10 Sep 2014

[Book Tag] Top 10 Most Influential Books

Image source here. Edited by me.
Setelah kena tag dari Ambu Dian melalui Facebook beberapa hari yang lalu, akhirnya kelar juga saya bikin list sepuluh buku yang paling berpengaruh buat saya. Makasih banget buat Ambu yang sudah men-tag saya. Well, ternyata menentukan buku-buku yang paling berpengaruh dalam hidup itu susah-susah gampang ya. Bener-bener ngajak mikir.  Baiklah, tanpa berlama-lama, ini dia top 10 most influential books in my life:

1. The Da Vinci Code by Dan Brown
Tema novel ini sangat kontroversial. Buku ini booming banget waktu saya kuliah dulu. Banyak media baik televisi maupun majalah yang membahas buku ini. Saya pun sukses dibuat penasaran oleh buku yang kabarnya menyerang agama Kristen (khususnya Katolik) ini sehingga mengalami pencekalan di beberapa negara. Setelah membacanya sendiri, jujur saja saya sempat syok. Meski berkali-kali mengingatkan diri sendiri kalau ini hanyalah sebuah fiksi, terlepas dari cuap-cuap penulis tentang bukti dan fakta-fakta sejarah yang konon nyata, tapi ternyata susah juga menghalau persuasi penulis di benak saya. Saya memang menyalahkan diri sendiri yang sering absen pada acara-acara kerohanian maupun penelaahan Alkitab sehingga iman saya gampang sekali goyah. Sisi baiknya, buku ini membuat saya kembali rajin berdiskusi tentang agama yang saya anut. Oh, dan sejak saat itu, saya menjadi salah satu penggemar Dan Brown. Hampir semua bukunya sudah saya lahap, kecuali Inferno. Belum sempat beli. Harganya itu loh… T-T #kode

2. Shit Happens by Christian Simamora & Windy Ariestanty
Covernya unik. Cover depan berada di posisi belakang, begitu pun sebaliknya. Kirain salah cetak, tapi ternyata tidak. Di bagian cover ada label untuk pembaca [sok] dewasa. Isinya sendiri sempat bikin saya pegang-pegang dada mengelus dada #terAutuminParis. Sebab untuk pertama kalinya saya membaca novel lokal yang isinya sangat blak-blakan. Semakin ke sini sih, sudah terbiasa, terutama novel-novelnya Christian Simamora isinya memang hawt. Tapi yang benar-benar membuat novel ini berkesan bagi saya adalah para tokohnya. Seb, Langit, dan Lula, adalah tokoh-tokoh fiksi yang nggak bakal saya lupakan; persahabatan mereka yang erat, obrolan-obrolan mereka selalu menarik perhatian. Dan untuk pertama kalinya saya mengirim email ke salah satu penulis novel ini (Mbak Windy) untuk menyatakan kekaguman saya.

3. Laskar Pelangi by Andrea Hirata
Buku ini ditulis dengan indah (menurut saya loh). Mengisahkan persahabatan anak-anak Belitung; Ikal, Lintang, dan lainnya  yang berusaha mendapatkan pendidikan meski dalam kondisi ekonomi  yang sangat pas-pasan. Saya mewek waktu membaca novel ini. Nonton filmnya di bioskop juga saya mewek. Selain ditulis dengan indah, buku ini sangat menggungah, memotivasi saya untuk tetap semangat menuntut ilmu. Sayang sekuel-sekuelnya tak semengesankan buku pertama, terutama buku keempat yang nyaris membuat saya menjerit, “INI APAAN?”

4. Harry Potter Series by J.K. Rowling
Selain cerita yang memukau, banyak hal lain yang saya dapatkan berkat Harry Potter. Saya jadi punya banyak teman sesama pencinta serial ini. Ambu Dian yang men-tag saya untuk membuat list ini, adalah orang yang pertama kali mengajak saya bergabung di komunitas penggemar Harry Potter. Tahun berapa itu ya, Mbu? Ah… jadi nostalgia masa-masa ketika masih aktif dulu. :’)

Harry Potter membuat saya berani menulis fiksi, meski hanya dalam bentuk fan fiction. Saya juga ingat malam-malam ketika saya mempelajari hampir setiap halaman buku-buku Harry Potter dalam rangka mempersiapkan diri untuk membantu rekan seasrama saya di Hufflepuff di turnamen Quidditch versi IndoHogwarts.

5. Cell (Seluler) by Stephen King
Saya penyuka film horor. Saya juga lumayan banyak membaca buku-buku horor sejak kecil (Goosebumps sih, hehe). Tapi di antara semua buku horor yang saya baca, Cell-lah yang sukses membuat saya bermimpi buruk. Mungkin imajinasi saya kelewat liar saat membaca Cell. Hingga kini, saya masih ingat detail mimpi saya itu, karena settingnya sama persis dengan buku.

