1 Apr 2013

Dunia Kafka by Haruki Murakami

Judul: Dunia Kafka
Judul Asli: 海辺のカフカ (Jepang) / Kafka On The Shore (Inggris)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Pustaka Alvabet, 2011
Tebal: 608 hlm.
ISBN: 9786029193039
Rating: 3/5

Ini adalah buku terlama yang saya baca sejauh ini di tahun 2013. Butuh seminggu lebih loh untuk menyelesaikan buku ini, tepatnya 8 hari. Biasanya sih, jangka waktu segitu saya bisa baca minimal 2 buku. *geleng-geleng pasrah* Ternyata konten buku ini tidak seringan dugaan saya sebelumnya. Yuk deh, langsung saja nge-review bukunya.

Dunia Kafka (yang kabarnya pernah diterbitkan dengan menggunakan judul asli: Kafka On The Shore) memiliki dua plot berbeda, tapi pada akhirnya memiliki keterkaitan satu sama lain. Di satu sisi, buku ini berkisah tentang Kafka Tamura, remaja lima belas tahun yang kabur dari rumah yang ditinggalinya bersama sang ayah. Kafka merasa ia akan ‘hancur’ jika tetap tinggal bersama ayahnya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan gadis yang berumur sedikit lebih tua darinya, gadis itu bernama Sakura. Sakura adalah gadis berparas menarik, sehingga Kafka mulai merasakan suka terhadap gadis tersebut. Namun pertemuan tersebut tidak berlangsung lama. Nasib kemudian membawa Kafka ke sebuah perpustakaan di daerah Takamatsu. Berkat kebaikan hati Nona Saeki yang umurnya kurang lebih sama dengan ibu Kafka, beserta asistennya yang bernama Oshima, Kafka ditampung di perpustakaan tersebut dan membantu pekerjaan di sana. Kafka bersyukur, karena selain tidak perlu lagi mencari tempat penginapan, ia bisa membaca sesuka hatinya—ya, Kafka memang suka membaca. Tapi keadaan menjadi rumit, setelah polisi mendatangi perpustakaan itu sebab mereka mencurigai Kafka terlibat sebuah kasus pembunuhan sadis.

Di sisi lain, buku ini bertutur tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang tidak bisa bisa membaca. Selain tidak bisa membaca, Nakata juga memiliki kendala dalam berkomunikasi—cara bicaranya, menurut orang-orang, aneh. Ia sendiri bahkan mengklaim dirinya “bodoh”. Namun, ia memiliki kemampuan luar biasa yang tidak diketahui orang lain: ia bisa berbicara dengan kucing! Berkat kemampuanya itu, Nakata sering membantu orang-orang untuk mencari kucing mereka yang hilang. Tak ada yang tahu bagaimana Nakata menemukan kucing-kucing mereka, tetapi mereka amat mengandalkan Nakata untuk urusan tersebut. Saat tengah mencari kucing bernama Goma, Nakata terlibat kasus pembunuhan. Ya, lelaki tua itu membunuh seseorang! Kemudian, dengan polosnya ia mendatangi polisi dan mengakui perbuatannya. Tetapi anggota polisi yang sedang bertugas di pos polisi saat itu tidak menanggapi Nakata dengan serius. Akhirnya, Nakata memutuskan untuk pergi untuk melakukan suatu “tugas” yang menurutnya sangat penting. Tugas apakah itu? Saya tidak akan membocorkannya di sini, tetapi perjalanan Nakata kemudian berakhir di kota yang sama dengan tempat Kafka bersenbunyi. Dan kisah yang tampaknya tidak saling berhubungan tersebut, kini mulai menampakkan titik terangnya.

Apa alasan sebenarnya Kafka kabur dari rumah? Apa hubungan Kafka dengan Nakata? Dapatkah seseorang berada di dua tempat pada waktu yang sama, kemudian melakukan pembunuhan? Secara teori seharusnya tidak mungkin. Tetapi di dalam Dunia Kafka, segala hal menjadi mungkin, bahkan hal yang paling absurd sekalipun.

