24 Des 2013

Rantau 1 Muara by A. Fuadi

Judul Buku: Rantau 1 Muara
Seri: Trilogi Negeri 5 Menara #3
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013 (Mei, Cetakan I)
Tebal: ix + 407 hlm
ISBN: 978-979-22-9473-6
Rating: 5/5

Baca juga:

“Man Saara Ala Darbi Washala.”

Lulus sebagai sarjana tak lantas membuat Alif langsung memperoleh pekerjaan. Saat krisis moneter melanda Indonesia pada akhir 90-an, banyak perusahaan yang alih-alih menerima pekerja baru, mereka justru merumahkan karyawannya. Maka tak heran bila perusahaan-perusahaan yang dikirimi surat lamaran pekerjaan oleh Alif seakan kompak menolak untuk menerima dirinya. Belum lagi surat kabar tempat Alif kerap mengirimkan karyanya juga memutuskan untuk tak lagi menerima tulisannya. Namun Alif tak berhenti berusaha. Akhirnya, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan yang sesuai dengan passionnya—menulis—di sebuah kantor majalah yang pernah dibredel oleh orde baru: Derap.

Derap kini adalah rumah bagi Alif. Ia mendapatkan teman-teman seprofesi yang handal. Terlebih lagi, Derap menjunjung tinggi idealisme: selalu menuliskan kebenaran dalam setiap beritanya, dan menolak segala bentuk gratifikasi. Dan di tempat inilah, Alif bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Selama bekerja di Derap, Alif memperoleh banyak sekali pengalaman unik. Di antaranya adalah mewawancarai pocong. Hasil wawancaranya yang unik itu kemudian membuatnya memperoleh penghargaan dari kantornya. Ada lagi kerjadian menegangkan, yaitu ketika Alif hendak mewawancarai Jenderal. Bila benar buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata, maka saya salut sekali terhadap usaha Alif alias Ahmad Fuadi! Bagian cerita ketika Alif bekerja di Derap benar-benar menarik untuk diikuti. Pembaca mendapatkan gambaran seperti apa bekerja di bidang jurnalistik, khususnya di majalah Derap. Pembaca yang mengikuti kisah Alif sejak buku pertama pasti bisa menebak nama asli majalah Derap di dunia nyata. Majalah tersebut memang sangat terkenal. Semoga semangat menyampaikan kebenaran masih terus membaca di majalah tersebut, mengingat akhir-akhir ini sulit sekali membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang ‘dibenar-benarkan’. (Tsaah.)

Selama bekerja di Derap, semangat belajar Alif tak kunjung padam. Ia terus-menerus melatih bahasa Inggris-nya dengan harapan agar ia dapat melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Usaha Alif tidak sia-sia, ia diterima di sebuah universitas di Amerika melalui program beasiswa. Namun itu berarti ia harus meninggalkan orang yang ia cintai di tanah air. Apalagi status hubungan mereka sesungguhnya belum jelas. Alif meninggalkan Indodnesia dengan sebuah pertanyaan besar: Apa maksud Denara dengan sebuah pesan dengan tulisan “call me”? (Di bagian ini saya rasanya ingin menggetok kepala Alif, yang meski berotak encer tapi ternyata buta soal wanita. Er... sebenarnya 11-12 dengan saya sih. :P #tsurhat)

Alif akhirnya memulai hidupnya sebagai mahasiswa di Amerika sana. Banyak kejadian penting yang Alif alami, termasuk hubungan jarak jauhnya dengan Dinara yang mendebarkan. Dunia Alif sempat jungkir balik saat peristiwa tak terduga mengguncang AS—sebuah peristiwa yang akan terus diingat oleh siapapun meski hanya melihat tanggalnya saja: 11 September 2001. Bagaimana tidak, kejadian itu tak hanya membuat warga Amerika saja yang dilanda kesedihan. Bagi Alif sendiri, tragedi 11 September telah merenggut seseorang yang ia sayangi. :’(

Ah, sebaiknya saya berhenti menceritakan isi buku ini, kamu harus membacanya sendiri.

***

Mantera buku pamungkas trilogi Negeri 5 Menara ini adalah man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya akan mencapai tujuan. Artinya kurang lebih, bila kita ingin mencapai tujuan (cita-cita), kita harus fokus. Tapi tentu saja, kita terlebih dahulu harus menentukan arah tujuan kita. Alif misalnya, setelah berkali-kali surat lamarannya dikembalikan, Alif tak hilang harapan. Pada akhirnya ia diterima bekerja di tempat sangat sesuai dengan passionnya yaitu menulis. Contoh kedua, yaitu usaha Alif untuk kuliah S2 di Amerika. Kegigihanya terlihat dari usahanya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dengan membaca buku-buku TOEFL di setiap kesempatan. Contoh senderhana tersebut bagi saya sangat menginspirasi. Apalagi, buku ini diangkat dari kehidupan nyata sang penulis (terlepas dari beberapa bagian yang mungkin ditambah atau dikurangi), sehingga terasa nyata dan tidak berlebihan.

Hingga buku ketiga ini, saya masih menikmati gaya bercerita A. Fuadi. Bagian yang tidak kalah menarik dari buku ketiga ini adalah unsur romance yang mendapat porsi lebih dibanding buku-buku sebelumnya. Yah, memang tidak banyak, karena ini memang bukan novel romance. Namun, sebagai penyuka cerita romantis, unsur-unsur roman yang disisipkan dalam novel ‘serius’ ini terasa menyegarkan buat saya. Saya suka chemistry antara Alif dan Dinara. Dinara adalah tokoh yang menarik. Ia memiliki sisi yang tak terduga. Siapa yang menyangka bahwa perempuan Jakarta yang gaul dan agak manja ini ternyata hafal Yasin di luar kepala sejak SMP? Saya turut bahagia, karena Alif akhirnya menemukan pasangan yang sepadan.

Secara keseluruhan, Rantau 1 Muara adalah penutup yang memuaskan dari rangkaian trilogi Negeri 5 Menara. Membaca trilogi ini adalah salah satu pengalaman berkesan bagi saya di tahun 2013 ini. Kisah-kisahnya sangat menginspirasi, bahasanya juga enak diikuti. Sangat menyenangkan mengikuti kisah hidup Alif, mulai dari menyaksikan beliau belajar di Pondok Madani, ikut ke Bandung yang sejuk, mengunjungi Kanada, merasakan hiruk-pikuk kota Jakarta, serta ikut jungkir balik bersamanya pada peristiwa 11 September.

Semoga trilogi ini tak sekadar menjadi hiburan bagi saya dan pembaca lainnya, tapi juga membuat kita terinspirasi untuk “bertindak”. Sebab, apalah artinya sebuah inspirasi bila tidak dibarengi dengan tindakan. Setuju?

***

"Bertuanglah sejauh mata memandang.
Mengayuhlah sejauh lautan terbentang.
Bergurulah sejauh alam terkembang."
—Rantau 1 Muara

2 komentar:

Back to top