6. Kambing Jantan by Raditya Dika
Harus diakui, Raditya Dika-lah yang mempelopori buku-buku personal literatur yang ditulis dengan humor nan hiperbolis. Hanya dengan membaca sinopsisnya saja, saya sudah ngakak di toko buku. Jangan ditanya soal tata bahasa karena ancur banget. Sejak membaca Kambing Jantan, saya jadi rajin mengikutin blognya Radit dan selalu membeli buku-buku terbarunya, meski makin ke belakang, saya merasa tulisannya tidak selucu Kambing Jantan, walau dari struktur kalimat serta tata bahasa jauh lebih baik (dih, gaya banget gue ngomongnya yak?). Kambing Jantan sukses mengajak saya untuk membuat blog sendiri dan mengisinya dengan postingan tentang keseharian saya, dengan gaya tulisan berbalut humor ala Radit kala itu. *malu*

7. Gadis Paling Badung di Sekolah by Enid Blyton
Salah satu buku  yang memorable di masa kecil saya. Ceritanya sih ringan, standar cerita anak-anak karya Enid Blyton-lah. Berkisah tentang anak nakal yang kemudian berubah jadi baik. So sweet dan bikin mata saya berkaca-kaca waktu itu.

8. The Hobbit by J.R.R. Tolkien
Buku The Lord of The Rings memang sangat luar biasa. Tapi The Hobbit lebih meninggalkan kesan bagi saya. Mungkin karena kisahnya lebih ringan bila dibandingkan dengan The Lord of The Rings,  sementara unsur petualangan dan fantasinya tetap kaya. Sampai sekarang, belum ada buku fantasi yang bisa menggeser The Hobbit dan Harry Potter sebagai buku fantasi favorit saya. Mungkin inilah mengapa saya jadi sulit menikmati novel-novel fantasi, meski telah menetapkan fantasi sebagai genre favorit. Mungkin secara tidak sadar, saya masih mencari-cari buku fantasi yang, meski tidak mampu menggeser posisi Bilbo dan Harry, tapi paling tidak mampu menyamai posisi mereka di hati saya.

9. Lupus Kecil #1 by Hilman
Saya tidak bisa tidak memasukkan buku ke dalam daftar. Sebab ini adalah novel pertama yang dibelikan oleh ibu. :’)

10. Mimpi Sejuta Dolar by Alberthiene Endah
Satu kata buat buku biografi Merry Riana ini: Inspiratif! Saya baru membacanya tahun ini dan menyesal mengapa tidak membacanya sejak dulu. Kini, setiap kali butuh suntikan semangat dalam bekerja, saya membuka kembali buku ini. Menghayati setiap perjuangan yang dilakukan oleh Merry ketika usianya masih belia. Biasanya, saya jadi semangat lagi. Melalui Merry saya belajar untuk tidak mengeluh.


Jadi, itu dia Top 10 Most Influential Books buat saya. Lega rasanya bisa menyelesaikan tantangan ini, meskipun isi listnya rada-rada maksa. LOL. Seharusnya saya men-tag teman yang lain untuk membuat daftar yang sama. Tapi berhubung saya masih capek ngetik, jadi saya men-tag semua yang membaca postingan ini. *evil grin*

Mungkin ada di antara teman-teman sekalian yang sudah membuat postingan serupa? Feel free untuk membagi link-nya di kolom komentar.

***

12 komentar:

  1. iya, bener kang... bang radit sekarang kok rada garing ya tulisannya... -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kangen juga sama tulisannya. Dia kayaknya udah nggak ada keinginan buat nulis lagi ya?

      Hapus
    2. ngrasa lebih enak main film kali kang -_-

      Hapus
  2. Yang tawanan azkaban bagus itu sama si paling badung. Dulu pernah baca seri si paling badung minjem di perpus kota :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Aku memang sengaja memajang cover Azkaban karena buku itu yang paling berkesan buatku. :')

      Hapus
  3. *kasih tiang dan ember buat anak-anak asrama Hufflepuff* XDD

    Sama, seri Laskar Pelangi cuma buku pertama yg layak baca. Buku-buku selanjutnya seperti dipaksakan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. *menerima tiang dan ember dengan suka cita* Makasih, Ambu. :))

      Hapus
  4. hehe sy jg suka banget the hobbit dan harry potter. tapi eragon ga kalah.
    salam kenal, anyway :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai. Makasih sudah komen. Salam kenal juga.

      Hapus

Back to top