Baca kisah selengkapnya dalam Dunia Kafka karya Haruki Murakami.

Saya cukup sering mendengar nama Haruki Murakami, tetapi saya tidak mengira bahwa novel-novel yang ditulisnya beraliran surealis. Ini agak mengejutkan bagi saya. Satu-satunya buku fiksi yang mengandung unsur surealis yang pernah saya baca sebelum ini adalah kumpulan cerpen berjudul Dongeng Afrizal karya Pringadi Abdi Surya. Seperti yang saya kemukakan di awal, Dunia Kafka ternyata tidak seringan yang saya duga. Cenderung berat malah. Dan karena saya tidak siap membaca buku beraliran surealis, saya mengalami kendala dalam memahami buku ini. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya agak lambat membaca buku ini.

Alur ceritanya cenderung datar dan minim konflik. Kisah antara Kafka dan Nakata diceritakan  bergantian di setiap bab. Saya sebenarnya merasa kurang nyaman dengan gaya bercerita seperti ini (bisa jadi karena tidak terbiasa), terutama karena ceritanya tidak dalam plot dan event yang sama. Saat kita penasaran dengan nasib Kafka di akhir bab, kita terpaksa harus bersabar untuk mengetahuinya, karena di bab selanjutnya kita akan disuguhi cerita tentang Nakata, si lelaki tua yang bisa berbicara dengan kucing. Begitu pula sebaliknya, saat kita sudah terbawa suasa dalam kisah Nakata, kita kembali harus bersabar karena bab berikutnya sudah pasti berkisah tentang kelanjutan nasib Kafka. Bila kamu pembaca yang memiliki ingatan yang payah, hal ini bisa menjadi masalah (contohnya saya, hehe). Untunglah hanya di bab-bab awal saja saya agak kesulitan mengikuti gaya bercerita seperti ini, pada akhirnya saya jadi terbiasa juga. Sekadar informasi, kisah Kafka diceritakan dari sudut pandang orang pertama, yaitu ‘aku’ alias Kafka sendiri. Sementara kisah Nakata diceritakan dari sudut pandang orang ketiga.

Bicara soal surealis, terdapat beberapa bagian dalam buku yang membuat saya harus garuk-garuk kepala saking absurdnya. “Bocah bernama Gagak”, misalnya. Awalnya saya mengira “bocah Gagak” ini adalah teman Kafka. Tapi ternyata bukan, setidaknya bukan secara fisik. Aduh, gimana ya menjelaskannya? Pokoknya bocah Gagak ini tidak memiliki fisik yang nyata, sehingga saya mengira ia adalah pribadi Kafka yang lain. Atau bisa juga ia adalah teman khayalan Kafka. Akan tetapi, pada bab yang lain, kita akan membaca cerita dari sudut pandang si bocah Gagak, di mana di situ ia digambarkan sedang terbang dalam wujud seekor burung gagak. Jadi, siapa sebenarnya “bocah yang bermana Gagak” ini??? Otak saya pun kram. #lebay

Bila bocah Gagak agak sulit dicerna oleh saya, maka kemampuan Nakata berbicara dengan kucing, entah mengapa, terasa wajar bagi saya. Sepertinya, lama-kelamaan saya akhirnya dapat mengikuti cerita ini dengan cara membiarkan benak saya menyerap semua yang disajikan oleh penulis dengan apa adanya. Jika tidak begitu, saya pasti sudah menyerah dan berhenti membaca. Apalagi hal-hal absurd terus-menerus muncul: hujan sarden, hujan lintah, adegan penyiksaan terhadap kucing (membelah perut kucing dan memakan jantungnya), adegan hubungan badan antara remaja dan orang tua (yang ini nggak absud sih, cuma aneh aja), kemunculan Kolonel Sanders yang entah mengapa tiba-tiba berprofesi sebagai mucikari (itu loh, kakek-kakek di logo KFC), penampakan roh orang yang belum mati, hingga keberadaan dunia limbo (semacam dunia antara yang hidup dan yang mati), dan lain sebagainya. Para pencinta novel-novel beraliran surealis bisa dipastikan bakalan suka banget sama novel ini.

