4 Feb 2015

Koala Kumal - Raditya Dika

Judul: Koala Kumal
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia, 2015
Tebal: 260 hlm.
ISBN13: 9789797807696

Sinopsis:
Selain main perang-perangan, gue, Dodo, dan Bahri juga suka berjemur di atas mobil tua warna merah yang sering diparkir di pinggir sungai samping kompleks. Formasinya selalu sama: Bahri dan gue tiduran di atap mobil, sedangkan Dodo, seperti biasa, agak terbuang, di atas bagasi.

Kadang kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangat terik, bisa sampai dua jam. Kalau cuacanya lagi sejuk dan tidak terlalu terik, kami biasanya sama-sama menatap ke arah matahari, memandang langit sambil tiduran. Kalau sudah bagini, bahari menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, 'Rasanya kayak di Miami, ya?'
'Iya,' jawab gue.
'Iya,' jawab Dodo.
Kami bertiga gak ada yang pernah ke Miami.

Koala Kumal adalah buku komedi yang menceritakan pengalaman Raditya Dika dari mulai jurit malam SMP yang berakhir dengan kekacauan sampai bertemu dengan perempuan yang mahir bermain tombak. Seluruh cerita di dalamnya berasal dari kisah nyata.

*
Sinopsis Goodreads:
Memasuki tahun kesepuluh sebagai penulis, Raditya Dika melahirkan karya terbarunya Koala Kumal. Masih mengusung genre yang sama—kisah-kisah komedi yang didasarkan pada pengalaman si penulis, kali ini lewat Koala Kumal, Raditya Dika mengajak pembacanya berbicara tentang hubungan yang ‘patah’. Mulai dari renggangnya hubungan pertemanan, perasaan yang berubah kepada orang yang sama, hubungan orangtua dan anak, hingga patah hati terhebat yang mengubah cara pandang terhadap cinta.

Gara-gara kurang update di sosial media (twitter), saya sama sekali nggak tahu kalau Raditya Dika sedang menulis buku. Makanya sempat kaget tahu-tahu ada pre-order buku Koala Kumal karyanya. Setelah sekian tahun absen menerbitkan buku, saya pikir Radit sudah berhenti menulis buku, mengingat kesibukannya saat ini sebagai selebritas. Tapi saya salah. Rupanya di sela-sela kesibukannya, Radit berusaha mencuri waktu untuk menulis. Itulah mengapa butuh tiga tahun baginya untuk melahirkan buku ini.

Ya ampun, saya kangen tulisan-tulisan Radit yang selalu membuat saya terpingkal. Saya ingat ketika pertama kali membaca Kambing Jantan, Radit berhasil membuat perut saya sakit karena tertawa tanpa henti. Waktu itu saya nggak mempedulikan ejaan, tata bahasa, EYD, dan sebagainya. Yang saya tahu, Kambing Jantan benar-benar lucu. Sejak saat itu saya selalu menantikan karya-karya terbaru Raditya Dika. Untuk Koala Kumal ini, saya beruntung dipinjami bukunya oleh teman sekantor. :D

Koala Kumal masih sama dengan buku-buku Radit yang lain, yaitu bergenre komedi, yang ceritanya berasal dari kisah nyata Radit sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Kali ini ia mengangkat tema patah hati dan putusnya sebuah hubungan, mulai dari putus hubungan pertemanan, hingga percintaan. Jadi, walau buku ini bergenre komedi, tapi tetap saja isinya bikin galau. Sepanjang membaca buku ini saya dibuat ngakak, galau, ngakak lagi, galau lagi, begitu terus hingga menutup lembar terakhir buku ini. Semacam roller coaster.

Ada 12 cerita di buku ini, di mana masing-masing cerita berdiri sendiri. Jadi sah-sah saja membaca buku ini tanpa mengikuti urutan. Oh ya, tak semua cerita berkisah tentang patah hati kok. Tapi tetap saja, auranya gelap. Bikin ngakak, iya, tapi endingnya selalu bikin ngelus dada juga. 12 cerita tersebut yaitu:

1. Ada Jagwe di Kepalaku. Cerita tentang Radit yang masa kecilnya tak punya banyak teman. Di saat ia sudah mulai dekat dengan dua sahabat barunya, terjadi peristiwa yang membuat persahabatan mereka merenggang.

2. Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film. Saya suka cerita ini. Tentang Radit yang tidak ingin keluarganya menonton film Cinta Brontosaurus sebab ia khawatir keluarganya, terutama Bapak, akan marah karena digambarkan dengan begitu konyol di film itu. Saya belum menonton filmnya btw.

