8 Feb 2013

Kana Di Negeri Kiwi by Rosemary Kesauly

Judul Buku: Kana Di Negeri Kiwi
Penulis: Rosemary Kesauly
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2005 (Cetakan III)
Tebal: 208 hlm
ISBN: 979221271X
Harga: Rp. 27.500,-
Rate: 4/5

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah lama nggak membaca teenlit, sekalinya mulai membaca lagi langsung dapat yang bagus meskipun terbitan lama (tahun 2005). Buku ini berkisah tentang Kana yang tinggal di Negeri Kiwi. Membaca judul “Kana Di Negeri Kiwi” bayangan yang muncul di benak saya adalah buku ini semacam cerita fantasi, soalnya mengingatkan saya pada judul “Alice In Wonderland”. Ternyata buku ini jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan fantasi. Yang dimaksud Negeri Kiwi adalah negeri Selandia Baru, yang memang dijuluki Negeri Kiwi.

Sebelum pindah ke Selandia Baru, Kana tinggal di Yogyakarta. Orang tua kana sudah bercerai sejak Kana masih kecil. Ibunya asli Solo, sementara ayahnya adalah seorang antropolog berwarga negara Selandia Baru. Dikarenakan suatu hal, ibu dan ayah memutuskan untuk bercerai saat Kana masih sangat kecil. Ayahnya pulang ke Selandia Baru, sementara Kana tetap tinggal bersama ibunya. Hubungan Kana dan ibunya tidak bisa dibilang mesra, bahkan, cukup buruk. Setiap hari mereka selalu bertengkar. Saat Kana berusia 15 tahun, ibunya menikah lagi, dan Kana dikirim ke Selandia Baru untuk tinggal bersama ayahnya yang selama ini hanya dikenalnya lewat foto dan kartu-kartu yang dikirim ayahnya setiap kali Kana berulang tahun.

Kepindahan Kana ke Selandia Baru meninggalkan kenangan pahit. Dia diputuskan oleh Rudy, pacar sekaligus cinta pertama yang amat dicintainya, dengan alasan tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Meski begitu, yang paling diingat Kana adalah kata-kata terakhir Rudy, yang menyebut Kana "gendut". Ini benar-benar membuat Kana menjadi parno soal berat badan. Selama di Selandia Baru, ia masih belum bisa melupakan Rudy. Malahan, ia rela diet mati-matian dengan harapan agar ia bisa kembali menjadi kekasih Rudi jika tubuhnya telah langsing.

Galau karena tidak bisa melupakan Rudi serta gelisah soal berat badan, Kana menjadi remaja pengeluh. Untung ada Joy, gadis imigran India yang menjadi sahabat Kana selama tinggal di Selandia Baru. Joy berparas cantik, bertubuh langsing, serta rajin belajar. Hebatnya, sahabat Kana ini ini selalu mampu menghibur dan menenangkan Kana saat gadis itu mulai mengeluhkan permasalahannya. Namun, belakangan ini sikap Joy berubah. Gadis India itu seperti menarik diri. Kana bingung, jangan-jangan Joy sudah bosan berteman dengannya yang selalu mengeluh. Hubungan Kana dan Joy semakin memburuk setelah Joy mengetahui Kana dekat dengan Tsunehisa, cowok Jepang yang selama ini ditaksir Joy. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Joy?

REVIEW:

Buku ini adalah pemenang Lomba Novel Teenlit Writer 2005. Wajar saja novel ini menjadi juara 1, sebab meskipun buku ini adalah novel teenlit dengan gaya bercerita yang ringan dan terkesan ceria, namun tema yang diangkat ternyata tidak biasa (pada saat itu), yaitu tentang sexual harassment. Buku ini juga sarat dengan pesan moral. Lewat Kana yang selalu merasa diri tidak sempurna karena memiliki tubuh yang (menurutnya) gendut, kita diajak untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki. Terkadang (atau malah sering), kita selalu mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya remeh, tanpa menghiraukan orang lain yang menjadi tempat kira curhat. Bisa jadi orang-orang di sekitar kitalah yang justru lebih membutuhkan pertolongan kita.

Gaya tulisan dalam novel ini membuat saya nyaris lupa bahwa novel ini adalah novel lokal. Saya malah merasa seperti membaca novel terjemahan. Tapi ini bukan masalah, justru malah baik. Sebab jika dipikir-pikir lagi, obrolan Kana dan teman-temannya kan sebenarnya menggunakan bahasa Inggris. Jangan lupa, setting cerita ini di Selandia Baru, dan murid-murid di sekolah Kana tidak hanya warga negara Selandia Baru saja, tapi juga imigran dari berbagai negara, jadi wajar jika gaya bahasa dalam obrolan mereka tidak sama dengan obrolan sehari-hari remaja Indonesia.

Untuk ukuran novel teenlit yang tipis sehingga bisa selesai dibaca dalam sekali duduk saja, novel ini jelas sangat berbobot. Tema yang cukup serius diceritakan dengan bahasa yang ringan. Dalam novel ini, penulis juga memasukkan unsur humor yang bisa membuat pembaca terseyum. Selain itu, penulis tampaknya sangat mengenal Selandia Baru (mungkin malah pernah tinggal beberapa waktu di sana), sehingga pembaca seolah diajak jalan-jalan gratis ke negeri tempat syuting film The Lord Of The Rings itu. Setiap setting tempat dalam cerita ini cukup kaya dengan detail, sehingga pembaca benar-benar bisa merasakan suasana Selandia Baru, tepatnya di Riverdale, kota tempat tinggal Kana.

Saya hampir memberi buku ini 5 bintang, hanya saja ada bagian cerita yang deskripsinya cukup panjang dan minim dialog. Sebenarnya saya tak bermasalah dengan paragraf panjang yang minim dialog. Akan tetapi, menurut saya akan lebih menarik jika penulis menceritakan bagian tersebut lewat dialog dan adegan. Overall, ini novel teenlit yang berbobot. Isinya tidak melulu cinta-cintaan atau bully-membully khas sinentron abg Indonesia belakangan ini.

Ada quote favorit saya di novel ini: "The Distance from Failure to Success is Never Longer than The Bridge Of Hope" (Jarak dari Kegagalan ke Kesuksesan Tidak Lebih Panjang dari Jembatan Harapan) -hlm 164


Book Review: Kana Di Negeri Kiwi - Rosemary Kesauly
by @vaan_11

Catatan: Postingan ini untuk reading challenge What's in A Name Reading Challenge 2013

6 komentar:

  1. haduh saya juga mau ke Selandia Baru, ajak ajak dong Mas Vaan.. *salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. doakan semoga saya dikasih sesuap nasi dan segenggam berlian dari bos. pengen juga sih ke sana. :P

      Hapus
  2. Si joy tubuhnya langsung? Kayak Opan dong #salahfokus juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. jempolkuuu aku benciiii. *pokoknya tipo-tipo salahin jempol* *padahal jempolnya cuma buat mencet space doang*

      Hapus
  3. mbak Rosemaly Kesauli ini juga translator di Gramedia

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoo. pantas saja membaca buku ini terasa seperti membaca buku terjemahan. bahasa Indonesianya baku. :)

      Hapus

Back to top