23 Feb 2014

Percy Jackson and The Olympians #1: The Lightning Thief by Rick Riordan

Judul: Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief
Seri: Percy Jackson and The Olympians #1
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Mizan Fantasi
Tebal: 454 hlm.

Sinopsis:
Percy Jackson-dua belas tahun, penderita diseleksia-hampir dikeluarkan dari sekolah asramanya... lagi. Tetapi, itu hanya sedikit saja dari sekian masalah yang menantinya. Monster-monster dan dewa-dewi dari Gunung Olympus tampaknya berebutan keluar langsung dari buku pelajaran Sejarah Yunani milik Percy. Lebih parah lagi, Percy telah membuat beberapa di antara mereka marah besar. Petir asali milik Dewa Zeus telah hilang dicuri, dan Percy adalah tersangka utamanya.

Kini Percy dan dua orang kawannya hanya punya waktu sepuluh hari untuk mencari dan mengembalikan benda keramat tersebut, serta mendamaikan kembali perang yang hampir pecah di Gunung Olympus. Tetapi, tantangannya jauh lebih berat dari itu, Percy akhirnya harus berhadapan dengan kekuatan mengerikan yang bahkan lebih hebat dibanding para dewa sendiri.

Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief adalah buku pertama dari rangkaian petualangan Perseus Jackson bersama para dewa-dewi Yunani yang cukup fenomenal di kalangan para pencinta buku. Sudah lama saya ingin memiliki buku ini, dan akhirnya kesampaian juga setelah salah satu rental komik di Gorontalo menjual kelima seri Percy Jackson and The Olympians dengan diskon 50% ke saya. Kondisi bukunya memang jauh dari mulus. Tapi mendinglah, dibanding beli baru yang harganya lebih mahal. Hehe. #bloggerkere

Percy Jackson, bocah 12 tahun penderita diseleksia dan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas). Karena dianggap nakal, ia sering pindah-pindah sekolah. Terakhir, ia disekolahkan di Akademi Yancy, sekolah swasta untuk anak-anak bermasalah di New York Utara. Di Yancy inilah Percy mulai bertekad untuk untuk menjadi anak baik-baik. Sayangnya, masalah-lah yang justru mendatangi Percy. Saat sekolahnya mengadakan tur ke sebuah museum tentang peradaban Yunani dan Romawi Kuno, ia tiba-tiba diserang oleh guru matematikanya yang ternyata adalah monster bersayap yang luar biasa jelek. Percy berhasil selamat berkat pulpen pemberian guru sejarah favoritnya. Pulpen tersebut dapat berubah menjadi pedang, dan Percy beruntung sekal  bisa selamat dari serangan si monster. Namun, nyawa Percy masih terancam, karena ternyata mereka telah mengetahui keberadaan Percy.

Oleh ibunya, Percy diungsikan ke sebuah perkemahan musim panas. Dalam perjalanan ke sana, Percy kehilangan ibunya setelah diserang oleh minotaur, monster yang setahu Percy hanya hidup dalam mitologi. Kini dunia tak lagi sama bagi Percy. Di perkemahan musim panas tersebut, Percy akhirnya mengetahui bahwa dewa-dewi Yunani kuno bukan hanya sekadar mitologi. Mereka benar-benar nyata, dan punya banyak keturunan hasil kisah asmara mereka dengan manusia (aww). Di Perkemahan Blasteran inilah Percy mengetahui segalanya. Dinamakan Perkemahan Blasteran, karena para penghuninya adalah anak-anak keturunan dewa, termasuk Percy. Percy sendiri adalah putera dari Poseidon, dewa laut.

Di dunia dewa rupanya sedang mengalami kehebohan, lantaran petir asali (lightning bolt) milik Zeus telah dicuri dan Percy-lah yang ditujuh sebagai pencurinya. Meski berkali-kali menyangkal hal tersebut, Percy tetap tak punya pilihan, selain mencari senjata milik Zeus yang hilang tersebut dan mengembalikannya kepada Zeus dalam waktu 10 hari. Bila tidak, para dewa akan saling berperang, dan manusialah yang akan menerima dampak buruknya. Dengan ditemani oleh dua sahabatnnya: Grover (si Satir. Ingat Satir di film Narnia? Seperti itulah) dan Annabeth (anak perempuan Athena), mereka pergi menjalani misi yang nyaris mustahil. Tujuan utama mereka: Dunia Bawah, rumah Hades, yang mereka curigai sebagai si pencuri petir asali. Percy juga yakin bahwa ibunya masih hidup dan ditawan oleh Hades.