3. Balada Lelaki Tomboi. Gimana rasaya pacaran dengan dengan cewek yang lebih ‘laki-laki’ dibanding kamu? Radit pernah mengalaminya. Intinya, cewek ini bikin Radit jadi nggak pede sebagai laki-laki. Dan untuk pertama kalinya Radit bela-belain melatih fisiknya agar mampu mengimbangi si cewek yang memang jago olah raga. Sayang, perjuangan Radit harus berakhir tak manis.
Putus cinta membuat kita jadi malas ngapa-ngapain, terutama olahraga ke gym. Gue udah gak makan sehat lagi. Berat badan gue naik lima kilogram. Kata orang, ketika sedang patah hati, kita akan makan banyak biar ngerasa gak sedih-sedih amat. Gue jadi sering makan es krim sambil nangis, ingusan, meratapi apa yang salah. Gara-gara putus cinta, sekarang gue jadi cowok cengeng yang buncit.

4. Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan. Dari judulnya, memang bukan cerita, tapi panduan bagi para cowok dalam menghadapi penolakan dari cewek. Lumayanlah panduannya. Ada yang absurd, tapi ada juga yang masuk akal. Tentu saja, tetap kocak.

5. Kucing Story. Cerita ketika Radit hendak membeli kucing. Bahkan cerita tentang kucing ini mampu membuat saya galau. Jadi mikir, apa saya harus *sensor* juga ya agar terhindar dari patah hati? #heh

6. LB. Ceritanya bersetting di Thailand. Sempat mikir Radit ini bego apa kelewat polos ya? Masa dia nggak ngeh apa itu LB? *kemplang Radit*

7. Perempuan Tanpa Nama. Ah. Cerita ini lumayan relate sama saya. Cukup sering ngalamin kejadian kayak begini. Jadi, bab ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang pernah menyentuh hati Radit. Sayang, karena keadaan (juga karena Raditnya sendiri sih), ia jadi tak bisa mengetahui nama mereka. Meski begitu, setelah bertahun-tahun berlalu, rupanya para Perempuan Tanpa Nama itu masih ngenggeliat di salah satu sudut otak Radit (eciyeh), sehingga ia menuliskan tentang mereka di bab ini. Duh, ketularan galau deh.
Orang yang jatuh cinta terkadang berharap pada hal yang tak pasti. Selamat tiga hari ke depan, setiap pulang sekolah, gue mampir ke Kentucky Friend Chicken. Berharap Perempuan Tanpa Nama datang kembali ke tempat ini. Hari Pertama, dia gak ada. Hari kedua juga. Begitu pula dengan hari ketiga. Nyokap sampai bingung, kenapa gue tiba-tiba jadi suka ayam goreng. Dia nanya ke gue,  ‘Kamu lagi doyan banget, ya?’ Gue hanya bisa menjawab, ‘Gitu, deh, Ma.’

8. Menciptakan Miko. Tahu kan, film pendek Malam Minggu Miko yang terkenal itu? Nah, di sini Radit bercerita tentang awal mula ia menciptakan Miko. Benar-benar mulai dari nol. Radit yang nggak punya latar belakang di bidang film sempat kewalahan. Di sini juga diceritakan awal mula perekrutan karakter Anca si asisten rumah tangga. Ternyata... hahahaha. Hadoh. Pantesan Anca menjiwai banget karakternya di Malam Minggu Miko. :))

9. Lebih Seram Dari Jurit Malam. Cerita ini sewaktu Radit masih SMP. Horor-horor lucu gitu ceritanya. Pada bab ini, Radit bercerita tentang dirinya yang tak sadar telah membuat orang lain patah hati. Ayo, coba diingat-ingat lagi, siapa tahu ada di antara kita yang tanpa sengaja telah membuat orang lain patah hati?

10. Patah Hati Terhebat. Cerita yang paling nyesek di buku ini. Yang mengalami bukan Radit, tapi temannya. Saking dramatisnya, cerita ini sempat membuat saya sulit percaya benar-benar terjadi. Tragis banget. Patah hati yang dialami si teman itu membuat cara pandangnya terhadap cinta berubah total. Sayang sekali.

11. Aku Ketemu Orang Lain. Cerita tentang pacaran jarak jauh. Mungkin LDR bisa berhasil bagi beberapa orang. Tapi tidak bagi Radit kala itu.

12. Koala Kumal. Akhirnya, bab yang menjadi judul buku ini. Bab ini tidak panjang, hanya menceritakan asal-usul mengapa Radit memilih Koala Kumal sebagai judul buku ini. Meski isinya pendek, tapi efek nyeseknya lumayan berasa. *peluk si Koala*

Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini. Sebagai orang yang telah membaca semua karya Radit, saya berani bilang kalau gaya menulis Radit semakin matang di buku ini. Tulisannya lebih rapi, pilihan katanya juga tidak lagi se‘brutal’ di buku-bukunya terdahulu, seperti misalnya, Babi Ngesot. Saya tidak bilang tidak menyukai gaya menulis Radit di Babi Ngesot, sebab bagaimana pun, gaya berceritanya yang blak-blakan di buku itu pernah membuat saya terpingkal-pingkal di Bandara Lombok, bersama seorang sahabat yang akhirnya ikut membaca buku itu karena penasaran mengapa saya tak dapat mengontrol tawa di tempat umum.

