3 Sep 2014

Cewek!!! by Esti Kinasih

Judul: Cewek!!!
Penulis: Esti Kinasih
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005
Tebal: 424 hlm.
ISBN: 9792215158

(Buku ini adalah kado ultah dari Kak Vina. :D)

Sinopsis:
Susah deh kalo punya cowok pencinta alam. Malam Minggu tetep aja ngejomblo, soalnya mereka lebih memilih ngapelin gunung daripada ngapelin pacar!

Coba aja tanya pada Langen, Fani, dan Febi. Langen si keras kepala, pendukung emansipasi. Fani yang manis sebenarnya berjiwa pemberontak. Dan Febi yang ayu, masih berdarah ningrat. Apesnya, ketiganya berpacaran dengan tiga cowok gunung di kampus mereka.

Langen dan Rei jadian karena cinta, tapi lama-lama sering ribut. Fani pacaran dengan Bima karena terpaksa, lebih banyak ributnya daripada mesranya. Sedangkan hubungan Febi dan Rangga adem ayem aja.

Masalahnya: Rei, Bima, dan Rangga, tak pernah mengajak cewek mereka naik gunung, tapi bersedia jadi bodyguard Stella yang supergenit dan Josephine yang berbodi yahud. Jelas Langen jadi "gerah" dicuekin Rei.

Akhirnya, Langen cs menantang Rei cs kebut gunung alias dulu-duluan sampe puncak! Berhasil? Wah, emangnya cuma cowok yang jagoan? Tul, nggak?

Tadinya saya beranggapan bahwa konflik utama novel ini sesuai dengan yang disebutkan pada sinopsis di atas. Ternyata tidak. Bagian tersebut bisa dibilang hanyalah prolog novel ini. Jadi, gara-gara sering ditinggal oleh pacar-pacar mereka untuk pergi naik gunung, Langen, Fani, dan Febi memutuskan untuk menantang pacar-pacar mereka. Mereka kasal sih, karena selain dicuekin, cowok-cowok itu melarang mereka untuk ikut naik gunung. Alasannya seksis abis; karena naik gunung adalah aktivitas cowok. Cewek mending jaga rumah saja. Hellow, terus kenapa mereka malah ngajak Stella—cewek paling hot di kampus—untuk ikut naik gunung?

Langen cs pun memeras otak. Bagaimana caranya agar mereka bisa menang balap gunung (cepat-cepatan menuju puncak gunung) melawan cowok-cowok mereka. Memang sih dari segi fisik Langen, Fani, dan Febi tidak sekuat Rei, Bima, dan Rangga. Mereka juga belum punya pengalaman naik gunung sebelumnya. Jadilah Langen menggunakan cara curang untuk bisa sampai ke puncak. Hasilnya, mereka berhasil mengalahkan Rei cs! Para cowok tidak habis pikir, gimana caranya cewek-cewek itu bisa menang? Ejekan dan hinaan dari Langen cs benar-benar melukai harga diri cowok-cowok itu.

Para cowok berusaha untuk mencari tahu cara curang Langen cs, sementara Langen cs berusaha mati-matian tutup mulut, meski cowok-cowok mereka mengerahkan segala cara untuk mendapatkan informasi. Maklum, mereka penasaran sekali. Sebagian besar cerita novel ini akhirnya berkutat pada 'perang' antara cewek versus cowok. Pada akhirnya, giliran para cowok yang menantang Langen cs untuk mendaki gunung, yang kali ini mempunyai medan yang lebih berbahaya!

Bagaimana nasib Langen dan kawan-kawan? Berhasilkan mereka membuktikan bahwa mereka memang cewek-cewek tangguh?

