5 Sep 2014

Autumn in Paris by Ilana Tan

Judul: Autumn in Paris
Seri: Season Series #2
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal: 272 hlm.
ISBN: 9792230300

Sinopsis:
Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup… sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya… juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa… arti tak berdaya… Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup...

Seandainya masih ada harapan—sekecil apa pun—untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu...

Perhatian: Review ini mungkin mengandung spoiler dan sedikit racauan.

Summer in Seoul karya Ilana Tan sukses membuat saya jatuh cinta kepada sang penulis. Maka dari itu saya berharap banyak dari buku kedua dari Season Series ini. Apa mau dikata, ternyata saya susah menikmati Autumn in Paris.

Sebelum membahasnya lebih lanjut, izinkan saya untuk menceritakan sedikit tentang buku ini. Autumn in Paris berkisah tentang Tara Dupont, gadis blasteran Indonesia-Perancis. Orang tua Tara telah bercerai dan saat ini Tara memilih tinggal bersama ayahnya di Paris. Kepribadian Tara yang selalu ceria dan ceplas-ceplos membuatnya sangat cocok berkerja di salah satu radio yang cukup populer di Perancis. Ia juga digambarkan sebagai gadis romantis yang menyukai musim gugur. Tara naksir sahabatnya, Sebastien, tapi Sebastien hanya menggapnya sebagai adik.  Suatu saat, Sebastien memperkenalkan Tara dengan sahabat baiknya yang berasal dari Jepang yang bernama Tatsuya Fujisawa.

Tatsuya Fujisawa adalah seorang arsitek yang kebetulan sedang punya proyek di Paris. Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia bertemu dengan Tara. Diam-diam Tatsuya naksir gadis itu. Gayung bersambut (LOL, istilahnya jadul banget), perhatian Tara pun teralihkan dari Sebastien ke Tatsuya, yang menurut cewek itu menarik, karena selain memiliki wajah yang lumayan ganteng, ternyata bahasa Perancisnya juga lancar. Sebenarnya selain punya kerjaan di Paris, cowok Jepang itu juga ternyata memiliki misi lain. Misi apakah itu?

Hubungan antara Tara dan Tatsuya ternyata harus mengahadapi cobaan yang amat sangat berat sekali pake banget. Cobaan yang sangat pasti tidak ada jalan keluarnya. Dan pilihan yang ada hanya satu: Tara dan Tatsuya harus membuang jauh-jauh harapan mereka untuk memadu kasih (wuiiih). Lantas, hal apakah yang membuat keduanya tidak bisa bersatu?

Sejak awal saya menyukai cara Ilana Tan berkisah. Meski ceritanya dituturkan dengan bahasa yang ringan, namun emosinya tetap dapat tersampaikan dengan baik. Hanya saja, saya tidak menyukai konflik utama dalam novel ini (ini masalah selera saja). Tentu saya tidak akan menceritakan konflik utama tersebut karena akan menjadi spoiler bagi pembaca yang belum membaca novel ini. Tapi saya yakin, konflik yang tidak menarik bagi saya belum tentu tidak menarik bagi orang lain, bukan?

Saya merasa agak terganggu dengan banyaknya unsur kebetulan dalam novel ini. Di antaranya adalah tentang Tatsuya yang tiba-tiba harus bekerja di Paris, yang kebetulan sekali sejalan dengan misinya, dan kebetulan pula ia bertemu dengan gadis yang ternyata adalah… oke, yang terakhir itu nggak boleh dikasih tahu. Lalu ada lagi kebetulan di mana Tara menguping pembicaraan orang lain. Sampai dua kali loh, adegan tara menguping secara tak sengaja ini. Ada juga bagian cerita di mana Tatsuya mengalami kecelakaan. Dua kali. Dan keduanya terjadi di tempat kerjanya (malang sekali nasibmu, Tatsu… *pukpuk*).

Beberapa pengulangan adegan terjadi dalam novel ini. Coba simak adegan-adegan berikut ini:

  • Halaman 184: Tara menekan telapak tangannya ke dada. Sakit
  • Halaman 205: Tara mengangkat sebelah tangannya dan menempelkannya di dada. “Karena sakit sekali rasanya. Di sini. Sakit sekali, Sebastien.”
  • Halaman 241: Sebelah tangannya menopang tubuhnya di lantai, sebelah tangannya lagi memegang dada, berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerbu dirinya.
  • Halaman 248: Sebelah tangan Tara terangkat ke dada. Tarik napas… Keluarkan… Tarik… Keluarkan… Air matanya menetes. (Bukan, ini bukan adegan melahirkan.)


Apakah adegan pegang-pegang dada di atas karena tokoh utama kita menderita sakit jantung? Sama sekali tidak. Ia cuma sakit hati saja kok. Tapi sakit yang benar-benar sakit, sampai-sampai  ia nyaris bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan sambil pegang dada. Saya jadi berpikir kalau Tara agak sedikit berlebihan. Terutama soal pegang-pegang dada itu.

Saya baru benar-benar merasakan apa yang Tara rasakan menjelang akhir novel ini. Penulis sukses membuat dada saya sesak, meski tidak sampai membuat saya ikut-ikutan pegang dada seperti Tara, sih. Harus saya akui, paruh terakhir novel ini akhirnya menyedot seluruh perhatian saya. Bagi pembaca yang gampang meneteskan air mata, saya sarankan untuk menyediakan tisu banyak-banyak.

Secara keseluruhan, saya kurang puas dengan novel ini. Poin plus saya berikan bagi gaya bercerita sang penulis serta endingnya yang cukup menggungah.

11 komentar:

  1. "Apakah adegan pegang-pegang dada di atas karena tokoh utama kita menderita sakit jantung? Sama sekali tidak. Ia cuma sakit hati saja kok. Tapi sakit yang benar-benar sakit, sampai-sampai  ia nyaris bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan sambil pegang dada. Saya jadi berpikir kalau Tara agak sedikit berlebihan. Terutama soal pegang-pegang dada itu."

    Duh, kocak banget kak =))
    Terima kasih untuk reviewnya... kayaknya mau bacanya kalau dipinjemin aja deh, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. :))
      Tadi sempat main-main ke blogmu. I like it!

      Hapus
  2. Muahahaha :D Baca review ini kok perutku jadi mules ya x)
    Aku belum baca, tapi malah jadi penasaran :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Kiky, trims sudah berkunjung. Awas jangan kelamaan mulesnya. Hehe.
      Baguslah kalau penasaran sama buku ini. :) Mungkin cuma aku saja yang ngerasa kurang puas sama buku ini. Karena secara umum, rating buku ini di Goodreads bagus banget. ^^

      Hapus
    2. Adekku suka seri Ilana Tan, cuma aku sendiri belum baca :D Mungkin emang lebih cocok buat yang suka romance ala remaja2 gitu kali ya :P

      Hapus
  3. Telat baca inii... tapi tetep aja masih ngakak :D
    jd inget waktu di rumpiin di grup :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Seru banget ya ngerumpinya waktu itu.

      Hapus
  4. novel yang menarikkk.. sedih juga.. saya membaca nya aja sampai menangis tak terbaca ternyata mereka memiliki hubungan darah.. bener-bener kasih tak sampai.. tapi suka sama sifat tara duppont di sini..

    Numpang promo ya jangan lupa juga buat berkunjung ke blog saya:
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal
    terimakasih sebelumnya

    BalasHapus

Back to top