25 Feb 2015

Opini Bareng BBI: Karakter Tokoh Utama

image source here. edited by me.

Dalam sebuah fiksi, ada beberapa elemen penting yang menjadi perhatian pembaca (setidaknya saya), di antaranya adalah plot, seting, sudut pandang, tema, dan karakter tokoh utama. Nah, untuk postingan Opini Bareng BBI yang kedua ini, topik yang diangkat adalah elemen terakhir yang saya sebutkan, yaitu karakter tokoh utama. Seperti apa karakter tokoh utama yang disukai pembaca? Mengutip pertanyaan yang dilontarkan Bebi, “Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serbasempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?”

Hmm. Pertanyaan-pertanyaan yang menarik, Beb.

Apakah saya menyukai karakter utama yang serbasempurna? Menjadi sempurna mungkin adalah impian setiap orang. Punya wajah cantik/tampan, punya keluarga lengkap dan saling menyayangi, punya harta kekayaan melimpah, punya jabatan keren di perusahaan besar, dikelilingi para sahabat yang benar-benar perhatian, dan lain sebagainya. Wah, saya sih mau-mau saja kalau ditawari itu semua, hehe. Sayang, nggak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Lantas, apabila semua hal tadi diwujudkan ke dalam sosok tokoh utama, apakah saya akan menyukainya? Jawaban saya tentu saja tidak. Bukan apa-apa sih. Saya nggak ingin mengatakan karakter yang sempurna itu membosankan. Sejujurnya, saya kurang menyukai karakter yang serbasempurna sebab pasti saya bakalan sirik berat. Ups.

Untungnya, saya jarang menemui karakter yang benar-benar sempurna dalam novel-novel yang saya baca (sejauh ini). Beberapa karakter yang mendekati sempurna (khususnya dari segi fisik) memang cukup banyak ditemui dalam novel-novel lokal, contohnya dari lini metropop milik Gramedia Pustaka Utama. Para tokoh utama ini biasanya cantik/ganteng, tajir, berpendidikan tinggi, bergaya hidup mewah (ampun istilahnya), dan punya teman-teman keren. Tapi nyatanya hidup mereka sempurna-sempurna banget kok. Banyak juga problem yang harus mereka hadapi nantinya. Bisa jadi masalah percintaan, keluarga, pekerjaan, hubungan persahabatan, atau mungkin terkuaknya rahasia busuk si tokoh utama itu sendiri. Pada akhirnya, memang nggak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini.

Apakah saya menyukai karakter utama yang mirip dengan kepribadian saya? Hell, yes. Siapa yang nggak suka jika karakter tokoh utama dalam sebuah fiksi mirip dengan diri kita sendiri? Tinggal ganti nama tokohnya dan puff! Jadilah kita membaca fiksi dengan tokoh utama diri kita sendiri. *ngarep* (Oke sepertinya saya salah fokus). Saya pernah lho, membaca novel di mana salah satu karakternya mirip dengan saya dari segi kepribadian. But no, saya nggak memfavoritkan karakter tersebut. Meski kepribadiannya mirip saya, tapi keputusan yang ia ambil tidak sesuai dengan harapan saya. Novel apa itu? Hehe, rahasia.

Saya pribadi sebenarnya nggak terlalu mempersoalkan apakah tokoh utama dalam novel yang saya baca itu serbasempurna atau tidak, mirip atau bertolak belakang dengan saya, cerewet atau pendiam, tampan/cantik atau biasa-biasa saja, cerewet atau pendiam. Yang penting adalah bagaimana penulis membuat saya sebagai pembaca merasa peduli terhadap si tokoh utama. Sekali pembaca peduli dengan tokoh utama, mereka bakalan setia mengikuti kelanjutan kisahnya sampai lembar terakhir. Begitu kira-kira kata om Stephen King. Saya setuju dengan pendapat beliau.

