28 Feb 2015

Memori - Windry Ramadhina

Judul: Memori
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, Mei 2012
Tebal: viii + 304 hlm
ISBN13: 9789797805623

Sinopsis:
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

Mahoni adalah seorang arsitek muda yang tengah giat meniti karir di Virginia, Amerika Serikat. Ada alasan khusus yang membuatnya meniti karir di luar negeri alih-alih di tanah kelahirannya sendiri. Sebuah luka masa lalu yang disebabkan oleh sang ayah yang lebih memilih meninggalkan dirinya dan sang ibu demi seorang perempuan bernama Grace, membuat Mahoni menjadi pribadi yang keras. Sebagai seorang arsitek, Mahoni memiliki pendirian yang teguh serta sangat idealis. Ia berpendapat bahwa seorang arsitek adalah pekerja seni, sehingga ia tidak gampang mengiyakan keinginan para klien apabila permintaan klien tersebut bertentangan dengan idealismenya. Mungkin itu jugalah yang membuatnya jarang deal dengan klien. Ron, pria bule yang juga rekan kerja Mahoni kerap mengingatkan wanita itu agar tidak bersikap terlalu idealis, karena bagaimanapun, keinginan klien-lah yang perlu diutamakan. Tapi Mahoni bertahan pada pendiriannya.

Suatu ketika, Mahoni menerima telepon dari Om Ranu yang mengabarkan bahwa sang ayah mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya dan Grace. Hal tersebut membuat Mahoni terpaksa harus mengambil cuti untuk pulang ke Indonesia, untuk menghadapi kenangan-kenganan pahit di masa lalu yang selama ini ia coba lupakan. Bukanlah hal yang mudah bagi Mahoni untuk kembali ke rumah sang ayah.

Mahoni sebenarnya tidak berencana untuk tinggal lebih lama lagi di Jakarta, tapi keadaan memaksa dirinya untuk menambah waktu cuti, demi seseorang yang ia benci namun kini menjadi tanggung jawabnya, yaitu Sigi, anak laki-laki dari ayahnya dan Grace, yang tidak lain adalah adik tirinya. Sakit hati pada ayah dan Grace membuat Mahoni tak pernah mau mengakui Sigi sebagai adik. Alhasil, hubungan Mahoni dan Sigi terasa sangat kaku. Meski tinggal seatap, Mahoni berusaha untuk tidak saling bertemu muka dengan Sigi.

Persoalan Mahoni ternyata tidak berhenti di situ saja. Selama berada di tanah air, gadis itu kembali dipertemukan dengan Simon, salah satu sosok penting dari masa lalunya. Tampaknya, terpisah jarak dan waktu tak lantas mengikiskan perasaan Mahoni terhadap laki-laki itu. Namun Mahoni tak bisa berbuat apa-apa selain menerima fakta bahwa Simon sudah punya pendamping yang cukup sepadan. Hubungan keduanya kini tak lebih dari sebuah hubungan profesional, sebab Simon menawarkan pekerjaan di kantornya selama Mahoni berada di Indonesia.

Bagaimana cara Mahoni mengatasi segala kenangan pahit di masa lalu yang seolah sepakat menyerbunya tanpa ampun? Baca kisah lengkapnya dalam Memori, sebuah karya gemilang dari Windry Ramadhina.

Memori adalah karya pertama Mindry Ramadhina yang saya baca. Melihat judul dan sampul depan novel ini yang kalem, saya menduga bahwa novel ini akan berisi kisah cinta yang mendayu-dayu. Dugaan saya sedikit meleset. Sesuai judulnya, novel ini berkisah tentang tokoh utama yang dipaksa oleh keadaan untuk menghadapi berbagai kenangan masa lalu yang didominasi oleh hal-hal pahit. Sebagian besar kenangan tersebut berhubungan dengan keluarga. Dalam cerita ini, kita akan melihat sosok Mahoni yang memiliki kepribadian keras tapi juga cenderung pesimis. Padahal, dulunya Mahoni adalah gadis kecil yang periang, yang betah berlama-lama mengamati ayahnya bekerja dengan kayu (ini menjelaskan mengapa ia diberi nama Mahoni). :)