Meski menyukai buku ini, saya merasa ada yang kurang. Mungkin bukunya kurang tebal (haha). Iyalah, saya kecewa karena untuk ukuran buku yang ditulis selama tiga tahun, jumlah halamannya terlalu sedikit. Kata Adi, teman yang meminjamkan buku ini ke saya, dia kurang puas karena setiap cerita seolah berakhir begitu saja. Saya setuju. Radit terlalu berusaha meninggalkan kesan ‘nyesek’ di setiap cerita bagi para pembacanya. Saya akui ia cukup berhasil melakukannya, meski terkesan terburu-buru. Empat bintang saya cukup untuk Koala Kumal.

Setelah membaca Koala Kumal, saya jadi ingin memilikinya juga, sekaligus ingin melengkapi koleksi buku-buku Raditya Dika di rak buku saya.

Trims, Adi, sudah meminjamkan buku ini. :)


Something Borrowed

22 komentar:

  1. Balasan
    1. Kyahahaha. Kok kita sama ya Ros, modal minjem.

      Hapus
  2. mungkin Kambing Jantan sampai Babi Ngesot biasa dinikmati remaja tanggung yang masih hepi-hepi, Kang. kalau Marmut Merah Jambu sampai Koala Kumal ini mungkin penikmatnya orang dewasa berjiwa muda yang sudah berpikiran matang *tsaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ecieee. Keren, keren!
      Abang setuju! :D

      Hapus
  3. Baru baca 50% .__.
    Belum bisa komen apa-apa.
    Tapi memang keren sih. Btw, ini buku pertama Radit yang aku baca. #plak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Humornya lebih kalem di sini. Kalem dan kelam. Hehe.

      Hapus
    2. Kemarin2 udah selesai baca buku ini.
      Favoritku yang Perempuan Tanpa Nama. Hehe

      Hapus
    3. Yg paling bikin bingung itu yah hanya perempuan tanpa nama :) tpi jujur seru bacanya

      Hapus
  4. Duh, aku pinjem siapa ya? *cari orang yang suka galau dan punya buku ini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli lah, Lis. :p
      *padahal sendirinya cumi. cuma minjem*
      *kabur sebelum dilempar kursi*

      Hapus
  5. Aku terakhir baca bukunya radit yg apa yaa... lupa. Yg jelas makin boring sih, ga selucu sebelumnya. Punch line nya banyak yg gagal di aku. Jadi yaah... entah karena faktor U atau karena selera humor ku mengalami degradasi? Anw, aku jg blm nonton cinta brontosaurus nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktor U. :p
      Ah Oky, dirimu membuatku sadar kalau diri ini sudah tidak muda lagi. ._.

      Hapus
  6. Saya beli buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Sekedar pelengkap koleksi buku2nya Raditya Dika yang saya beli semata-mata karena dia sudah menginspirasi saya membuat blog lewat buku Kambing Jantan.
    Ternyata...saya bisa ngakak juga baca buku ini. Beda waktu baca buku sebelumnya yang Marmut itu... Menurutku di dalam buku ini humornya Dika meski masih main fisik, sudah lumayan cerdas. Sepertinya pengaruh stand up comedy-nya dia kebawa di buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :') Kambing Jantan juga menginspirasi aku untuk nge-blog. Sejujurnya aku lebih suka Raditya Dika tetap berkiprah di dunia literasi ketimbang televisi. Tapi siapalah aku, hanya seonggok kateng bat kopok kuping. :))

      Hapus
  7. Andaikan uang jatuh dari langit :,(( kapan ya hujan uang bang , pengen banget nih buku dari dulu bahkan sebelum publish udah pengen XD, Karyanya emang lucu dan bikin nyesek kalo soal cinta

    BalasHapus
  8. gw udh buat cerita novel tapi pgn di terbitin cara ny bagaiman ? tolong saran

    BalasHapus
  9. Bukunya keren nih. Paling suka yg bab patah hati terhebat. Salam kenal 😊

    BalasHapus
  10. Bukunya keren nih. Paling suka yg bab patah hati terhebat. Salam kenal 😊

    BalasHapus
  11. Baru baca buku kambing jantan edisi book 2 sama manusia setengah salmon :v Lagi nyari pinjeman buku dika di perpus sekolah xD

    BalasHapus

Back to top