12 Sep 2014

Every Day by David Levithan

Judul: Every Day
Penulis: David Levithan
Penerbit: Knopf Books for Young Readers, 2012
Format: Ebook, 220 hlm

Sinopsis:
A has no friends. No parents. No family. No possessions. No home, even. Because very day, A wakes up in the body of a different person. Every morning, a different bed. A different room. A different house. A different life. A is able to access each person’s memory, enough to be able to get through the day without parents, friends, and teachers realizing this is not their child, not their friend, not their student. Because it isn’t. It’s A. Inhabiting each person’s body. Seeing the world through their eyes. Thinking with their brain. Speaking with their voice.

It’s a lonely existence—until, one day, it isn’t. A meets a girl named Rhiannon. And, in an instant, A falls for her, after a perfect day together. But when night falls, it’s over. Because A can never be the same person twice. But ye, A can’t stop thinking about her. She becomes A’s reason for existing. So each day, in different bodies—of all shape, sizes, backgrounds, walks of life—A tries to get back to her. And convince her of their love. Buat can their love transcend such an obstacle?

Ide ceritanya itu loh, WOW! Novel bergenre Young Adult karya David Levithan ini berkisah tentang A. Ia adalah semacam entitas. Semacam… jiwa, soul, atau apalah sebutannya. Sejak pertama kali eksis di dunia, A tidak pernah punya tubuh sendiri. Setiap hari ia berpindah dari tubuh satu ke tubuh yang lain, sejak bayi hingga hari ke-5994 (atau 16 tahun) eksistensinya di dunia ketika cerita ini dimulai.

Awalnya A mengira yang dialaminya adalah sesuatu yang wajar. Tapi A kemudian sadar, bahwa cuma dirinya saja yang demikian. Pada suatu masa saat A masih kanak-kanak, A akhirnya memahami bahwa dirinya berbeda. Ia tak akan pernah bisa punya teman yang sama, orang tua yang sama, hewan peliharaan yang sama. Karena keesokan harinya, ia akan memulai hidup baru, di tubuh yang baru, selama 24 jam ke depan, dan dia sama sekali tidak dapat mengontrolnya. A tak bisa memilih akan pindah ke tubuh siapa, memilih orang yang seperti apa, laki-laki atau perempuan, dalam keluarga yang bagaimana. Keadaan ini membuat A sempat merasa sedih. Pernah suatu saat dirinya mencoba untuk tidak tidur, berharap dengan cara itu ia tak akan 'pindah', tapi ternyata tidak berhasil. A tetap saja direnggut keluar dari tubuh yang ia tempati dan rasanya sangat menyakitkan. Maka A pun berhenti melawan dan memutuskan untuk tidur sebelum tengah malam, karena saat tidur, ia tak akan merasakan apapun saat perpindahan terjadi.
“I am a drifter, and as lonely as that can be, it is also remarkably freeing. I will never define myself in terms of anyone else. I will never feel the pressure of peers or the burden of parental expectation. I can view everyone as pieces of a whole, and focus on the whole, not the pieces. I have learned to observe, far better than most people observe. I am not blinded by the past or motivated by the future. I focus on the present because that is where I am destined to live.”

A kemudian belajar memandang dunia dari sudut pandang orang-orang yang tubuhnya ia huni. Dengan demikian, A menjadi pribadi yang berpikiran terbuka dan mampu memandang dunia secara utuh. Saat sedang berada dalam sebuah tubuh, A dapat mengakses memori orang itu sehingga dapat bersikap seperti orang tersebut tanpa membuat keluarga atau teman-teman di sekitarnya curiga. Kemudian, A akan berusaha menjalani satu hari itu dengan baik tanpa sekalipun berusaha menginterfensi kehidupan orang tersebut.

Tapi keadaan berubah sejak negara api menyerang. Oke, itu bercanda ya. #plaks Keadaan berubah pada hari ke-5994, saat A menghuni tubuh remaja laki-laki bernama Justin. Justin memiliki pacar bernama Rhiannon. Dari memori yang dapat diakses A, Justin sangat jarang bersikap baik terhadap gadis itu. Dari ekspresi Rhiannon, A dapat merasakan bahwa gadis itu benar-benar mencintai Justin namun di saat yang sama A juga dapat merasakan kesedihan dalam diri Rhiannon. Maka A memutuskan untuk melanggar aturan yang ia buat sendiri. Ia memutuskan untuk membuat Rhiannon menjadi lebih ceria. A, dalam tubuh Justin, mengajak gadis itu membolos dan pergi ke pantai untuk bersenang-senang. Rhiannon heran dengan perubahan sikap Justin yang mendadak, namun ia merasa senang. A sendiri merasa bahagia dapat membuat gadis itu tersenyum. Dan tanpa diduga, A jatuh cinta kepada Rhiannon!

Sayangnya A tidak bisa terus-terusan berada dalam tubuh Justin, tapi ia juga tak dapat meleyapkan gadis itu dari benaknya. A benar-benar telah jatuh cinta. Maka setiap hari, dalam tubuh yang berbeda-beda, A berusaha untuk dapat bertemu dengan Rhiannon. Ia berusaha meyakinkan Rhiannon tentang kondisinya dirinya yang tidak biasa, dan bahwa ia benar-benar tulus mencintai gadis itu. Tentu saja hal ini tidak mudah bagi keduanya, khususnya bagi Rhiannon.

Bagaimana kelanjutan hubungan unik antara A dan Rhiannon? Dapatkah cinta mengatasi segala rintangan di antara mereka? Baca kisah lengkapnya dalam Every Day karya David Levithan.

