18 Feb 2013

Love, Hate & Hocus-Pocus by Karla M. Nashar

Judul: Love, Hate & Hocus-Pocus
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008
Tebal: 264 hlm.
ISBN: 9789792238006
Rating: 3/5

Sinopsis:
HATE at first sight. Itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Mereka partner kerja yang dinamis---sedinamis gejolak permusuhan yang terus meletup di antara mereka berdua.

Menurut Gadis, Troy Mardian adalah contoh sempurna tipe manusia yang tercabut dari akarnya. Jelas-jelas asli Indonesia, kok pakai bertingkah ala bule? Rambut dicokelatin, ngomong selalu pakai Inggris, barang-barang harus designer label, dan mati-matian mempertahankan imej metroseksual biar tetap bisa menyandang gelar The Most Eligible Bachelor in Indonesia yang dijuarainya berturut-turut pada sebuah kontes nasional.

Sedangkan menurut Troy, Gadis Parasayu (atau Paras Ayu) adalah nama terkonyol yang pernah didengarnya. Di Amerika tempat Troy dibesarkan, nggak ada orangtua yang cukup gila menamai anak mereka dengan Beautiful Face Girl. Narsis sekali! Okelah, wajahnya memang eksotis plus lekuk bodi bak JLo, tapi masa sih doyan banget pakai merek lokal? So nggak kosmopolitan deh!

Hanya satu persamaan mereka. Sama-sama nggak percaya dengan yang namanya hocus-pocus, ramal-meramal, paranormal, astrologi, kartu tarot, feng shui, atau apa pun sebutannya yang berhubungan dengan dunia pernujuman.

Lalu apa yang terjadi saat mereka terbangun pada suatu Minggu pagi cerah, dan mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama dalam kondisi bak Adam dan Hawa saat pertama kali terdepak dari Firdaus---bugil, plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta sepotong memori kabur tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu?!

Pernah nggak, kalian membaca sebuah buku yang sejak awal sudah membuat keningmu berkerut karena terdapat informasi yang membuatmu bergumam, “Perasaan nggak gitu deh, Mbak.”? Begitupun ketika membaca dialognya yang menurutmu nggak banget, tapiii semakin lama kamu membacanya, semakin kamu nggak bisa lepas dari buku itu. Bahkan saat makan pun kamu nggak bisa meletakkan buku itu. Saat seharusnya kamu tidur, kamu malah masih berkutat dengan buku itu, penasaran dengan endingnya… apa ya istilahnya… um, engaging ya? Karena kamu sadar bahwa ceritanya ternyata menarik, tokoh-tokohnya menggemaskan (kamu sampai harus berusaha sekuat tenaga menahan tawa agar nggak disangka kurang waras oleh orang-orang di sekitarmu).

Yap, novel metropop ini membuat saya mengalami hal-hal di atas. Dan inilah salah satu buku yang membuat mood saya jungkir balik, mulai dari gemas,  bete, tapi juga kepingin ngakak, hingga pada akhirnya pengin jedutin kepala ke tembok.

Buku ini berkisah tentang Gadis Parasayu dan Troy Mardian yang sama-sama bekerja pada sebuah perusahaan farmasi. Sejak awal bertemu, keduanya saling tidak menyukai satu sama lain. Istilahnya, hate at first sight. Meski Troy bisa dibilang selebriti di kantornya namun pembawaannya yang kebarat-baratan (bicara bahasa Inggris, hanya ingin makan makanan barat), dan super metroseksual membuat Gadis yang seorang nasionalis sejati sebal setengah mati. Sebaliknya, bagi Troy, tingkah gadis sangat kekanak-kanakan. Bagaimana bisa perempuan itu tidak terpengaruh oleh pesonanya, padahal di luar sana wanita-wanita sangat memujanya. Dan nama ‘Gadis Parasayu’ membuat Troy berpikir Gadis adalah perempuan narsis. Kok bisa sih, seseorang memiliki nama Beautiful Face Girl?

Namun begitu, mereka terpaksa harus bekerja sama ketika menghadapi masalah terkait obat demam berdarah  produksi perusahaan mereka yang ternyata bermasalah dan telah memakan korban. Meski kerap bertengkar dan sering adu mulut, akhirnya masalah perusahaan tersebut berhasil mereka selesaikan dengan baik.