Mungkin memang benar bahwa ditinggal sang ayah untuk menikah lagi memberi andil pada perubahan sikap Mahoni. Namun itu bukan sepenuhnya kesalahan sang ayah. Setelah membaca keseluruhan novel ini, saya mengambil kesimpulan bahwa orang terdekatlah yang mampu mempengaruhi sikap seseorang, termasuk cara seseorang terhadap hidup. Dalam kasus Mahoni, orang tersebut adalah Mae, ibu kandungnya. Mae yang teramat benci terhadap mantan suaminya tanpa sadar telah menanamkan benih kebencian yang sama terhadap Mahoni kecil. Padahal selama ini sang ayah selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Mahoni. Bahkan Grace, istri baru ayahnya, sebenarnya juga bersikap baik terhadap Mahoni. Saya menyukai cara penulis menyampaikan kisah yang sebenarnya cukup rumit ini menjadi mudah diterima oleh pembaca. Saya jadi sulit untuk membenci sosok ayah Mahoni, Grace, apalagi Sigi.

Interaksi antara Mahoni dan Sigi sangat menarik untuk disimak. Hubungan keduanya yang awalnya sangat kaku, oleh penulis diolah sedemikian rupa, sehingga mampu membuat pembaca penasaran terhadap perkembangan hubungan mereka selanjutnya. Banyak adegan-adegan manis yang melibatkan Mahoni dan adik tirinya tersebut. Saya harus mengakui bahwa penulis memang piawai dalam mengolah kisah bertema hubungan keluarga.

Nah, meski tema keluarga mengambil porsi besar dalam novel ini, namun penulis tidak lupa menyisipkan romansa di dalamnya, yaitu hubungan antara Mahoni dan Simon. Unsur roman dalam novel ini pun tidak terkesan tempelan semata, sebab kisah Simon, Mahoni, dan Sofia (pacar Simon saat ini), merupakan representasi dari kisah ayah Mahoni, Mae, dan Grace. Menarik, bukan? Untuk tahu kisah lengkapnya, sebaiknya baca sendiri novelnya ya. Hehe.

Saya memilih novel ini untuk tema Baca Bareng BBI bulan Februari, yaitu profesi, setelah diyakinkan oleh Sulis bahwa novel ini layak dijadikan pilihan. Latar belakang penulis yang seorang arsitek memberi pengaruh yang besar terhadap novel ini. Pertama, profesi para tokohnya. Baik Mahoni, Simon, maupun Sofia adalah arsitek, sehingga lingkungan kerja para tokohnya tentu berkaitan erat dengan profesi mereka. Kedua, adalah deskripsi dalam novel ini. Penulis benar-benar detail dalam mendeskripsikan situasi dan setting dari sudut pandang seorang arsitek (Mahoni), yang membuat saya yakin bahwa penulis memang cukup ahli di bidangnya. Saya rasa pembaca yang punya latar belakang yang berhubungan dengan arsitektur akan merasa relate dengan novel ini. Bahkan, saya, yang awam tentang hal-hal yang berhubungan dengan desain tata ruang, sedikit banyak mendapat pencerahan melalui novel ini. Yang saya keluhkan adalah seharusnya penulis menambahkan catatan kaki untuk istilah-istilah yang berhubungan dengan arsitektur. Saya malas jika harus membuka google lagi. Alhasil, apabila terdapat istilah yang kurang saya pahami, maka saya akan melihat konteks kalimat secara keseluruhan, kemudian berlagak paham dan kembali melanjutkan membaca. #sayamemangsotoy

Membaca Memori merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Mengangkat tema tentang keluarga, cinta, dan dunia arsitektur, membuat novel ini sangat kaya. Dan di novel ini, tak ada tokoh antagonis yang benar-benar saya benci (malah, saya ragu kalau ada tokoh antagonis di novel ini). Yang membuat saya tidak memberi rating penuh terhadap Memori adalah karena pace ceritanya yang cenderung lambat. Selebihnya, novel ini bagus sekali. Yang belum membacanya, buruan dibaca deh. Sayang jika dilewatkan begitu saja. :)

Baca Bareng Februari: Profesi

5 komentar:

  1. salah satu buku favoritku sepanjang masa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, buku ini masuk dalam daftar 11 buku Gagas yang wajib dibaca versi dirimu kan? :)

      Hapus
  2. Ini juga jadi buku favoritku. Karena buku ini sih aku jadi suka sama Windry Ramadhina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga buku pertama dia yang aku baca. Jadi pengen baca karya-karyanya yang lain deh.

      Hapus
  3. Habis baca review ini jadi makin penasarannnnn~
    Selama ini belum pernah baca novel karangan kak Windry Ramadhina :'

    BalasHapus

Back to top