19 Sep 2014

If I Stay by Gayle Forman

Judul: If I Stay
Seri: If I Stay #1
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Penguin Group (USA), 2009
Format: Ebook, 320 hlm.

Sinopsis:
A critically acclaimed novel that will change the way you look at life, love, and family.

In the blink of an eye everything changes. Seventeen-year-old Mia has no memory of the accident; she can only recall what happened afterwards, watching her own damaged body being taken from the wreck. Little by little she struggles to put together the pieces—to figure out what she has lost, what she has left, and the very difficult choice she must make. Heartwrenchingly beautiful, Mia's story will stay with you for a long, long time.

Mia, 17 tahun, memiliki segalanya: orang tua yang cool, adik laki-laki yang menyenangkan, kakek-nenek yang penuh kasih sayang, sahabat terbaik di dunia, dan tentu saja, Adam, pacar yang sempurna. Mia juga berbakat dalam memainkan alat musik cello, sehingga ia punya kans besar untuk melanjutkan pendidikan di Julliard. Hari itu salju turun dan sekolah diliburkan. Mia, Teddy, dan Dad (yang adalah seorang guru) menyambut gembira hal ini. Melihat seluruh keluarganya berkumpul di rumah, Mom memutuskan untuk tidak masuk kerja dan menikmati waktu bersama keluarganya.

Ternyata salju yang turun tidak separah yang diperkirakan, karena tak lama kemudian salju berhenti dan meninggalkan jejak berupa permadani putih di atas permukaan bumi (wiiih). Untuk memanfaatkan libur dadakan tersebut, Dad mengusulkan kepada keluarganya untuk mengunjungi kakek dan nenek Mia, dan usul tersebut disambut dengan gembira oleh semuanya.

Hal terakhir yang Mia ingat adalah dia sedang bermobil bersama keluarganya sambil mendengarkan Beethoven’s Cello Sonata No. 3. Mia menyaksikan mobil keluarganya telah hancur. Ia melihat Dad dan Mom dalam kondisi yang sangat mengenaskan—mungkin meninggal seketika. Mia melihat sesosok tubuh lain tergeletak di atas salju. Mia menjeritkan nama Teddy, adiknya, sambil mendekati sosok tersebut. Ternyata itu bukan Teddy.  Itu tubuh Mia sendiri.

Familiar dengan kisah seperti di atas? Just Like Heaven? The Lovely Bones? Well, mungkin If I Stay tidak menyajikan tema yang baru bagi pembaca. Tapi percayalah, novel ini sangat bagus dan sayang bila dilewatkan. Buku ini sangat emosional, hampir saja saya meneteskan air mata sepanjang membaca buku novel ini. Pembaca dibuat sedih oleh kisah tragis Mia, tapi juga dibuat tersenyum oleh kisah-kisah masa lalu Mia yang menghangatkan hati.  Kandang-kadang pembaca juga dibuat tertawa oleh berbagai kejadian serta tingkah laku tokoh-tokoh dalam novel in.

Jadi, Mia memang tidak meninggal—setidaknya belum. Ia berada dalam kondisi antara hidup dan mati, dan “roh”-nya yang tak kasat mata berkeliaran di rumah sakit tempat ia dirawat. Kondisinya tubuhnya buruk sekali. Mia berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi padanya. Mengapa ia berada dalam kondisi tersebut? Apakah ia akan segera meninggal? Apakah Mom dan Dad bakalan menjemputnya dan pergi ke “alam lain” bersama mereka?

I start to zone out. And then I start to wonder about this state I’m in. If I’m not dead—and the heart monitor is bleeping along, so I assume I’m not—but I’m not in my body, either, can I go anywhere? Am I a ghost? Could I transport myself to a beach in Hawaii? Can I pop over to Carnegie Hall in New York City? Can I go to Teddy?

LOL. Dalam kondisi yang serba membingungkan tersebut, Mia masih sempat iseng bertanya apakah dia dapat men-transport dirinya ke pantai di Hawaii. Ia mencoba segalanya. Menjentikkan jari,  menggoyangkan hidung (seperti Nicole Kidman di film Bewitched), tapi tak berhasil. Mia mencoba menembus dinding karena merasa dirinya sudah menjadi hantu. Dan... ia sukses menabrak dinding tersebut. Hehehe.

Sambil mengikuti perkembangan keadaan Mia, pembaca dibawa bertulang ke masa lalu gadis itu. Melalui sudut pandang Mia, pembaca diajak untuk menyaksikan kehidupan Mia yang dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai. Mia menceritakan tentang Mom dan Dad (Dad dulunya adalah anggota band!), tentang sahabat-sahabat orang tuanya, tentang keluarga besar Mom dan Dad, tentang bagaimana Dad melamar Mom, tentang kelahiran Teddy (oh my God, saya suka sekali bagaimana penulis menggambarkan hubungan Mia dan adik kecilnya tersebut), tentang Kim (sahabat baik Mia), dan tentu saja, tentang pertemuannya dengan Adam. Melihat kehidupan masa lalu Mia yang dipenuhi dengan orang-orang yang menyayanginya, saya dibuat terharu dan sekaligus merasa iri.