Namun novel ini tidak melulu tentang absurditas kok. Yang membuat saya cukup betah beralama-lama membaca novel ini, selain karena ceritanya yang tidak biasa, tetapi juga karena banyaknya referensi literatur, musik, mitologi, sejarah, seni, hingga filsafat, yang tersebar dalam halaman-halaman buku ini. Saya merasa tak hanya menikmati fiksi semata, tetapi juga memperoleh tambahan pengetahuan. Saya menyukai tokoh Oshima. Ia berpengetahuan luas serta memiliki pemikiran yang tajam. Kebanyakan referensi-referensi tersebut disampaikan melalui tokoh Oshima. Tidak heran ia begitu cerdas, karena ia bekerja di perpustakaan, dan ia kerap terlihat sedang membaca buku-buku tebal. Wah, saya jadi iri pada tokoh Oshima yang bisa membaca buku apa saja dan kapan saja. Setting perpustakaan tempat Kafka dan Oshima bekerja pun disekripsikan dengan menarik, sampai-sampai saya jadi berkhayal suatu saat bisa mengunjungi perpustakaan itu dan membaca bersama Kafka dan Oshima.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati proses membaca buku ini. Akan tetapi, sampai menutup lembar terakhir novel ini, benak saya masih dipenuhi berbagai macam pertanyataan yang belum terjawab. Entahlah, mungkin saya saja yang belum mampu memahami keseluruhan buku ini. Lain kali saya akan membaca ulang buku ini. Yang jelas, membaca buku ini merupakan pengalaman yang sama sekali baru buat saya. Tidak menutup kemungkinan saya akan membaca karya-karya Haruki Murakami yang lain.

Catatan: Postingan ini untuk reading challenge dan reading event berikut:

18 komentar:

  1. aku punya buku ini tapi masih tertimbun juga, hauhau
    btw keren loh mas reviewnya, lengkap :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. awww, dibilang keren sama sulis... *malu* ayo dibaca. tapi yah, harus siap2 dengan segala hal ganjil yang muncul dalam buku ini. :D

      Hapus
  2. pingin punya, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau pinjam...? *lambai-lambai novel Dunia Kafka*

      Hapus
  3. Bisa masuk genre misteri ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm... di goodreads sih nggak ada yang masukin buku ini ke genre misteri. tapi menurut saya bisa-bisa saja.

      Hapus
  4. Hiks saya belum baca karya Murakami yang ini >.< Pinjem dong.... >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. alamatnya di mana emang? :D

      Hapus
  5. Pernah nonton satu filmnya Norwegian Wood. Filmnya juga kurang lebih sama, minim konflik, ato ada konflik cuma ngga di dramatisir, jadinya ya nguap2 gitu deh nontonnya. Say 'Not Yet' to Murakami dulu deh. Ngga mau kram otak wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakak. kram otak mah saya aja kali, bisa jadi gegara keseringan baca novel-novel ringan.

      Hapus
  6. sudah coba norwegian wood? terjemahan indonesianya cukup bagus, ceritanya lebih ringan dan lucu dari murakami yg lain, terutama yg kafka ini... walaupun cenderung depresif bgt (krn berbicara sebagian besar tentang tragedi bunuh diri), tapi lucu dan mengejutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah baca Norwegian Wood, Bro/Sist. Sip deh, segera masukin ke daftar 'to-read'.

      Hapus
  7. Udah baca karyanya Papa Haruki (?) yang 1Q84? After Dark? The Wind-Up Bird Chronicle? Karyanya seksi semua...

    BalasHapus
  8. Nah, saya sedang di bab-bab awal dari novel ini, dan godaan untuk meletakkannya sebentar begitu kuat. Saya kesulitan untuk meneruskan :D namun saya tahu harus menyelesaikannya meski pasti lebih dari 8 hari..

    BalasHapus

Back to top