21 Jan 2015

Take Me To Your Heart - Yuditha Hardini

Judul: Take Me To Your Heart
Penulis: Yuditha Hardini
Penerbit: GagasMedia, 2014
Tebal: 238 hlm.
ISBN13: 9789797807467

Sinopsis:
Bagiku, menemukan cinta semudah memecahkan teka-teki yang hanya perlu dihitung dan diukur probabilitasnya. Tak ada kata “menunggu” dalam kamus hidupku.

Namun, ternyata, masih ada perempuan yang percaya akan kekuatan penantian. Baginya, cinta sejati akan datang pada waktu, di tempat, dan kepada orang yang tepat. Lalu, entah bagaimana, aku ikut terjebak dalam sesuatu yang bertahun-tahun tak mungkin kulakukan: menanti.

Aku harus menanti sirnanya memori masa lalu dan rasa perih. Juga menanti kepingan rasa yang dialamatkan hanya pada hatiku. Kini, harapanku hanya satu: semoga menanti sesuatu yang tepat tak akan pernah membuatku kehabisan hari-hari yang pasti. Namun, ragu semakin menyergapku…

Pada suatu masa, tersebutlah seorang gadis cantik bernama Raisa (“Hai, Raisa…”). Raisa ini selain cantik, usianya juga sebaya dengan saya (kalau baca bukunya nanti pasti tahu kok). Dan sama seperti saya, dia juga jomblo. Owh. Tatian… *nangis bareng yuk, Raisa* *Raisa: “Ogah, yaaa.”*

Raisa sebenarnya tak memiliki masalah dengan status single-nya. Tapi tahu kan, masyarakat kita kayak gimana? Itulah mengapa Dina, sahabat Raisa, dengan penuh semangat berusaha meyakinkan Raisa untuk mencari pacar lewat… *siap-siap, bakalan deramak ini…* LEWAT BIRO JODOH! Eww. Hari gini, pake jasa biro jodoh buat ngedapetin pacar? No! A VERY BIG NO! Begitulah reaksi Raisa pada awalnya. Tapi berhubung Dina punya kemampuan ajaib dalam hal meyakinkan orang lain, maka Raisa pun terpaksa menyetujui saran Dina. (Ah Raisa, begitu mudahnya dirimu berubah pikiran).

Adalah Dewi Kamaratih, nama biro jodoh yang direkomendasikan oleh Dina. Dewi Kamaratih adalah biro jodoh ekslusif yang selalu berhasil mendapatkan pasangan yang cocok bagi para kliennya. Hampir semua klien yang menggunakan jasa biro jodoh Dewi Kamaratih nasibnya berakhir indah di pelaminan. Pemilik Dewi Kamaratih adalah Ambar, yang juga dikenal sebagai Mak Comblang nomor satu di Jakarta. Dewi Kamaratih disebut sebagai biro jodoh ekslusif karena tak sembarang orang bisa menggunakan jasa biro jodoh tersebut. Untuk menjadi klien, calon klien harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari klien sebelumnya. Ambar, si Mak Comblang, juga akan menilai apakah calon kliennya itu cukup pantas untuk memakai jasanya, sebab calon pasangan yang nantinya akan dicarikan oleh Ambar juga bukan sembarang orang. Kualitas top deh, pokoknya. Maka dari itu tarifnya juga tidak main-main. Muahal!

Dan untungnya, Raisa cukup pantas untuk mendapatkan perhatian Ambar. Lantas bagaimanakah nasib Raisa? Berhasilkah ia mendapatkan jodoh melalui biro jodoh Dewi Kamaratih? Pada bagian ini biasanya saya akan menulis, “baca sendiri bukunya, ya!” atau something like that. Tapi, belum, saya masih akan sedikit bercerita tentang buku ini (diusahakan nggak memberi spoiler yang krusial).

Dari ringkasan cerita di atas, mungkin pembaca akan menduga kalau tokoh utama novel ini adalah Raisa. Tapi sama seperti kalian, saya juga keliru. Saya pribadi menganggap novel ini punya dua cerita utama dengan dua tokoh utama. Tokoh pertama adalah Raisa, sebab cerita dimulai dari sudut pandangnya. Tokoh kedua, bisa ditebak, adalah Ambar. Yep, sebagian besar porsi cerita novel ini mengambil sudut pandang Ambar. Fokus ceritanya adalah usaha keras Ambar untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk Raisa, sebab ternyata mencarikan jodoh yang sempurna untuk gadis cantik itu tidaklah mudah. Raisa adalah klien pertama Ambar yang luar biasa keras kepala, yang selalu saja menemukan kekurangan dari setiap lelaki yang disodorkan oleh Ambar pada kencan pertama atau kedua (progres percomblangan bisa dibilang separo berhasil apabila para klien telah sampai pada kencan ketiga).

