6 Feb 2013

Charlie Bone and the Time Twister (Charlie Bone dan Mesin Waktu) by Jenny Nimmo

Judul: Charlie Bone and the Time Twister (Charlie Bone dan Mesin Waktu)
Seri: The Children of the Red King #2
Penulis: Jenny Nimmo
Penerjemah: Iryani Syahrir
Penerbit: Ufuk, 2011 (Cetakan I)
Tebal: 416 hlm.
ISBN: 9786029346251
Rating: 4/5

Sinopsis:
Charlie Bone berharap semester baru di Bloor’s Academy tidak akan memberikan kejutan yang mengecewakan. Namun, muncullah Henry Yewbeam, yang keluar melalui mesim waktu dari musim dingin bersalju pada tahun 1916. Dengan para bibi Yewbeam yang jahat selalu memata-matainya dan keluarga Bloor siap menangkapnya, Henry membutuhkan bantuan Charlie hanya untuk bertahan hidup.

Henry Yewbeam, yang hidup pada tahun 1916 dijebak oleh Ezekiel Bloor, sepupunya yang jahat, untuk melihat ke dalam kelereng ajaib yang ternyata adalah Time Twister (Mesin Waktu) sehingga Henry terdampar di masa depan, di masa ketika Charlie Bone hidup dan bersekolah di Bloor’s Academy. Secara kebetulan Charlie menyaksikan kemunculan Henry, sosok yang hampir mirip dengannya itu. Wajar saja jika Charlie mirip dengan Henry, karena anak tersebut sebenarnya adalah kakak dari kakek Charlie. Setelah mengetahui bahwa peristiwa yang menimpa Henry adalah ulah Ezekiel muda, Charlie memutuskan bahwa lebih baik jika orang-orang tidak mengetahui keberadaan Henry, terutama karena Ezekiel Bloor masih hidup dan tinggal di Bloor’s Academy. Sebab meskipun Ezekiel sudah sangat tua, namun ia masih berkuasa dan masih jahat. Charlie sangat yakin bahwa waktu tidak akan membuat rasa benci Ezekiel tua terhadap Henry bakal berkurang.

Dugaan Charlie bahwa semester kali ini akan membosankan setelah menyelamatkan Emma Tolly pada semester lalu, tampaknya keliru. Sebab kemunculan Henry akhirnya diketahui oleh Ezekiel, dan keluarga Bloor beserta bibi-bibi Charlie yang keji berusaha untuk menyingkirkan Henry… selamanya.

Berhasilkah Charlie membantu Henry bertahan hidup? Apakah Henry berhasil kembali ke tahun 1916? Baca kisah lengkanya dalam buku kedua serial The Children of the Red King: Charlie Bone and the Time Twister.

Dibandingkan dengan buku pertama, saya lebih menyukai buku kedua ini. Usaha Charlie dan teman-temannya dalam membantu Charlie kali ini lebih seru dibandingkan dengan usaha mereka sewaktu menyelamatkan Emma Tolly di buku pertama. Tokoh-tokoh yang muncul sekilas di buku pertama kini muncul kembali dengan porsi lebih banyak serta memegang peran yang cukup penting dalam cerita. Di antaranya adalah Juru Masak yang pernah mengadakan pesta mendadak di Bloor’s Academy demi merayakan selamatnya Charlie dari reruntuhan kastil merah tak jauh dari sekolah itu. Juru Masak ternyata tinggal di salah satu ruangan rahasia di Bloor's, dan ia yang membantu Charlie untuk menyembunyikan Henry. Kemudian ada Tancred Torsson, yang di buku sebelumnya (bersama Lysander dan Gabriel) membantu Charlie keluar dari reruntuhan, kini terlibat pertengkaran hebat dengan Lysander, yang merupakan sahabat karibnya. Bakat Tancred dalam memanggil badai sempat membuat aula Bloor’s Academy porak-poranda karena emosinya yang tidak terkontrol. Juga ada Emma Tolly, anak perempuan yang pada buku sebelumnya pernah disinggung memili bakat terbang, kini ikut ambil bagian dalam usaha menyelamatkan Henry. Bakat terbangnya ternyata tidak seperti yang saya duga sebelumnya, dan ini merupakan kejutan yang cukup menarik.