Baru-baru ini saya membaca ulang sebuah novel yang karakter tokoh utamanya cukup menarik, yiatu Reputation karya Tessa Intanya. Rashi, si tokoh utama, memilki karakter anti-hero (karena cewek, lebih tepat disebut anti-heroine kali, ya?). Ia jutek, komentar-komentarnya nyelekit, ia nggak mau temen-temennya terlihat lebih ‘bersinar’ darinya. Biasanya kan, karakter kayak begini selalu menjadi tokoh antagonis. Namun penulis mampu membuat saya penasaran dengan Rashi. Mengapa tokoh ini bersikap begitu menyebalkan? Bisa nggak sih, ia bersikap baik? Saya pun cukup yakin untuk melanjutkan membaca kisahnya hingga selesai. Contoh karakter Rashi ini saya ambil sebagai gambaran, bahwa tokoh utama nggak harus baik hati dan berbudi pekerti luhur kok. Jika diolah dengan baik, tokoh anti-hero pun mampu menarik simpati pembaca, walau perilakunya tidak patut dicontoh sih. :p

Namun demikian, saya tetap punya beberapa ekspektasi terhadap tokoh utama dalam sebuah bacaan fiksi. (Boleh dong ya, sedikit berekspektasi.)

Pertama, tokoh utama sebaiknya realistis. Saya pernah membaca novel di mana tokoh utamanya mengalami kemalangan bertubi-tubi di sepanjang cerita. Malah ada flashback kejadian masa lalu ketika ia masih masih bayi, dibuang ke tempat sampah dan dikerubungi latat—ini serius saya nggak melebih-lebihkan. Alih-alih bersimpati terhadap si tokoh utama, saya malah merasa kayak sedang dibohongi habis-habisan (oke ini lebai). Penulis nggak mampu membuat saya bersimpati terhadap tokoh utamanya sejak awal, makanya saya lempeng aja membaca kisah malang si tokoh utama. Kedua, tokoh utama sebaiknya memiliki motivasi yang kuat dan nggak plin-plan dalam bertindak atau mengambil keputusan. Saya mungkin tidak akan selalu setuju dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh utama. Tapi bila keputusan tersebut didasari motivasi yang cukup kuat dan tidak mengada-ada, saya nggak akan banyak protes. Ketiga, meski ini nggak wajib, tapi saya berharap si tokoh utama punya selera humor. Nggak harus selucu komedian kok, tapi bisa melalui komentar-komentar sarkastis yang cerdas, apapun genre dan tema novelnya. Saya selalu menyukai karakter tokoh utama yang memiliki selera humor. :)

Begitulah kira-kira opini ngawur saya tentang karakter tokoh utama dalam sebuah fiksi. Bagaimana dengan teman-teman? Seperti apa karakter tokoh utama favorit kalian?

10 komentar:

  1. Sama, saya juga engga suka tokoh utama yang sempurna, ada tokoh yang saking menariknya tiap dia melangkah ke suatu tempat pasti ada lawan jenis yang langsung cinta mati.. walah.. Apalagi kalau disandingkan dengan tokoh antagonisnya secara hitam putih...sinetron banget..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak, tokoh protagonis vs antagonis nggak harus digambarkan secara hitam putih. :)

      Hapus
  2. Setujuuu, kadang2 karakter anti-hero malah bisa jadi lbh menarik kalo penulisnya berhasil nyeritain karakternya dgn bagus :D Dan setuju juga kalo karakter sialnya terlalu bertubi-tubi sampe ngga masuk akal, malah kesannya jd terlalu berlebihan :1

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngebahas karakter anti-hero, aku jadi ingat pengen baca Vicious tapi belum kesampaian. XD

      Hapus
  3. kalo karakter utamanya cewek, suka yang judes macam katniss :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Aku juga suka Katnip. :)

      Hapus
  4. Hehe. Aku juga pernah baca yang tokohnya mengalami kemalangan bertubi-tubi, kang. Aku bilang jadi mirip ama sinetron. Habis aku review, penulisnya jadi tertohok. Padahal reviewnya bermaksud biar penulisnya tahu apa yang perlu dibenahi. Jadi ngerasa serba salah. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. LOL. Review novel apa, Ky? Jangan-jangan kita mereview novel yang sama? :'D

      Hapus

Back to top