Berbulan-bulan telah berlalu namun belum ada tanda-tanda Ambar akan berhasil. Seiring berjalannya waktu, Raisa dan Ambar pun menjadi sahabat. Namun tetap saja, Ambar tak ingin menyerah mencarikan laki-laki yang sempurna buat Raisa. Bagaimanapun, nama baik biro jodoh Dewi Kamaratih sedang dipertaruhkan—biro jodoh yang katanya tak pernah gagal menjodohkan orang itu. Belum juga sukses dengan perjuangannya mencari jodoh untuk Raisa, Ambar harus berjuang mengatasi cinta masa lalu selalu membayangi dirinya dalam sosok pria yang selama ini menjadi rekan kerjanya di Dewi Kamaratih. Kesendirian Ambar pun dipertanyakan. Apa kata dunia apabila seorang Mak Comblang nomor satu di Jakarta justru tak becus dengan urusan percintaannya sendiri?

Nah, berhasilkan Ambar mendapatkan jodoh bagi Raisa? Selain itu, berhasilkan Ambar menemukan kebahagiaannya sendiri? Baca sendiri bukunya, ya! (finally, ngetik kalimat itu juga, hehehe).

***

Sebelum mereview buku ini lebih lanjut, saya mau ngucapin terima kasih buat Oky @ www.okydanbuku.com yang telah merekomendasikan buku ini ke saya. Pertama kali ditunjukin cover buku ini sama Oky, saya langsung jatuh hati. Covernya keren banget. Hanya saja, sewaktu tahu isi ceritanya banyak mengulas seluk-beluk perjodohan lewat biro jodoh, jujur saja saya sempat merasa kurang tertarik. Namun setelah membaca sendiri buku ini, ternyata saya sangat menikmatinya.

Ide ceritanya mungkin tak terlalu istimewa, namun yang membuat buku ini menarik adalah cara penulis menyampaikan ceritanya. Percakapan-percakapan dalam buku ini sangat cerdas. Melalui tokoh-tokoh di dalamnya, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama berdiskusi tentang percintaan, juga cara pandang perempuan terhadap laki-laki dan apa yang mereka harapkan dari laki-laki secara umum. Saya pun yakin banyak pembaca yang akan merasa relate dengan dengan beberapa adegan dalam buku ini. Pernah mengalami indahnya perasaan deg-degan saat jatuh cinta pada sahabat sendiri, tapi kemudian harus mengalami patah hati saat memutuskan lebih baik berteman saja? Nah, itu salah satunya. #bukancurhat

Take Me To Your Heart adalah buku pertama dari Yuditha Hardini yang saya baca, dan secara keseluruhan saya sangat menikmatinya. Ceritanya sangat mengalir. Penggemar buku-buku Ika Natasha kemungkinan besar akan menyukai gaya bercerita dalam buku ini. Saya, salah satunya. Sepanjang membaca buku ini, saya dibuat tersenyum oleh tingkah laku dan celutukan cerdas (terkadang bodoh, sih) para tokohnya. “Cute” mungkin adalah kata yang tepat untuk mendiskripsikan buku ini.

Meski demikian, ada yang ingin saya keluhkan dari buku ini. Pertama, bagian awal ceritanya agak sedikit membosankan. Syukurlah makin ke belakang, ceritanya makin seru. Dan saya berkali-kali terkecoh. Awalnya saya coba-coba mengira ceritanya akan mengarah ke mana, namun berkali-kali saya salah. Penulis cukup pintar untuk memberi kejutan yang tidak terduga bagi pembaca. Nice job, Mbak penulis! Keluhan kedua, adalah endingnya. Spoiler: endingnya bahagia kok, dan sama sekali di luar tebakan saya. Hanya saja, menurut saya penulis agak terburu-buru mengakhiri ceritanya. Padahal saya ingin proses menuju ending bahagia itu dibuat sedikit lebih berliku.

Overall, I really enjoyed this book. Saya suka dengan buku yang meninggalkan perasaan hangat di hati sewaktu menutup lembar terakhirnya. Dan buku ini sukses membuat saya merasakan kembali pengalaman tersebut. Pembaca yang tengah mencari bacaan ringan yang menghangatkan hati, silakan pilih buku ini. Buat pembaca cowok yang bingung bagaimana membuat kesan baik pada kencan pertama, buku ini juga punya tipsnya. :)

Saya jadi tak sabar menanti karya-karya Yuditha Hardini selanjutnya.

8 komentar:

  1. pengen deh ada lanjutannya, aku kesemsem sama cowok yang itu tuh, yang mirip kayak Harris XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih samaaa! Pengen ada lanjutan mereka dating and get married, model divortiare gitu jg gpp deh. Pengen bgt mereka buktiin bahwa mereka 99% *tuuuut* if you know what I mean hihi

      Hapus
    2. @Sulis and Oky: Si "D" ya, Lis? Setuju! Kayaknya bakalan seru kalau novel ini ada sekuelnya. Malah kalau perlu dibikin dua buku. Satunya cerita tentang Raisa (I love this girl, beneran ngebayangin Raisa si penyanyi cantik itu), satunya lagi tentang Ambar. Gimana? :D

      Hapus
  2. hehe aku malah ga suka-suka amat sama novel ini. Kurang enganging (apa ya bahasa Indonya?) aja menurutku. Btw, Kang Opan kalo mau coba ikutan jodoh-jodohan boleh lho ikut setipe.com punya temen saya *lha malah promosi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gyahahaha. Trims, Na. Nanti aku coba main-main ke situs itu. *sembunyi di semak-semak*

      Hapus

Back to top