28 Mei 2013

Reuni by Ayu Gendis

Judul: Reuni
Penulis: Ayu Gendis
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal: 232 halaman
ISBN: 9789792287387
Rating: 2/5

Sinopsis:
Old friends, just new problems...

Lima wanita—Sri, Ajeng, Nunik, Yunika, dan Leila—yang berteman di masa kecil mengadakan reuni di kampung halaman mereka. Setelah berpisah belasan tahun, ternyata semuanya tak lagi sama.

YUNIKA, hidupnya penuh kepalsuan. Bergelimang harta, tetapi tak bahagia. Suaminya tak pernah benar-benar mencintainya, bahkan sudah bukan rahasia lagi suaminya yang terkenal playboy memiliki WIL.

NURLEILA, mantan pemain-sinetron-tak-laku yang gila harta dan menghalalkan segala cara, sampai-sampai rela hanya menjadi wanita simpanan seorang anggota DPRD.

NUNIK, angka 3 sepertinya akrab dalam hidupnya. Ia janda yang telah 3 kali menikah dengan 3 pria dan memiliki 3 anak. Ia single mother.

AJENG, jomblowati sejati. Kepulangannya ke kampung halaman mempertemukannya kembali dengan mantan pacar, yang masih ia cintai dan mencintainya.

SRI, wanita yang lugu dan lurus. Tetapi, siapa yang menduga jalan hidupnya berakhir tragis?

Reuni membuka banyak rahasia kehidupan dan persahabatan mereka.
Bukan sekadar ajang untuk melepas kangen.

Buku ini berkisah tentang lima teman masa sekolah yang akan menghadiri reuni. Setelah sekian lama tak berjumpa dan tak saling bertegur sapa, kini segalanya tak sama lagi. Yunika, hidupnya cukup mapan setelah menikahi pengusaha kaya, namun sayang sang suami gemar berbuat serong. Leila, seorang pemain sinetron yang tak terlalu berbakat namun materialistis, kini menjadi istri simpanan anggota DPRD. Nunik, adalah janda yang memiliki tiga anak dari tiga pernikahan berbeda. Ajeng, seorang pelukis yang mengasingkan diri di Ubud, tak pernah membuat komitmen dengan laki-laki sebab tak ingin terikat, masih menyimpan rasa pada mantan pacarnya. Terakhir Sri, istri jablay yang ditinggal suaminya bekerja di Arab, diam-diam mulai menjalani hubungan dengan pria lain. Kelimanya dipertemukan lagi dalam sebuah reuni yang tanpa diduga berubah menjadi bencana. Terungkapnya rahasia mengejutkan membuat mereka sadar, bahwa mereka ternyata mereka tak lagi saling mengenal satu sama lain.

Paragraf di atas adalah isi keseluruhan buku ini. Ya, buku ini memang tidak terlalu kompleks. Padahal tadinya saya penasaran banget begitu membaca sinopsis di cover belakang buku ini. Pasti bakalan seru nih, reuni antara teman-teman yang dulunya akrab namun sudah lama tak bersua. Akan tetapi, buku ini malah lebih banyak menceritakan masa lalu dari lima tokoh yang saya sebutkan di atas. Hampir lebih dari setengah isi buku ini membahas masa lalu pada tokoh. Tidak salah memang. Tapi menurut saya agak membosankan. Penulis hanya membeberkan informasi mengenai si A atau si B, misalnya, apa yang terjadi padanya di masa lalu hingga kini, namun sama sekali tak melibatkan emosi pembaca atau membiarkan pembaca sendiri yang menentukan apakah tokoh itu menyenangkan atau tidak. Contohnya tokoh Leila. Penulis semangat betul membeberkan informasi tentang betapa menyebalkannya tokoh ini, dan hanya menyisakan sedikit sekali ruang bagi pembaca untuk menentukan penilaian sendiri.

Saya akhirnya mengalami kendala dalam berempati kepada masing-masing tokoh. Yunika yang tajir tapi jablay, Sri yang lugu dan juga jablay, Ajeng yang tidak jablay namun selalu galau, Leila yang cuma puas jadi simpanan. Untuk Nunik, saya bisa sedikit merasa kasihan pada tokoh single mother 3 anak ini, tapi tak sampai betul-betul prihatin. Dan, ini pribadi sih, saya merasa kesulitan membedakan tokoh-tokohnya, setidaknya di awal proses membaca. Berkali-kali saya mengintip cover belakang untuk memastikan tokoh mana yang sedang diceritakan. Meskipun penulis mencantumkan nama para tokoh di awal narasi, saya merasa perlu untuk memastikan siapa tokoh ini dengan cara membaca penjelasan singkat tentang masing-masing tokoh pada cover belakang novel.

Acara reuninya sendiri, yang tadinya saya pikir bakalan seru, malah tidak terlalu berkesan—kecuali bagian ‘bencana’nya. Entah mengapa saya merasa penulis terlalu terburu-buru menuntun pembaca menuju klimaks cerita (iya, sok tahu sekali saya). Pada bagian yang seharusnya merupakan twist tersebut, saya malah mati rasa. Lempeng aja gitu.

Oh ya, ada satu sindiran menarik dari buku ini, berikut saya kutip: Ia baru sadar, betapa kadang yang namanya teman pun tak lagi mengenal baik satu sama lain. Sekadar status saja. Mereka tampak ramah di luar. Tampak begitu saling mengenal di jejaring sosial, tetapi siapa sih yang tahu hati manusia? Atau bahkan perasaan mereka? (hlm. 200) Hayo... seberapa kenalkah kamu dengan teman-temanmu di jejaring sosial?

Secara keseluruhan, novel debut Ayu Gendis ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Bahasanya rapih dan runut. Seandainya penulis lebih berpijak pada unsur ‘show’ dan bukannya ‘tell’, buku ini pasti akan lebih baik lagi. Ditunggu karya-karya selanjutnya, Mbak Ayu. Keep writing! Cemungud! #apasiii

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top