Image source here. Edited by me.

Saya susah move on setelah menamatkan novel ini. Ceritanya masih meninggalkan kesan yang dalam. Yang saya sukai dari novel ini, pertama adalah ide ceritanya yang unik, tentang “jiwa” yang berkelana. Menarik sekali menyaksikan usaha A untuk meyakinkan Rhiannon tentang kondisinya, khususnya lagi, tentang perasaannya terhadap gadis itu. Gaya bercerita sang penulis sangat menarik bagi saya. Saya dapat merasakan keindahan dalam setiap kalimat yang ditorehkan oleh David Levithan. Novel ini juga begitu kaya akan pesan moral. Setiap karakter yang tubuhnya dihuni oleh A ditulis dengan sedemikian berkesan. Pembaca dapat merasakan kekhasan dari setiap pribadi, sehingga mereka tidak hanya sekadar menjadi tempat bernaung sementara bagi A dan kemudian ditinggal begitu saja tanpa kesan apa-apa. Melalui tokoh A, pembaca diajak untuk berpikiran terbuka, diajak untuk lebih berempati terhadap sesama manusia.

Saya yakin tidak mudah untuk menulis novel ini dengan memberikan sentuhan empati di dalamnya. Setap judul chapter (bab) dalam novel ini ditulis dengan menggunakan angka hari, misalnya chapter pertama ditulis “Day 5994,” bab kedua ditulis “Day 5995”, dan seterusnya. Total bab dalam novel ini adalah 41 (semoga saya tidak salah menghitungnya), yang berarti adalah 41 hari, yang berarti lagi, ada 41 orang yang tubuhnya 'dipinjam' oleh A. Bayangkan, bagaimana cara penulis memberikan kekhasan bagi 41 orang dalam novel ini? Memang sih tidak setiap hari A dapat bertemu dengan Rhiannon, karena ada kondisi di mana tubuh yang dihuni A tidak memungkinkan untuk dapat bertemu dengan gadis itu. Misalnya, ketika A menghuni tubuh seorang pecandu. Untuk dapat melewati satu hari saja rasanya berat sekali, apalagi untuk bertemu dengan Rhiannon.

Harus saya akui, ada sedikit kejenuhan saat karena unsur repetitif dalam novel ini, namun untungnya konflik dalam novel ini tak hanya berkutat seputar A dan Rhiannon saja, tapi juga melibatkan orang lain yang bernama Nathan. Nathan adalah salah satu pemuda yang pernah disinggahi A, namun karena satu hal, Nathan mengetahui bahwa dirinya telah 'dirasuki'. A ceroboh karena sempat meninggalkan jejak sehingga Nathan bisa menghubunginya. Saya dibuat penasaran tentang bagaimana cara A menghadapi Nathan, karena pemuda itu sepertinya tidak ingin melepaskan A begitu saja.

Bagian paling berkesan dalam novel ini adalah cara penulis mengakhiri kisahnya. Sebagian pembaca mungkin akan menganggap ending novel ini sedih, tapi bagi saya, ending dalam novel ini benar-benar sempurna. Saya suka sekali. Hanya saja, penulis masih menyisakan sesuatu yang membuat pembaca bertanya-tanya, “Apakah novel ini akan dibuat sekuelnya?” Karena ternyata A bukanlah satu-satunya yang unik. Menurut informasi yang diperoleh A dengan cara yang cukup menegangkan, ternyata ada orang lain yang seperti A. Ia bahkan sempat berkonfrontasi dengan salah satu di antaranya. Bila benar-benar novel ini akan dibuat lanjutannya, saya sangat ingin membacanya.

Secara keseluruhan, membaca novel ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Meski konfliknya tidak terlalu tajam namun saya merasa terikat dengan tokoh A. Ceritanya ditulis dengan indah dan sarat akan pesan moral. Karena itu saya tak ragu memberi nilai sempurna untuk novel ini. Totally 5 stars! :)

“If there's one thing I've learned, it's this: We all want everything to be okay. We don't even wish so much for fantastic or marvelous or outstanding. We will happily settle for okay, because most of the time, okay is enough.”

Rating:

Baca juga review:
Will Grayson, Will Grayson by John Green & David Levithan
Six Earlier Days (An Every Day Companion) by David Levithan

7 komentar:

  1. Great review! :D Jadi pengen baca ulang bukunya gara2 baca review ini xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aww makasih, Stef. Setelah aku baca-baca lagi, isi review ini subjektif sekali. Tapi ya mau gimana lagi. Memang itu yang aku rasakan sepanjang membaca buku ini. :)

      Hapus
  2. Wuih rating maksimal. Eh tapi ini english version ya? Ebook pula? Wihh -.-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang lagi pengen ngurangin timbunan ebook di tablet, Bro. :)

      Hapus
  3. IH, KEREN DEH REVIEW-NYA
    kamu kalau ngreview bukunya David Levithan keren, semua keren juga sih cuma kalo dari penulis yg satu ini bisa kerasa banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk. Masa sih, Lis? Atau jangan-jangan karena saya suka aja sama buku ini, makanya bikin reviewnya jg semangat. Kalau gak gitu suka, kadang memang agak males. Ups.

      Hapus
    2. Sama, aku juga ngrasain kok, kalau bukunya disuka banget, maka reviewnya pun juga dibuat sangat berkesan, apa yang aku rasain tertuang di review #ceileh. Kalau biasa aja, biasanya reviewnya pendek :))

      Hapus

Back to top