga dan keempat.

      Hapus
  3. Keren kak hehe,, buruan dong dilanjuting bukunya hehe

    BalasHapus

Back to top