Berbeda dengan pengalaman membaca buku pertama yang dipenuhi tanda tanya, sewaktu membaca buku ini saya betul-betul menikmatinya. Sekolah Bloor’s Academy ternyata tidak buruk-buruk amat kok. Sekolah ini memang dikhususkan bagi anak-anak yang berbakat dalam bidang kesenian, yaitu drama, musik, dan seni (terutama melukis). Sementara anak-anak yang berbakat 'spesial' seperti Charlie, masih menjadi misterius mengapa mereka diharuskan bersekolah di sana. Kemungkinan besar keluarga Bloor ingin memanfaatkan kekuatan mereka kelak. Apapun rencana keluarga Bloor, pastilah itu sesuatu yang jahat.
Bloor’s adalah sekolah yang sedikit luar biasa. Hanya anak-anak yang berbakat di bilang musik, seni, atau drama yang bisa masuk. Charlie tidak memiliki satu pun bakat di bidang tersebut. Dia adalah satu dari dua belas anak lain yang unik. Dalam kasusnya dia sering berharap lebih baik tidak memiliki bakat itu. (hlm 32)
Buat kalian yang mungkin berminat membaca serial Charlie Bone (The Children of the Red King series), berikut ini saya tulisakan (sebenarnya sih, copas) nama-nama anak yang ‘diberkahi’ yang bersekolah di Bloor’s Academi, beserta bakat mereka:

Mandred Bloor: Ketua murid. Ahli hipnotis. Keturunan dari Borlath, putra tertua si Raja Merah. Borlath adalah raja lalim yang kejam dan sadis (oooh, pantes).

Asa Pike: Dulu binatang buas (what? Tapi memang itu yang tercantum di buku). Dia keturunan dari suku yang hidup di hutan-hutan Northern dan memelihara binatang buas yang aneh. Asa berubah bentuk ketika malam.

Billy Raven: Bocah bertubuh paling kecil di Bloor’s. Albino. Bisa berbicara dengan binatang. Salah satu nenek moyangnya berbicara dengan kawanan burung gagak yang bertengger di atas tiang gantungan tempat orang meninggal digantung. Karena bakatnya ini dia dibuang dari desanya. (Uhm, kasihan juga anka ini. Dia yatim piatu dan dimanfaatkan oleh Ezekiel Bloor untuk memata-matai Charlie dkk).

Zelda Dobinski: Keturunan dari keluarga besar penyihir Polandia. Zelda memiliki kemampuan telekinesis.

Beth Strong: Juga memiliki kemampuan telekinesis. Berasal dari keluarga pemain sirkus.

Lysander Sage: Keturunan dari seorang pria bijak Afrika. Dia bisa memanggil roh nenek moyangnya. (Bakatnya ini telah menyelamatkan Charlie setidaknya dua kali).

Tancred Torsson: Pemanggil badai. Nenek moyangnya berasal dari Skandinavia memiliki nama seperti dewa petir Thor (WOOOOW!!! THOR mah idola superhero favorit saya! *dance*). Tancred bisa memanggil hujan, angin, dan petir.

Gabriel Silk: Dapat merasakan adegan dan perasaan hanya dengan memegang baju orang lain. Dia berasal dari keturunan cenayang.

Emma Tolly: Bisa terbang. Nama keluarganya diambil dari jagoan pedang Spanyol dari Toledo—yang putrinya menikah dengan si Raja Merah. Oleh karena itu, dia adalah nenek moyang semua anak yang diberkahi. (Uhm, agak bingung dengan kalimat ini. Emma adalah nenek moyang?)

Charlie Bone: Bisa mendengar suara orang dalam foto dan lukisan. Dia keturunan keluarga Yewbeam, sebuah keluarga yang memiliki banyak sekali kekuataran sihir.

Bindi dan Dorcas: Dua gadis diberkahi yang bakatnya belum berkembang.

Nah, cukup menarik, bukan? Saya jadi membayangkan bahwa Bloor’s Academy mirip sekolah mutan di film X-Men. Hanya saja, anak-anak berbakat ini jumlahnya tidak banyak dan harus berbaur dengan anak-anak lain yang tidak memiliki bakat ‘spesial’.

Akhirnya, sesuai harapan saya, buku ini ternyata lebih menarik dari buku pertama. Dan saya rasa terjemahannya juga lebih nyaman dibaca. Hanya saja, rasanya kok terjemahan Time Twister = Mesin Waktu agak kurang pas menurut saya. 'Mesin' kan identik dengan alat changgih dan jauh dari kesan sihir. Sementara Mesin Waktu yang dimaksud di sini adalah sebuah bolah yang sedikit lebih besar dari kelereng, yang memiliki kekuatan ajaib untuk memindahkan seseorang ke masa yang berbeda. Tapi terjemahan yang cocok apa ya? Auk ah, gelap. Haha.

Semoga buku ketiga lebih keren lagi. Rasanya jadi tidak sabar untuk segera membacanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top