Berhasilkah Percy dan kawan-kawan menemukan petir asali milik Zeus dan menyelamatkan ibu Percy? Atau, mereka malah berakhir menjadi penghuni neraka dan disiksa habis-habisan oleh Hades? Temukan jawabannya dalam Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief karya Rick Riordan.

***

Oh, my God! Saya suka sekali buku ini. Agak menyesal karena telat membaca seri yang sangat menghibur ini. Alur ceritanya cepat dan penuh dengan aksi. Saya menyukai imajinasi Rick Riordan dan cara berceritanya yang seolah-olah ingin menyakinkan pembaca bahwa dewa-dewi Yunani memang ada. Saya menyukai suasana Perkemahan Blasteran dan para penghuninya (mereka dilatih untuk bertarung, karena pada dasarnya anak-anak keturunan dewa selalu berada dalam bahaya). Di perkemahan inilah mereka mendapat perlindungan.

Unsur humor dalam buku ini sangat kental, mulai dari Percy yang sarkastis namun konyol, kepala perkemahan (sang dewa anggur) yang suka menggerutu, dewa Ares yang digambarkan sebagai pengendara motor gede yang badannya seperti salah satu pegulat Smack Down, Hades yang mengeluhkan betapa banyaknya pengeluaran untuk mengurus neraka, dsb. Bahkan, judul setiap babnya saja sudah mengundang tawa. Dialog dalam novel ini juga cerdas dan tak membosankan. Menurut saya, terjemahan buku ini cukup kreatif. :)

Pada beberapa hal, saya merasa buku ini mirip dengan serial Harry Potter. Misalnya trio Percy-Grover-Annabeth, yang mirip dengan Harry-Ron-Hermione. Perkemahan Blasteran mirip Hogwarts. Para manusia setengah dewa penghuni Perkemahan Blasteran tinggal di pondok-pondok yang dipisahkan berdasarkan orang tua mereka. Misalnya, Pondok Athena, Pondok Ares, Pondok Hermes, dst. Sangat mirip dengan konsep asrama di Hogwarts, bukan? Dan bila dunia sihir dalam Harry Potter tak terlihat oleh para Muggle (manusia biasa), begitu pula dengan buku ini. Ada semacam tudung sihir yang membuat manusia biasa tak bisa melihat dunia yang berhubungan dengan para dewa. Anehnya, dari banyak aspek dari buku ini yang begitu mirip dengan dunia Harry Potter, saya sama sekali tidak merasa terganggu, malah sangat menikmatinya.

Meski demikian, saya merasa sedikit kurang nyaman dengan fakta bahwa terdapat banyak kebetulan dalam buku ini. Bahkan, untuk ukuran manusia setengah dewa, Percy tampaknya selalu diberi kemudahan. Mulai dari dengan mudahnya ia selamat saat melawan monster guru matematika, selamat setelah bertarung dengan minotaur, hingga diberi bantuan oleh salah satu penghuni laut berupa 3 kelereng ajaib (uhm, saya lupa apa persisnya nama ketiga benda ajaib pemberian dewi laut itu). Endingnya juga terlalu mudah ditebak.

Meski demikian, bisa dikatakan buku ini merupakan permulaan yang luar biasa dari seri Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia. Gaya bercerita Rick Riordan sangat menyenangkan. Saya juga suka hampir semua karakter di buku ini, bahkan karakter yang paling jahat sekalipun karena Rick Riordan tak pernah lupa memasukkan unsur-unsur humor pada setiap karakter dalam buku ini. Jadi, agak sulit untuk membenci karakter telah membuat saya tertawa meski mereka antagonis. Oh ya, melalui buku ini, para pembaca (setidaknya saya) akhirnya dapat mempelajari sejarah dewa-dewi Yunani dengan cara yang sangat menyenangkan! I really love Rick Riordan!

Uhm, sebagai penutup, saya mau memberi sedikit pesan bagi dewa-dewi Yunani: tolong dong, jangan terlalu kegatelan. Doyan amat ngerayu manusia dan bikin anak, abis itu anak-anaknya dicuekin. =)) *kabur sebelum dikutuk para dewa*

7 komentar:

  1. Nanti di seri berikutnya, sudah ngga trio Percy-Annabeth-Grover lagi kok.

    Ayo, lanjutkan!!!

    BalasHapus
  2. LOL emang dewa-dewinya kegatelan buku cabang anak XD
    Nice review, Yovano, dunia imajinasi ciptaan Rick Riordan emang keren. Saya ga baca HP jadi ga tau ternyata ada kemiripan :D
    btw saya juga telat bacanya, ini baru sampe nomor 3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims. Saya juga baru baca sampai nomor 3. Sementara berhenti karena lagi baca buku untuk posbar BBI. Coba baca aja baca Harry Potter. Nggak kalah seru kok.

      Hapus

Back to top