14 Sep 2014

Geek in High Heels by Octa NH

Judul: Geek in High Heels
Penulis: Octa NH
Penerbit: Stiletto Book , 2013
Tebal: 208 hlm.
ISBN: 9876027572

Sinopsis:
Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru:

Hai..... Nama saya Athaya. Seorang web designer. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish, suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku.
Saya sedang cari pacar calon suami.
Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya.
Oh ya, umur saya 27 tahun.
Sekarang kamu ngerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini? Yes, I’m absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng....


Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk jeda beberapa meja darinya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan orang, dan straight.

Athaya menghela napas, menyesap kopinya, dan meng-klik tombol: Publish!

geek
noun
—an unfashionable or socially inept person.
"His attempts to play a socially inept geek are awkward."

Kalau dari definisi yang saya googling di atas, kata geek mengacu kepada penampilan, atau orang yang kurang berkompeten dalam bersosialisasi. Tapi di novel ini, geek ternyata mengacu ke pekerjaan sang tokoh utama. Athaya, 27 tahun, web designer. Bagi penulis, pekerjaan yang berhubungan dengan coding dan sejenisnya adalah pekerjaan seorang geek. Masa sih? Padahal, selama ia tidak berpenampilan sebagai geek dan mampu bersosialisasi dengan baik, apa pun pekerjaannya, tak ada alasan untuk menyebutnya geek. Athaya selalu berpenampilan modis dan gemar mengoleksi high heels. Ia juga mampu bersosialisasi dengan baik. Jadi, menurut saya Athaya bukan geek.

Masalah Athaya hanya satu. Ia belum menikah. Yep, ini adalah salah satu novel tentang perempuan (Indonesia) yang belum menikah di usia yang menurut masyarakat kita sudah selayaknya menikah. Athaya bukan nggak laku. Dari penampilan, ia lumayan cakep (dan sama sekali nggak ada potongan geek dalam penampilannya, meski ia sendiri mengaku-ngaku dirinya geek. Duh!). Pekerjaannya juga oke. Meski bukan orang kantoran, ia selalu punya job. Athaya cuma apes aja, kehidupan cintanya kurang berjalan mulus. Apalagi ia pernah mengalami patah hati parah yang membuatnya susah move on.

Yang bikin kesal itu orang-orang di sekitar Athaya, terutama tantenya yang selalu rewel soal urusan percintaan Athaya. Sebal juga kan, kalau di setiap acara keluarga selalu ditanyai soal pasangan hidup? Seolah wanita yang belum menikah di usia seperti Athaya kayak dianggap aib (oke saya agak kebawa emosi). Padahal orang tua Athaya sendiri sebenarnya tidak memaksa Athaya. Yang rewel itu justru para tante dan sepupu-sepupu. Makanya tidak heran jika wanita itu memutuskan untuk menyelinap kabur dari acara pertunangan sepupunya dan mampir ke sebuah café.

Pembicaraan yang selalu mengarah ke hal jodoh dan pernikahan membuat suasana (dan makanan enak apa pun) jadi tidak menarik buat Athaya. Bayangkan!  Ketika kamu sedang asyik makan shrimp salad dan tiba-tiba ditanyai, “Apa kamu tidak sebaiknya cepat-cepat menikah saja?” Aku yakin shrimp salad itu rasanya tiba-tiba berubah seperti sandal jepit.

LOL. I know that feel bro, eh, sist. :))

Tapi kehidupan cinta Athaya tak melulu buruk. Buktinya, dalam novel ini, mendadak Athaya didekati cowok. Tak hanya satu, tapi dua cowok sekaligus! Kebetulan? Beruntung? You name it. Pertama adalah Ibra, salah satu klien yang meminta jasa Athaya untuk membuatkan web bagi perusahaannya. Kedua, adalah penulis novel best seller bernama Kelana, yang bertemu dengan gadis itu di acara peluncuran novel terbarunya. Athaya yang di awal cerita kebingungan mencari pacar, kini ia kebingungan menentukan siapa yang akan dipilihnya. Keduanya baik. Sama-sama tidak jelek. Sama-sama perhatian. Awalnya Athaya lebih sreg ke Kelana. Tapi cowok itu kok sering susah dihubungi ya? Sementara Ibra terlihat lebih bersemangat untuk untuk mendapatkan hati Athaya. Malah, bukti keseriusannya itu diwujudkan dengan cara melamar gadis itu. Jadi, lelaki manakah yang akhirnya dipilih oleh gadis pecinta sepatu hak tinggi ini?

Saya lumayan menikmati novel ini. Gaya bercerita Octa NH menarik untuk disimak. Penulis punya selera humor yang membuat saya betah membaca buku ini hingga lembar terakhir. Namun unsur cinta segitiga dalam novel ini terasa kurang menarik bagi saya. Sejak awal saya sudah bisa menebak siapa yang akan dipilih Athaya, tapi penulis mengajak pembaca berputar-putar dulu. Pembaca diajak untuk ikut bingung menentukan pilihan. Sayangnya itu tidak berhasil, setidaknya bagi saya. Saya malah jatuh kasihan pada tokoh yang akhirnya tidak dipilih Athaya, karena mengesankan ia hadir dalam novel ini hanya untuk menguatkan pilihan gadis itu. Untung ending cukup manis. Saya rasa banyak gadis yang akan meleleh bila berada di posisi Athaya. :)

Satu hal sangat menganggu kenikmatan membaca novel ini adalah ukuran hurufnya yang terlalu kecil. Saya jadi mikir, jangan-jangan fontnya sengaja dicetak sangat kecil agar jumlah halamannya tidak terlalu banyak? Bisa jadi sih, karena total halaman novel ini hanya 208 halaman saja. Sisi baiknya, harganya jadi nggak mahal-mahal amat. Haha. Saya suka novel yang harganya terjangkau, tapi kalau sampai mengorbankan kenyamanan membaca, terutama sampai bikin mata perih, ya nggak bagus juga kan?

Secara keseluruhan, novel ini okelah. Tidak terlalu wah, tapi juga tidak jelek. Saya berharap semoga karya Mbak Octa selanjutnya lebih baik lagi.

Rating:

6 komentar:

  1. aku juga kasian sama laki2 yg gak dipilih athaya... aduh, siapa namanya... lupaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak. Jangan sebut nama, nanti spoiler. :P

      Hapus
  2. baru baca buku stiletto sekali, kayaknya fokus ke perempuan yg masih lajang di usia mapan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Lis. Chicklit versi Indonesia. Tapi khas Stiletto buku2nya tipis ya?

      Hapus
  3. Dari sepenggal kutipan diatas, kok Athaya maen fisik banget nyari pasangan yah :| btw saya demen maen2 ke blog bro Opan. Cara ngereview-nya unik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Namanya juga fiksi bro. Eh tapi di dunia nyata banyak jg kan yang 'maen fisik'?

      Makasih ya, pujiannya. Baru kali ini ada yg bilang review saya unik. :p Btw unik gimana yak? *kepo*

      Hapus

Back to top