2 Agt 2014

Catching Fire - Suzanne Collins

Judul: Catching Fire (Tersulut)
Seri: The Hunger Games #2
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2010
Tebal: 424 hlm.
ISBN: 9789792259810

Sinopsis:
Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan-nya. Satu-satunya cara untuk meredakan kegelisahan penduduk adalah membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa ada keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya....

Review ini mungkin mengandung spoiler buku sebelumnya.

Setelah keluar sebagai pemenang pada Hunger Games ke-74, Katniss dan Peeta harus menjalani tur kemenangan di setiap Distrik, tujuannya agar kengerian Hunger Games tidak hilang dari benak masyarakat Distrik. Hubungan Katniss dan Peeta mulai berjarak, setelah Peeta mengetahui bahwa kebersamaan mereka selama di arena hanyalah bagian dari strategi Katniss dan Haymitch untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua. Di sisi lain, Katniss sendiri masih bimbang, apakah yang ia memang tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Peeta?

Sementara itu, Presiden Snow yang murka atas tindakan Katniss di akhir Hunger Games yang telah menyulut api pemberontakan di beberapa Distrik, ternyata mengetahui sandiwara yang dimainkan Katniss dan Peeta. Snow juga tahu perihal hubungan Katniss dan Gale. Maka ia mendatangi Katniss secara langsung dan mengemukakan ancamannya. Ia ingin agar Katniss meredam kemarahan Distrik terhadap Capitol. Bila Katniss menolak, ia akan pembunuh semua orang yang disayangi Katniss. Maka dimulailah tur kemenangan Katniss dan Peeta bersama tim mereka, yaitu Haymitch, Effie, Cinna, dll. Akan tetapi, tur tidak berlangsung seperti yang diharapkan Katniss dan Presiden Snow. Malah pada tur di Distrik 11, orang-orang justru menanggapi pidato Katniss dan Peeta yang menyentuh sebagai ajakan untuk memberontak, sampai-sampai Penjaga Perdamaian menembak mati beberapa orang di sana.

Katniss juga sempat bertemu dengan dua orang pelaraian dari Distrik 8 yang tengah menuju ke Distrik 13, yang seharusnya sudah dihancurkan oleh Capitol dengan bom atom puluhan tahun silam. Sebenarnya ada apa di Distrik 13?

Akhirnya perayaan Hunger Games ke-75 pun tiba. Hunger Games kali ini lebih spesial karena telah memasuki Quarter Quell ke-3. Quarter Quell diadakan setiap 25 tahun, dan di setiap Quell peraturan Hunger Games berubah. Pada Hunger Games ke-25 (Quell pertama), para peserta ditunjuk langsung oleh masing-masing Distrik. Pada Hunger Games ke-50 (Quell kedua) peserta yang ditunjuk jumlahnya dua kali lipat dibanding yang biasanya. Kini, pada Hunger Games ke-75 (Quell ketiga), peserta yang ditunjuk berasal dari para pemenang Hunger Games tahun-tahun sebelumnya. Kuat dugaan peraturan baru ini dimanipulasi oleh Presiden Snow sendiri, sebab ia sangat ingin Katniss terbunuh, dan dengan demikian dapat memadamkan api pemberontakan.

Singkat cerita, Katniss dan Peeta kembali lagi ke arena pertarungan maut. Harapan hidup kali ini jauh lebih sulit bagi keduanya, karena para peserta adalah para pemenang yang keahlian membunuhnya sudah terbukti. Bagaimana cara Katniss berjuang kali ini?

Catching Fire yang diterjemahkan menjadi Tersulut, benar-benar menggambarkan isi buku ini. Suanana cerita yang tegang dan penuh ancaman. Bila umumnya dalam sebuah cerita serial, buku kedua selalu dinobatkan sebagai buku yang tidak seseru buku pertama, maka hal tersebut tidak berlaku bagi Catching Fire. Malahan, buku kedua ini lebih seru dibanding buku pertama, terutama setelah kehadiran Presiden Snow yang mengancam Katniss secara personal. Aura jahatnya sanggup membuat merinding (saya yakin sekali dia bisa jadi sobat kental Voldemort).

Bagian yang saya tunggu-tunggu dalam buku ini tentu saja adalah arena Hunger Games-nya. Berbeda dengan arena di buku pertama yang terkesan random dengan jebakan-jebakan yang disesuaikan dengan mood para juri permainan, arena di buku kedua ini lebih jelas dan terpola. Setiap jebakan tidak muncul sembarangan, tapi sudah ditentukan secara otomatis. Hal ini membuat para peserta lebih mengandalkan kemampuan mereka dalam merencanakan strategi untuk menang. Tokoh peserta Hunger Games ke-75 ini juga tidak kalah menarik, mengingat mereka semua sudah pernah memenangi permainan yang sama. Dua tokoh peserta baru yang menarik perhatian saya adalah Finnick dan Johanna. Kalau ditanya mengapa, mending baca sendiri aja ya. Hehe.

Banyak cukup banyak twist di buku ini. Tapi tentu saja saya tak akan membocorkannya di sini. Yang jelas, setelah membaca buku kedua ini, saya tak lagi memandang Haymitch dengan cara yang sama. *dibekep*

Oh ya. Bagi pembaca yang menyukai romansa, buku ini tak melulu bunuh-bunuhan atau bakar-bakaran kok. Interaksi Katniss dan Peeta semakin manis di buku ini. Tapi... Katniss sendiri masih belum yakin dengan perasaannya, karena ia juga punya perasaan khusus terhadap Gale. Bila dibandingkan dengan buku pertama, Gale mendapat porsi lebih banyak di sini, walau secara umum Peeta tetap mendapat perlakuan spesial dari pengarang. Saya pribadi mendukung Katniss-Gale. By the way, meski sepintas buku ini mengandung unsur cinta segitiga, tapi kadarnya tidak sampai bikin muak, terutama jika dibandingkan dengan Twilight Saga (jangan salah paham, saya fans Twilight Saga kok).

Secara keseluruhan, Catching Fire adalah sekuel yang bagus sekali. Pembaca yang menyukai buku pertama pasti tidak akan kecewa dengan apa yang disajikan dalam buku ini. Ceritanya lebih kelam, karakter-karakternya lebih tergali, dan keseruannya pun lebih... seru. (Ngomong opo to Pan?). Pokoknya itu deh. Intinya, buku ini keren. Wajib baca. 5 bintang. :)

*

2 komentar:

  1. buku favoritku dari seri Hunger Games! Aku sudah suka dengan Haymitch sejak kemunculan di buku pertama, dia jenius :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku memfavoritkan buku pertama. Mungkin karena buku pertama adalah perkenalan yang menyenangkan buatku terhadap genre dystopian. Haymitch memang genius. Tapi tokoh favoritku nomor 1 tetap Katniss. :D

      Hapus

Back to top