Dan, ehem, sebagai penyuka romance, saya cukup senang dengan kisah antara Mia dan Adam. Saya bisa mengerti mengapa sebagian teman-teman di komunitas Blogger Buku Indonesia  (khususnya perempuan) begitu mengagumi  Adam. Mia yang sederhana cenderung merasa minder bertanya-tanya mengapa Adam memilihnya? Hmmm. Untuk lebih lengkapnya, baca sendiri bukunya ya. Yang jelas, musiklah yang menyatukan mereka. Ada satu adegan saat Halloween yang sukses membuat saya ber-“awww, so sweeeet...”-ria.

Adam seemed to sense that I was upset. He pulled the car off onto a logging road dan turned to me. “Mia, Mia, Mia,” he said, stroking the tendrils of my hair that had escaped from the wig. “This is the you I like. You definitely dressed sexier and are, you know, blond, and that’s different. But the you who you are tonight is the same you I was in love with yesterday, the same you I’ll be in love with tomorrow. I love that you’re fragile and tough, quiet and kick-ass. Hell, you’re the one of the punkest girls I know, no matter who you listen to or what your wear.”

Ada banyak karakter dalam novel ini dan saya menyukai hampir semuanya. Mulai dari Mia, Mom, Dad, Teddy (oh my cute little Teddy *peluk*), Adam, Kim (I love her so much), ibunya Kim, kakek dan nenek Mia, sahabat baik Dad, suster Ramirez, teman-teman grup band Adam, hingga Brooke Vega, penyanyi yang keren-sekali-banget itu. Adegan Brooke Vega yang membuat heboh rumah sakit tempat Mia dirawat sukses membuat saya ngakak bahagia.

Jadi, inti cerita novel ini adalah tentang pilihan Mia. Mungkin lebih mudah bagi Mia untuk memilih ‘pergi’ sebab ia tak yakin bisa hidup tanpa keluarga yang begitu ia kasihi. Tapi, beberapa orang yang ia cintai juga sangat berharap agar Mia ‘tinggal’. Jadi, manakah yang akan dipilih oleh Mia?

“If I stay. If I live. It's up to me.”

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai novel ini. Meski ceritanya sedih dan nyaris membuat saya menangis, tapi saat ‘menutup’ buku ini, yang tertinggal adalah perasaan bahagia. Thanks to Gayle Forman for writing such a beautiful story. Oh ya, bagi pembaca yang menyukai musik, saya yakin akan menyukai novel ini. Adam yang seorang rocker dan Mia si pemain cello, semacam mengingatkan saya pada film August Rush. :’)

Uhm. Tapi endingnya kok menggantung yaaa? Bikin pengen segera baca sekuelnya.

If I Stay sudah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama, diperankan Chloë Grace Moretz sebagai Mia Hall dan Jamie Blackley sebagai Adam. Saya menonton trailer-nya di yutub dan merinding karena terpesona. Soundtrack-nya sangat bagus: Say Something, yang dibawakan oleh A Great Big World & Christina Aguilera. Kabar buruknya, film ini nggak masuk di Indonesia. *nangis bombay*

Rating:

12 komentar:

  1. loh filmnya ngga masuk indonesiaaa ? :'(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kabarnya gitu, Stef. ._.
      Aku baca di grup diskusi idws, tapi gak baca berita resminya sih. Sedih juga kalau beneran nggak masuk sini. Nunggu versi dvd/bluray pasti bakalan lama. *ambil tisu*

      Hapus
  2. haiks, aku pengen baca bukunya gara-gara kak opan! tanggung jawab *eh

    BalasHapus
  3. Jadi Teddy ikut tewas juga? :(
    Btw, versi bluray biasanya muncul 3 bulan setelah premiere. Kalo versi cam seminggu juga udah nongol :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bro.
      Btw sudah donloat cam. Tapi kualitasnya.... .__.

      Hapus
  4. coba yg jadi Adam versi Jonathan Ryhs Meyer muda.... pasti merinding bahagiaaaa diriku....

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg jadi Adam emang nggak banget, anak band-nya kurang berasa. aku juga ngefans nih sama Jonathan Ryhs Meyer :)

      Hapus
  5. coba yang jadi Adam mirip Jonathan Rhys Meyer, pasti merinding bahagiaaaa diriku.... #jadilebihmiripAugustRush

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Jangan dong, Kak Lil... secara ini kan novel Young Adult. :))

      Hapus
  6. cepetan baca buku kedua, jauj jauh lebih keren lagi, loveeeeee Adam :*

    BalasHapus

Back to top