Ini adalah kali pertama saya membaca novel karya Esti Kinasih. Thanks buat Kak Vina yang sudah menghadiahkan novel ini tahun kemarin (ebuset, hampir setahun ditimbun loh. *dijambak Kak Vina* Secara umum saya menyukai cara Esti Kinasih bercerita: penuh humor dan blak-blakan. Hampir di setiap lembar novel ini disisipi adegan humor. Tapi terkadang unsur humornya agak berlebihan. Misalnya, melibatkan adegan bersembunyi di tempat pembuangan sampah dan juga adegan bersembunyi di got. IYA LOH, BENERAN. Adegan komedi yang kayak gini malah mengingatkan saya pada film-film Warkop DKI, which is, agar berlebihan, apalagi dilakuin sama cewek-cewek cantik ini. (Er... semoga komen saya ini tidak dianggap seksis ya. ^^)

Cewek!!! Cover Baru, 2013
Tema utama novel ini tentang emansipasi, yang disuarakan lewat tokoh Langen. Saya menyukai tokoh Langen. Ia berjiwa bebas, tak kenal takut, dan tidak mau mengalah khususnya saat berhadapan dengan cowok. Selain menghadirkan tokoh pendukung emansipasi, penulis juga menghadirkan tokoh yang berlawanan dengan Langen. Ia adalah Febi, perempuan Jawa yang oleh Langen dianggap kolot, karena masih sangat menjunjung tinggi tradisi, di mana perempuan harus bersikap lembut, penurut, dan wajib berada di belakang laki-laki. Penulis menggambarkan tokoh Febi sebagai pribadi yang angkuh. Ia memandang remeh orang-orang yang bukan dari "kalangannya". Awal pertemanan Langen dengan Febi memang tidak mulus, tapi saya suka dengan perkembangan karakter Febi. Pada akhirnya ia menjadi pribadi yang lebih menyenangkan.

Dalam novel ini terdapat tiga pasangan kekasih yang saling angkat senjata, namun kisah Fani dan Bima-lah yang paling mencuri perhatian. Bima digambarkan sebagai pemuda sangar dengan pipi bercodet dan badan yang penuh bulu—sangar abis pokoknya! (Tapi tetap aja oleh Fani ia dijuluki orang utan, gorila, manusia yang gagal berevolusi, dsb). Bima yang playboy dan posesif dulunya menembak Fani dengan sedikit ancaman. Fani yang ketakutan terpaksa menerima Bima, padahal aslinya mah dia nggak cinta. Hubungan Fani-Bima yang unik inilah yang menarik perhatian dan tetap disajikan dengan penuh humor oleh penulis.

Yang agak menggangu saya... (maaf ini mungkin spoiler bagi yang belum membaca, silakan mengabaikan paragraf ini), adalah banyaknya adegan yang justru bertolak belakang dengan semangat yang hendak disampaikan penulis di awal cerita, yaitu kesetaraan gender. Langen cs yang ingin mengalahkan Bima cs memang menggunakan otak mereka, tapi tetap saja hal tersebut kecurangan. Apalagi dalam taktik mereka tersebut, Langen cs justru melibatkan cowok-cowok. Lah ini para cewek ngakunya nggak mau kalah dari cowok, tapi mereka teteup minta tolong sama cowok juga? Dilihat dari sudut pandang manapun, Langen dkk justru malah tampil sebagai cewek nggak bisa apa-apa tanpa cowok. Gara-gara itu, kenikmatan membaca saya jadi sedikit terusik. Atau jangan-jangan saya saja yang terlalu serius membaca novel ini? *nyengir*

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel ini. Dan saya tidak sabar untuk membaca sekuelnya yang berjudul Still, di mana fokus utamanya adalah hubungan Febi dan Bima. Menurut Peri Hutan, novel itu lebih banyak unsur romance-nya. Wah, wajib baca!

Rating:

11 komentar:

  1. ah lagi-lagi kebaca paragraf kedua dari akhir yang berujung agak spoiler -_-
    btw ini skalian rapel komen di beberapa postingan ye. thanks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah ninggalin komen. Lagi-lagi mengabaikan peringatan spoiler ya... sudah yang kedua kali loh ini. Hehe.

      Hapus
  2. hihihi, aku juga mau ngreview buku ini.
    setuju kalo sinopsis di belakang buku hanya sebagai prolog, tapi aku suka dengan keluar jalur tersebut, jadi lebih ngena ke karakter mereka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip. Abis ini langsung ke tkp-nya Ibu Peri deh. :D

      Hapus
  3. iya ya, sayang banget ada adegan curang >.< jadinya kayak tetep aja cewek kalah sama cowok, kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin penulis seharusnya bisa mencari pemecahan masalahnya dengan cara yang lebih kreatif, dan nggak melulu bergantung sama cowok.

      Hapus

Back to top