2 Jan 2015

Goodbye 2014, Hello 2015.


Kebiasaan saya, saat memposting hal-hal yang berhubungan dengan tahun baru, pasti selalu dimulai dengan kalimat, “Nggak terasa ya, sudah tahun baru lagi?”

Tahun 2014, bukan hanya terasa cepat berlalu, namun terlalu cepat berlalu. Perasaan baru kemarin deh, saya sedih galau merana karena terangkut gerbong mutasi, yang membat saya harus angkat kaki dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, setelah hampir 6 tahun saya mendiami kota seribu masjid tersebut. Saya masih ingat jelas di bulan Januari 2014, ketika diminta untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata pada acara perpisahan di kantor, yang mana saya berakhir dengan berlinang air mata. Berat sekali bagi saya untuk meninggalkan kota—oke, tepatnya kantor, di Mataram itu.

Awal Februari 2014, saya memulai lembaran baru di kota yang baru: Gorontalo. Harusnya saya gembira karena tempat saya bekerja kini tak begitu jauh dari rumah saya di Sulawesi Utara. Cukup dengan 8 jam perjalanan darat, atau kalau ingin lebih cepat, bisa naik pesawat dengan waktu tempuh hanya sekitar 30 menit. Apa mau dikata, saya susah move on. Hari-hari saya lalui dengan membandingkan antara tempat kerja yang baru dengan tempat kerja yang lama. Gorontalo vs Mataram. Saat ditanya oleh orang-orang, “Gimana di Gorontalo? Betah?” Selalu saya jawab, “Alhamdulillah saya betah di kotanya, tapi tidak di kantornya,” dan biasanya disusul dengan pertanyaan, “Kenapa begitu?” dan saya pun berkewajiban memberi penjelasan.

Namun untuk ukuran orang yang kurang betah di tempat kerjanya, saya terkejut juga mendapati bahwa saya cukup mudah menyesuaikan diri di tempat kerja yang baru, terutama dengan para pegawainya. Dan, coba lihat, saya bahkan tak menyadari bahwa saya sudah bekerja hampir setahun di kantor yang baru. Wow. Tapi bila kembali ditanya, “Jadi, betah kan, di Gorontalo?” Jawaban saya tetap sama. Hehehe.

Tahun 2014 secara keseluruhan cukup menyenangkan. Beberapa bulan pertama memang perlu penyesuaian. Tempat kerja yang baru, tempat tinggal yang baru, teman-teman baru, menu makanan yang bar—oh, ini mah nggak masuk hitungan, secara saya bukan pemilih untuk urusan makanan. Terkait hal-hal yang berhubungan dengan buku dan blogging, er… yah, begitulah. Target untuk membaca 50 buku terlampaui yaitu sebanyak 63 buku. Sementara ngeblog, jumlah postingan saya tahun 2014 tidak sebanyak tahun sebelumnya. Yang paling parah adalah reading challenge. Padahal saya hanya ikut 3 reading challeng—Baca dan Posting Bareng BBI, Indonesian Romance Reading Challenge, dan Lucky Number 14 Reading Challenge—dan semuanya gagal. :D

Reviu Resolusi 2014:

Resolusi #1: Segera mereviu buku yang telah dibaca.
Realisasi: Ternyata merealisasikan resolusi itu tidak segampang saat menetapkannya pertama kali. Namun untuk resolusi yang ini, saya telah berusaha cukup maksimal, meski tak semua buku yang saya baca pada akhirnya saya reviu.

Resolusi #2: Membaca buku-buku yang dibeli hingga akhir 2013 (alias menghabiskan timbunan).
Realisasi: Pfft. Timbunan bukannya habis malah semakin menggunung.

Resolusi #3: Membaca lebih banyak buku berbahasa Inggris, dan (kalau bisa) menulis reviu dalam bahasa Inggris. #Amin
Realisasi: Cuma 6 buku berbahasa Inggris yang dibaca. Tahun 2015 perlu ditingkatkan nih.

Resolusi #4: Mengurangi belanja buku. 4 buku sebulan cukup.
Realisasi: Hahaha. Yang ini gagal. Totally gagal.

Resolusi #5: Berusaha lebih sering blogwalking dan meninggalkan jejak (komen).
Realisasi: Blogwalking lebih sering jadi silent reader. Maafkan abang.

Resolusi #6: Membalas semua komen di blog ini. (Maaf ya, saya sering lupa membalas komen).
Realisasi: Masih sering lupa membalas komen. Maaf ._.

Resolusi #7: Liburan. Ini wajib. Karena sepanjang tahun 2013 saya tidak pernah liburan. Syukur-syukur ke luar negeri. #AMIN
Realisasi: *nangis*

Resolusi #8: Target turun berat badan: 10 kg.
Realisasi: Mungkin akan lebih bijaksana apabila kata “turun” diganti menjadi antonimnya. Terima kasih.

Yak. Banyak gagalnya. :D

Berkaca dari tahun sebelumnya, maka tahun 2015 ini saya tidak membuat resolusi apa-apa. Harapan, impian, dan cita-cita tentu saja tetap ada, dan saya berharap 2015 akan membawa lebih banyak kebaikan dan sukacita dibanding 2014…

…semoga.

11 komentar:

  1. Resolusi #2: Membaca buku-buku yang dibeli hingga akhir 2013 (alias menghabiskan timbunan).
    Realisasi: Pfft. Timbunan bukannya habis malah semakin menggunung.

    Resolusi #3: Membaca lebih banyak buku berbahasa Inggris, dan (kalau bisa) menulis reviu dalam bahasa Inggris. #Amin
    Realisasi: Cuma 6 buku berbahasa Inggris yang dibaca. Tahun 2015 perlu ditingkatkan nih.


    Untuk yang di atas, sama. Gagal juga. x))) Untuk yang berikut ini, tidak pernah bikin resolusi semacam itu karena sudah pasti gagal. x)))

    Resolusi #4: Mengurangi belanja buku. 4 buku sebulan cukup.
    Realisasi: Hahaha. Yang ini gagal. Totally gagal.

    Selamat tahun baru 2015, Opan. \m/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbok Dewwww. #terMput
      Selamat tahun baru juga. Semoga makin sukses dan nerbitin buku baru lagi. :)

      Hapus
  2. Resolusi tiap tahun: ngurangin timbunan buku dan berat badan.
    GAGAL! :')))
    *nangis*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, tahun ini coba lagi. Kali aja berhasil. :D

      Hapus
  3. Resolusi #1, #2, #4, #5, #8 setiap tahun... Tetap saja gagal :(
    Semangat, Kak Opan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo tahun ini coba lagi. Semoga berhasil. :)

      Hapus
  4. Hai Kak, tahun lalu ikutan Indonesian Romance Reading Challenge kan? Tahun ini ikutan lagi yuk ^^ Cek disini ya:
    bit.ly/IRRC2015

    Makasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yey, ternyata ada yang manggantikan Sulis untuk menjadi host RC keren ini. Iya tahun lalu aku ikut, dan gagal dengan sukses. *nyengir inosen* Tahun ini aku masih ragu bakalan ikutan atau nggak. ._.

      Hapus
  5. Aku dooonggg sukses ikut RC BBI dan RC Review Challenge #hidungmekrok.... Tapi jumlah review di blog menurun drastis dari tahun 2013 # nyusruksediiihhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling tidak RC utama bikinan BBI sukses ya, Mbak. Aku... aku... tahun lalu aku... aku lelah. Halah. #digampar

      Hapus

Back to top