29 Jun 2015

Opini Bareng BBI: Setting Favorit Dalam Buku

image source here, edited by me.
Entah mengapa saat mendengar kata latar/setting, yang nyantol di benak saya adalah latar tempat saja: hutan, kantin sekolah, kota kelahiran, goa, pasar, got, rumah bordil, dsb. Padahal, latar dalam sebuah cerita kan, nggak melulu tempat saja. Ada latar waktu (subuh, jam makan siang, masa lalu, masa depan, dll), bahkan latar suasana (tegang, santai, gembira, sedih, dll). Apakah ada latar lain selain tempat, waktu, dan suasana? Mungkin ada ya, tapi berhubung penyakit malasius guglingitis saya lagi kambuh, maka untuk postingan kali ini, saya hanya akan membahas latar tempat. Persisnya, latar tempat yang paling berkesan yang pernah saya temui dalam sebuah bacaan fiksi.

Dalam sebuah fiksi, baik kontemporer maupun fantasi, latar tempat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cerita. Bisa jadi, latar tempat itulah yang menjadi sumber konflik suatu cerita. Beberapa waktu yang lalu Gagas Media sempat sukses dengan seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) di mana setiap bukunya memiliki latar luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Paris: Aline karya Priska Primasari, London: Angel karya Windry Ramadhina, Melbourne: Rewind karya Winna Efendi, dan Bangkok: The Journal karya Moemoe Rizal. Dari judul-judul yang saya sebutkan tersebut, baru Bangkok: The Journal-lah yang sudah saya baca. Saya sangat menyukai buku tersebut karena dua hal: pertama, tema ceritanya yang sangat menyentuh. Kedua, latar kota Bangkok itu sendiri.

Bangkok, Thailand (sumber)
Saya kagum terhadap detail kota Bangkok yang diceritakan oleh Momoe Rizal dalam bukunya tersebut. Saking detailnya, saya dapat membayangkan diri saya seolah mengunjungi sendiri kota tersebut, padahal aslinya saya tak pernah ke sana. Saya kurang tahu apakah Moemoe Rizal memang pernah mengujungi Bangkok dan telah menjelajahi setiap sudut kota itu sehingga mampu memberikan deskripsi yang meyakinkan bagi pembaca. Dari beberapa informasi yang saya baca, ternyata tak semua penulis cerita berlatar luar negeri pernah mengunjungi mengunjungi negara yang menjadi setting cerita bukunya. Thanks to Google Map yang membuat segalanya menjadi mungkin, termasuk mendapat informasi suatu negara/kota secara lengkap dan detail.

Seoul, Korea Selatan (sumber)
Buku lain berlatar luar negeri yang saya sukai adalah Infinitely Yours karya Orizuka. Setting ceritanya adalah Korea Selatan. Nah, kalau yang ini saya tahu betul bahwa bahwa saat menulis buku tersebut Orizuka sama sekali belum pernah mengunjungi Korea Selatan. Orizuka mengaku bahwa ia melakukan banyak riset terutama dari Google Map, sehingga ia mampu membuat cerita dengan setting Korea Selatan yang cukup meyakinkan bagi para pembacanya. Membaca Infinitely Yours membuat saya seolah diajak berwisata gratis ke negeri ginseng tempat lahirnya si kembar tiga yang luar biasa imyut itu; siapa lagi kalau bukan Daehan, Minguk, dan Manse! Hehe. (Fokes, Pan. Fokes).

Nah, itulah dua judul buku dengan setting dunia nyata yang bagi saya sangat menarik.

Bagaimana dengan setting dunia fantasi? Mungkin kamu sudah tahu bahwa saya termasuk pembaca yang menyukai cerita-cerita fantasi. Salah satu kekaguman saya kepada para penulis fantasi ialah pada kemampuan mereka dalam membangun dunia khayalan dari hasil imajinasi mereka sendiri. Sebut saja Hogwarts dari serial Harry Potter karya J.K. Rowling. Siapapun yang menyukai cerita Harry Potter pasti bakalan sepakat dengan saya kalau Hogwarts adalah salah satu setting cerita fantasi paling keren dalam dunia literatur. Hampir semua bagian sekolah tersebut digambarkan dengan sangat baik dan unik oleh J.K. Rowling, sampai-sampai saya berharap semoga Hogwarts benar-benar ada di dunia nyata. Sayangnya, sampai umur segini, saya belum juga mendapatkan surat dari Hogwarts. *sedih*

Hogwarts (sumber)
Satu lagi setting dunia fantasi yang luar biasa, yang menurut saya sulit ditandingi oleh penulis fantasi manapun, yakni Middle-Earth karya J.R.R. Tolkien. Penyuka buku atau film The Hobbit dan The Lord of The Rings pasti tahu betul apa itu Middle-Earth. Middle-Earth adalah sebuah benua (((BENUA))) rekaan yang menjadi setting dari cerita The Hobbit dan trilogi The Lord of The Rings. Dengan setting tempat yang luar biasa masif tersebut, penulis tetap memperhatikan detail-detail di dalamnya,  termasuk makhuk hidup yang menghun Middle-Earth. Saya rasa tak akan ada habisnya jika membahas Middle-Earth. Maka untuk mempersempit, saya akan membahas dua lokasi yang menjadi favorit saya di Middle-Earth, yaitu The Shire dan Rivendell. Saking sukanya, saya berharap bisa mengunjungi kedua tempat tersebut.

The Shire, Middle-Earth (sumber)
The Shire adalah sebuah perkampungan para hobbit. Saya dapat membayangkan diri saya nyusuri jalan-jalan di Shire, menikmati senja yang indah dengan sebatang pipa rumput terselip di bibir. Saya akan meminta izin kepada salah satu hobbit di sana, mungkin kerabat dekat Frodo yang bernama Sam, untuk menginap selama satu atau dua malam di Liang mereka yang hangat. Saya yakin Sam yang baik hati tak akan merasa keberatan. Selain itu, saya sangat ingin mencicipi hidangan makan malam ala hobbit yang selalu melimpah (mereka hobi makan). Hehe.

Rivendell, Middle-Earth (sumber)
Selanjutnya adalah Rivendell. Mungkin bakalan sulit mengunjungi tempat tersebut sebab para elf jarang sekali menerima tamu, terutama manusia. Tapi mengingat salah satu elf cantik di sana telah menikah dengan raja manusia, mungkin mereka akan sedikit melunak dan mau menerima kunjungan saya. Suhu di sana kemungkinan sangat dingin (ini cuma dugaan sotoy sih). Para elf barangkali tak masalah soal suhu yang dingin. Mereka kan, sering berkeliaran ke mana-mana dengan mengenakan baju berbahan sutera yang tipis. Kalau kita para manusia sih, membawa jaket selama berada di Rivendell saya kira adalah hal yang bijak. Tidak mau kan, masuk angin saat berada di salah satu tempat terindah di Middle Earth, dan ujung-ujungnya malah merepotkan para elf? *mimpi*

Jadi, itulah beberapa setting favorit dari cerita fiksi yang pernah saya baca. Kalau kamu?

4 komentar:

  1. Kalau setting lokal, ada ngga kang? *ditanya malah balik nanya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Er... setting lokal favorit sebenarnya banyak sih, Mbavin. Tapi kebanyakan dari buku2 nonfiksi kayak seri The Journeys dan Naked Traveler. Sementara cerita fiksi lokal yang aku baca umumnya bersetting di Jkt. :))

      Hapus
  2. Kayanya cantikan Lothlorien daripada Rivendell :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya ya, kampungnya Galadriel! Hutan blink-blink kalau versi movie The Hobbit.

      Hapus

Back to top