Saat sedang menghadiri acara ulang tahun perusahaan farmasi tempat mereka bekerja, Gadis dan Troy melakukan kesalahan yang amat fatal. Walau mereka sering berselisih paham, namun mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama tidak mempercayai ‘pernujuman’, dan sama-sama menertawakan pertunjukan seorang perempuan gipsi. Seperti terkena kutukan, keduanya terbagun pada suatu Minggu pagi di atas ranjang yang sama. Keduanya sama-sama telanjang, dengan cincin kawin tersemat di jari manis masing-masing. Masalahnya, mereka tidak ingat apa yang telah terjadi, tahu-tahu mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Padahal rasa benci di antara mereka masih membara dan tak ada ruang sedikitpun untuk cinta… *buset dah bahasa gue*

Seperti yang saya bilang sebelumnya, buku ini awalnya membuat kening saya berkerut. Tapi lama kelamaan saya jatuh cinta sama buku ini. Saya menikmati betul saat Troy dan Gadis berantem, membuat saya ingin ngakak lebar. Ceritanya mengalir dengan lancar, mulai dari kisah saat Troy dan Gadis berusaha mengatasi masalah produk obat demam berdarah milik perusahaan mereka, sampai usaha mereka untuk mulai menyesuaikan diri sebagai pasangan suami istri—mereka harus terlihat rukun karena tidak ingin mengecewakan keluarga dan teman-teman, meski itu berarti mereka harus hidup dalam kepura-puraan. Uhm, sampai di situ saja ya, lama-lama bisa spoiler soalnya.

Jika ditanya apakah saya menikmati membaca novel ini, maka sudah pasti jawaban saya adalah: SANGAT. Hanya saja, ending cerita ini amat-sangat-MENGGANTUNG-sekali, Saudara-saudara! Padahal hampiiiir saja saya memberi novel metropop ini 4 bintang (belum 5 bintang, karena seperti yang saya bilang tadi, ada adegan yang membuat kening berkerut). Pertanyaan saya buat Mbak Karla: “Duhai Mbak Penulis, mengapa endingnya begitu, Mbak? Tau nggak mbak, saya rasanya kepingin banget ngelempar itu novel saking jengkelnya?”

Tapi tenang saja. Novelnya tidak saya lempar kok. Cuma saya elus-elus sampai sobek. Eh nggak, nggak, becanda. Pokoknya, saya harus mengobati rasa penasaran saya dengan membaca kelanjutan buku ini: Love, Curse, & Hocus-Pocus. (Uhm, dari judulnya kayaknya  Gadis dan Troy masih jambak-jambakan tuh. Semoga ending bukunya lebih memuaskan. Amin.)

Ehm, mungkin ada yang bertanya, bagian mana sih dari buku ini yang membuat kening berkerut? Saya share sedikit ya:

1. Tak kalah cepat Gadis pun menarik selimut yang tampaknya merupakan satu-satunya benda yang bisa diraih untuk menutupi kondisi mereka yang bak Adam dan Hawa saat pertama kali terdepak dari Firdaus. Alias bugil. (hlm 8)
Uhm, hello, saat Adam dan Hawa terdepak dari Firdaus, mereka sudah nggak bugil lagi lho. Seingat saya sih begitu waktu di sekolah minggu dulu. Hahahaha. *PLAK!*

2. Bahkan ia sempat menyarankan si operator taksi untuk mengecek posisi taksi mereka melaui GPRS… (hlm 90)
Maksudnya GPS ya?

3. Kala bintang berkerlip genit bagai perawan desa… (hlm 228)
Ini mungkin saya yang salah. Tapi setahu saya, jarang lho perawan desa berkerlip (berkedip?) genit. Biasanya perawan desa sering digambarkan ‘tersenyum malu-malu’. *sotoy mode on*

Sudah segitu aja. Intinya novel ini baguuuus banget, kalau endingnya dicut sampai adegan yang ‘itu’ saja (no spoiler), tidak perlu ditambahkan epilog lagi. Memang sih kalau bagian epilog diilangin, endingnya bakalan maniiis banget, sampai-sampai pembaca bisa kena diabetes saking manisnya. Tapi menurut saya itu lebih baik ketimbang epilog yang bikin kepingin jedutin kepala ke tembok.

Januari kemarin sekuel novel ini telah terbit, bersamaan dengan dicetak ulangnya novel ini dengan cover baru berdesain senada dengan buku keduanya. Lebih bagus cover baru ya? :)


***

7 komentar:

  1. setujuuuhh sama reviewnyaa :D
    aku juga krg begitu sreg sm dialog2nya,
    tp ceritany bikin penasaran sih xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. pengin segera baca lanjutannya, tapi belum punya. haha.

      Hapus
    2. akoh punya kak.. masi dibungkus plastik loh *usap2buku*

      Hapus
    3. @Ega: Yang "Curse" yak? Hmm. (Sabar..sabar..)

      Hapus
  2. covernya clasik ya vaan? jadi penasaran pengin baca nih? Oh ya link blogmu udah nongkrong di blogku. salam:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya cover yg lama kesannya klasik. tp saya suka cover baru. entah kenapa cover2 dengan dominasi warna putih selalu menarik buatku.

      Hapus

Back to top